Jumat, 30 Mei 2014

Upaya Mendigitalisasikan Budaya


Kumpulan Essai, Kekuatan Media Sosial, Natural Unila. 07 Mei 2013

Semangat masyarakat umum sekarang adalah semangat untuk beramai – ramai berkicau di media sosial. Dengan adanya media sosial mereka saling menujukkan jati diri, berkomunikasi seakan ada di depannya, bahkan perang adu mulut pun sering dilakukan di media sosial. Tidak hanya itu, beragam postingan mengenai segala sesuatu dapat di – upload, apapun bentuknya.

Dapat dikatakan bahwa masyarakat sekarang tengah menggandrungi media sosial sebagai cara untuk berkomunikasi, padahal mereka berkomunikasi secara sederhana sebagaimana yang dinyatakan Harold Lasswell siapa, berbicara tentang apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya (Littlejhon, 1996).

Hal ini sangat mengacu kepada kebutuhan informasi para pengguna media sosial. Mereka terkadang malas untuk mendapatkan informasi di tempat – tempat sumber informasi dan dengan bantuan media sosial mereka dapat memangkas jarak dan waktu. Begitu juga mereka sangat mungkin menjadi seorang yang apatis terhadap lingkungan sekitar, hal ini didasar karena adanya kecanduan yang berlebihan karena kemudahan yang diberikan. Banyak sekali kejadian karena dengan berkomunikasi secara sederhana tersebut seorang istri dapat kawin lari dengan orang yang diajak chatting dan seorang siswi dapat diculik karena alasan yang sama.

Berbicara mengenai media sosial tidak dapat terlepas dari peran teknologi itu sendiri, suatu saat ini akan menjadi sebuah budaya di tengah – tengah budaya asli Indonesia. Bahkan terlebih dapat menjadi sebuah budaya yang dapat menggeser nilai – nilai moral, misalnya saja kemudahan yang diberikan media sosial membuat kita dapat berbicara maaf – memaafkan kepada mereka yang bersalah, budaya salam – menyalami akan hilang, mendigitilasikan budaya saling menyalami menjadi digitalisasi. Padahal dibalik kemudahan tersebut tersimpan kekuatan media sosial untuk membuat masyarakat berubah.

Mereka tidak memikirkan itu, jika terdapat niat bahwa media sosial dibuat untuk pendamping saja, maka jelas naif sekali. Niat tersebut dapat bergeser atau dapat ditutupi oleh rasa kepuasan karena kemudahan yang diberikan oleh media sosial.

Philip Palmgreen mengatakan kepuasan yang dicari dari media ditentukan oleh sikap terhadap media tersebut—kepercayaan tentang apa yang diberikan dan evaluasi tentang bahan tersebut. Rasa penasaran juga mempengaruhi apalagi ditambah dengan lingkungan termasuk orang – orang sekitar. Mereka akan semangat ketika menemukan suatu media sosial yang pas untuk digunakan dari sekian ribu media sosial yang tersebar di internasional networking.

Kepuasan melahirkan hal – hal lain dan manusia tidak akan berhenti ketika kepuasan telah didapatkan. Namun hal ini juga bergantung pada setiap individu yang menggunakannya, mereka yang telah mendapatkan kepuasan akan terus – menerus menggunakannya dan karena seringnya lagi – lagi akan membuat budaya baru. Misalnya saja, ketika dia sukses mendapatkan seorang pendamping sesuai idaman, anggap saja pacar, lewat media sosial. Jelas mereka akan terus mencari lagi dan lagi, proses berkelanjutan hingga membuat digitalisasi budaya seperti pernyataan diatas.

Zaman dahulu ketika anak laki – laki berdekatan dengan seorang wanita, mereka menggunakan sebuah surat. Dan ketika lambat laun berubah menjadi secara langsung, berkomunikasi dan selanjutnya berubah lagi melalui media sosial.

Sangat hebat sekali satu berubah dan yang lain akan berubah juga, dengan cara menonjolkan identitas diri melalui media sosial. Mereka terkadang terlalu narsis hingga meng – upload semua hal tentang dirinya dan agar semua orang melihatnya. Kadang kala hal ini yang menyebabkan kepuasan kita seseorang tersebut mendapatkan apa yang telah disediakan melalui media sosial.

Kemudahan dan kepuasan karena hal sepele dapat merubah banyak hal, dapat memberikan ketergantungan bagi setiap masyarakat yang menggunakan secara berlebihan. Seperti yang telah dijelaskan diatas tentang istri dan remaja putri, mereka telah mendapat kemudahan dan kepuasan yang diberikan oleh orang lain melalui media sosial. Sandra Ball – Rokeach dan Melvin Defleur, mengutarakan bahwa khalayak tergantung kepada indormasi yang berasal dari media dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa, dalam hal ini yang dibahas adalah media sosial.

Informasi yang ada di media sosial tergantung dua individu yang saling mempengaruhi satu sama lain. Budaya kenalan menjadi sebuah budaya kenalan abal – abal karena melalui media sosial, tertutupi rasa penasaran kewaspadaan menjadi berkurang, hal – hal tersebut dapat membuat peristiwa yang tidak diinginkan.

Tidak hanya itu budaya saling – berinteraksi pun digitalisasikan, anak – anak dikampung sekarang telah memiliki teknologi yang dapat membuatnya berpartisipasi di media sosial. Jarang ada permainan tradisional yang diterapkan di era teknologi sekarang, bahkan bocah SD pun telah memiliki akun di jejaring sosial, tidakkah ini mengherankan?

Padahal sewaktu kecil, remaja sangat gemar bermain gundu (kelereng), bermain petak umpet dan lain sebagainya. Ketergantungan ini juga meracuni bocah – bocah sebagai korban paling sering yang kena efek ‘ketergantungan’, di media sosial juga diberi fasilitas permainan yang dapat membuat orang – orang, bahkan anak kecil untuk duduk selama dua jam lebih.

Upaya budaya menabung pun sekarang susah, karena mereka lebih berupaya untuk menghabiskan agar kepuasan dapat terpenuhi. Kemungkinan mereka juga terpengaruh oleh isu – isu yang sering dilontarkan di media sosial, mereka menjadi pribadi yang berbeda setelah berkelana di dunia maya termasuk di media sosial itu sendiri.

Kepuasan mereka dapat dipahami jika ditelisik lebih jauh, bahwa media sosial juga mampu memberikan pengaruh yang kuat untuk membelokkan ideologi maupun budaya. Mereka yang dapat kita sebut sebagai oknum, mengeluarkan pendapat maupun isu untuk mempengaruhi masyarakat, akan sangat dengan cepat beredar melalui jaringan internet. Isu – isu tersebut akan mempengaruhi perilaku mereka sehari – hari, semisal saja mengembalikan budaya berjilbab dengan isu maupun berita yang dilontarkan semacam artikel agar masyarakat menggunakan jilbabnya karena akan terlihat anggun.

Hal – hal seperti itu membuat politik masuk untuk saling mencerca musuh dan untuk mencari dukungan. Media sosial dianggap ampuh untuk memberikan dukungan baik riil maupun moril, kadang seperti yang dikenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972), bahwa media memberi tekanan pada suatu peristiwa maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.

Ketika ada hal – hal penting seperti saling mencerca, jika di dunia nyata harus ada estetikanya, di media sosial mereka dapat saling perang mulut dengan bebas. Dimana mereka tidak saling berhadapan langsung, melainkan hanya mengetik dan menyuarakan apa yang ada didalam benakny lalu diposting dan itu membuat perubahan besar di masyarakat, ‘Perang Dingin Networking’.

Dimana perang tersebut dilontarkan secara langsung namun melalui media yang mendukungnya. Mereka ternyata puas dengan media sosial yang digunakan sehingga dengan mudah untuk langsung mengarah ke tujuan dan itu nanti juga akan didukung oleh orang – orang yang pro, mengkroyok melalui media sosial. Mereka akan malu, karena seperti yang dinyatakan tadi bahwa media sosial adalah perwujudan jati diri. Mereka akan melupakan budaya malu ketika kalah karena mereka dapat membalasnya melalui media sosial.

Mereka yang mengkroyok tentu mengatakan bahwa pendapat salah satu benar, begitu juga sebaliknya apabila kontra. Media sosial dapat menarik apapun, baik materi, dukungan, jasa dan yang lainnya. Upaya – upaya seperti ini juga kadang dilakukan para pelaku marketing, pedagang online yang mejual produknya melalui media sosial. Mereka tidak perlu berjalan – jalan karena order akan datang setelah melihat promosi yang disebar melalui media sosial. Media sosial bak angin, yang dulu dikatakan bahwa angin menyampaikan pesan, sekarang tanpa kesulitan masyarakat dapat mengirim segala sesuatu apapun bentuk dengan kemudahan.

Mengirim segala sesuatu juga dapat berupa sebuah pendapat tentang hal – hal yang beredar. Media sosial juga memfasilitasi itu dengan adanya sebuah forum maupun grup agar mereka dapat berdiskusi, ini menjelaskan teori yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle – Neuman (1976) bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang – orang lain dalam masyarakat.

Masyarakat dapat memancing sebuah pendapat tentang apapun itu dan nantinya akan dapat respon terhadap orang – orang yang ada di dalam media sosial yang diikutinya. Kadangkala mereka mempengaruhi satu sama lain, melibatkan sisi emosi dan persepsi individu, sehingga mereka dapat dengan mudah setelah meninggalkan media sosial mereka dapat mengatakan tidak setuju untuk apa yang telah dibicarakan melalui media sosial.
Kadang juga pendapat mereka mencibir atau menyindir mereka yang terlalu percaya diri. Utamanya adalah para artis yang suka membuat hal – hal kontroversial, mereka akan mendapat perlawan secara langsung (lagi – lagi) melalui media sosial. Masyarakat menggalang dukungan melalui media sosial, mereka tidak perlu merasa turun tangan karena seperti yang telah dijelaskan bahwa media sosial dapat memangkas jarak dan waktu, mereka seolah – olah berada di depan orang yang ingin dikritik (bentuk dukungan).

Seperti inilah semangat mereka di era media sosial telah menjamur, karena media sosial memberikan fasilitas tersebut. Masyarakat tidak perlu turun ke jalan, mengkritik secara langsung melainkan cukup lewat media sosial dan aspirasi pun dapat dilihat dan dipahami. Inilah yang dilakukan oleh salah satu politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda Hamidah, dia membuat kedekatan terhadap para pendukungnya atau pemilihnya untuk mendengarkan aspirasinya. Inilah yang dia katakan, seperti dikutip SidomiNews, “Respon masyarakat sangat luar biasa. Mereka mengerti benar bagaimana menggunakan media sosial sebagai media penyaluran aspirasi, maupun keluhan, serta aduan. Di tiap bulannya kami mampu menampung 30 aduan. Laporan ini tidak termasuk yang datang secara langsung”.

Alhasil Digitalisasi Budaya berhasil menjadi kehidupan di sela – sela kehidupan masyarakat umum saat ini. Mereka tidak lagi perlu panjang lebar berbicara, cukup lewat media sosial yang disukai, berkomunikasi maupun dilakukan hal lain yang dapat memberikan kepuasan dengan sistem komunikasi yang sangat sederhana melalui media sosial. Kehebatan dan kemudahan seperti ini harus diingatkan jangan sampai terlalu berlebihan, karena segala yang berlebihan akan berujung pada kehancuran. 

Oleh
Akhmad Faishal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Opinion :