Jumat, 30 Mei 2014

Love My Ghost


Kisah ini terjadi setahun yang lalu saat aku masih seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ngeri di Surabaya. Sebuah kisah yang membuatku merinding sendiri sekaligus menyedihkan jika mengingatnya. Bermula ketika seorang teman mengajakku untuk menemaninya ke warung internet “  ayo jon kita warnet, temani aku,” ajak Andik “ok,” jawabku mengiyakan ajakannya. Sambil berjalan menuju ke warnet aku akan memperkenalkan diri, namaku ialah Joni Kuswoyo anak seorang penjual jajanan kering di daerah Stasiun Gubeng  dan yang mengajakku ialah Muhammad Andika seorang teman sekaligus sahabat baik saat kuliah maupun dikampung. Kami bersahabat sejak SD.

Sekarang dia mengajakku ke sebuah warnet untuk mengirim tugasnya ke alamat email dosennya, pak Wahyu. Katanya, beliau merupakan tokoh dosen yang mengajar Fisika dan terkenal galak, “huh, bosan juga aku cuma hanya menemaninya, browsing juga ah!” gumamku seketika itu aku memilih komputer kosong yang ada disebelah Andik. Seperti biasa aku membuka salah satu situs jejaring sosial, kebiasaanku. Oh, ya aku lupa bahwa aku dan Andik berbeda jurusan kuliahnya, Andik mengambil jurusan fisika sedangkan aku mengambil jurusan Ekonomi dan sekarang  aku sedang tidak ada tugas yang harus dikumpulkan.  Kemudian aku menjelajah situs jejaring sosial dengan tenang, berbeda dengan Andik yang terlihat ragu – ragu untuk mengirimnya “ benar atau ga tugas yang sudah selesai ini, ya?” katanya dengan berpikir keras, aku tersenyum saat melihatnya sekaligus iba.
           
Setelah sesaat mengalihkan pandanganku tadi untuk melihat andik, aku kembali melihat dan mengecek jejaring sosialku, yakni facebook. Saat sedang asik utak – atik facebook, tiba – tiba mataku tertuju pada sebuah foto profil seorang gadis yang terlihat manis, kucek saja langsung data profilnya. Dan ternyata, aku sudah dikonfirmnya juga yang paling menggembirakan adalah info mengenai status yang disandangnya kini, yakni dia sedang melajang. “ Semoga aku bisa menjadi laki – laki beruntung yang mendapatkannya,” gumamku berseri lalu kucoba melihat daftar list facebook dan pucuk di cinta ulam pun tiba dia sedang online. “hi, leh kenalan ga ?” tulisku di chat “boleh aja,” balasnya begitu seterusnya aku menanyakan mengenai hal – hal umum kepadanya dan responnya juga bagus, kami mengobrol berdua hampir 3 jam, aku memulai online pukul jam 20.00 berakhir sampai pukul 23.00 malam. Sampai – sampai teman si Andik mengajak pulang tapi aku masih asik dengan teman baruku jadilah dia pulang terlebih dahulu daripada aku.
           
Dalam waktu 3 jam itu aku memperoleh semua informasi yang kubutuhkan yakni nomor telp, tempat nongkrong dan alamat rumahnya. “Beruntung sekali aku, andai waktu itu aku hanya menemani dan mengecek tugas Andik, aku tak kan segirang ini. Mungkin inilah jalan jodohku,” gumamku disertai senyuman kecil membayangkan apa yang akan aku lakukan nanti. Ternyata termanguku di waktu yang salah, saat itu mata kuliah tentang ekonomi bisnis berlangsung “Joni, kerjakan soal ini!” hardik pak Yunus yang ternyata mengamatiku dari tadi, melihat lamunanku yang disertai senyum kecil. “Waduh,” pikirku dengan badan gemetar dan keringat dingin bermunculan “maaf pak, aku ga bisa, terlalu sulit,” bibirku sedikit bergetar mengatakannya “makanya jangan ngelamun saja, mikir siapa sih kamu itu, bu desi ya?” kata pak wahyu. Bu Desi adalah seorang penjual jajanan kecil di kantin kampus yang berbadan gendut dan bertampang sangar. “Hahahah,” tawa teman - temanku bergema di seluruh ruangan kelas. Sungguh, aku malu sekali. Malang sekali nasibku.
           

Berawal dari facebook baruku kau datang secara tiba – tiba… sebuah lagu dari gigi yang mengalun merdu di warung saat aku sedang asik disana, nongkrong seperti biasa bersama teman - teman, mengingatkanku atas apa yang terjadi padaku akhir – akhir ini. Langsung saja kukirim sms kepada si dia “hi Santi lagi ngapain ni?” sejurus kemudian dia membalas “hi Joni ^_^  iya aku lebih sibuk ne ngerjain tugas ekonomi, sulit banget jadi pusing aku” katanya lalu terlintas dipikiranku untuk ketemuan dan menawarkan diri untuk membantunya untuk mengerjakan tugas mengenainya itu. Kemudian dia setuju dengan ideku itu, sabtu malam pukul 07.00 di Taman Pelangi didekat bundaran Dolog itulah hasil obrolan kami mengenai waktu dan tempat ketemuan kami. Jauh memang dari tempatku tinggal, tapi demi sebuah usaha untuk mendapatkan perhatiannya, aku rela. “Tak apalah jauh yang penting bisa bertemu si dia,” batinku, aku mengehela nafas.

Namanya Santi Wardhani, seorang gadis asal Waru – Sidoarjo yang juga kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya kebetulan jurusan kami sama yakni kuliah dijurusan ekonomi. Selama hampir satu setengah bulan aku semakin sering ngobrol dengannya melalui sms dan telepon, tiap kuajak ketemuan dia mengatakan tidak bisa hampir 10 kali aku mengajaknya dan dia tetap pada pendiriannya. Semakin putus asa untuk mengakhiri komunikasi ini, bila dipikir bagaimana mungkin aku hanya bisa komunikasi lewat sms dan telepon saja “komunikasi macam apa ini, aku kan berhak tahu siapa dia dan bagaimana bentuk wajahnya yang asli,” pikirku dengan merengut lalu kubilang padanya disela – sela ngobrol mengenai curhatnya masalah tugasnya lewat telepon “aku pengen ketemu sama kamu,”kataku “maaf ga bisa aku harus mengerjakan tugas ni,”katanya “kenapa sih kamu cari – cari alasan kalau aku ingin ketemuan? Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” selidikku “ga kok, yah lagi pusing aja banyak tugas ekonomi yang sulit. Huft,” desahnya “ sudah satu setengah bulan dan hampir dua bulan aku cuma komunikasi denganmu lewat sms dan telepon aja,”kataku dengan sedikit kesal. Apa sih yang sedang disembunyikan gadis ini. Pasti ada sesuatu dan itu akan mengagetkanku dan membuatku merinding suatu saat nanti.
           
“Ya sudah kalau kamu inginnya gini, kita akhiri saja komunikasi ini. Jujur aku sudah ga ingin seperti ini terus hanya lewat sms dan telepon,” kataku tegas “ya udah kita ketemu ya di taman pelangi besuk sabtu jam 7 malam,”katanya “yess, akhirnya berhasil,”batinku sambil tersenyum bibirku “baik, sampai ketemu besok sabtu,”jawabku. Demi menanti hari itu aku semakin intens berhubungan dengannya sms dan telepon mengenai keadaannya layaknya berpacaran, pacaran dengan orang belum kulihat selama satu setengah bulan lebih, sungguh tak bisa dipercaya.
           
Hari sabtu pagi tiba, kuliahku libur saatnya melakukan jadwal yang sudah kususun. Pagi sampai siang kuhabiskan untuk membantu ibu menjaga warung, ibu melakukan hal lain seperti memasak dan kusuruh untuk beristirahat saja hingga siang. Sorenya, aku membantu mengantar makanan bungkusan ke Yayasan Panti Asuhan di Surabaya, mereka memesan untuk 50 anak yatim piatu dan kupikir ini adalah sebuah pekerjaan mulia dengan imbalan pahala. Aku senang jika anak – anak itu tertawa dan menunggu kedatanganku, wajah ceria anak – anak menghapus beban tugas dari kuliah. Hahaha.
           
Malamnya, aku bersama temanku Andik untuk ketemuan dengan si Santi, berboncengan aku tak peduli dengan sayatan angin di jalan dan suara bising kendaraan. Yang paling membuatku kesal adalah saat berjalan menuju tujuan mesti macet, gimana kalau telat ketemuannya “tenang Jon, sabar,”kata Andik sambil tersenyum, dia tahu kalau aku gelisah mengenai ketemuan dengan si dia. Bagaimana tidak, sudah lama aku ingin menemuinya, mengobrol langsung face to face dengannya, mengajarinya (katanya ada yang sulit dengan tugas ekominya).” Ah, aku tak sabar,” desahku
           
“Kamu dimana? Aku sudah ada diparkiran,” aku kirim sms kepadanya, tak lama kemudian sms balasan datang darinnya “aku ada di beton warna pelangi, memakai kaos hitam bergambar mickey mouse dengan jaket jeans, aku tunggu ya,”. Tanpa basa – basi aku kesana, langkah ku berbarengan denga langkah Andik yang ada di sampingku, “mana dia ?” Tanyaku kepada Andik “loh, gimana ciri –cirinya?” Tanyanya balas kepadaku “kaos hitam bergambar mickey dan dia ada disini, dibelakang beton warna pelangi ini,”kataku “tapi dia ga ada gini,”katanya “coba kamu sms atau telepon saja,”tambahnya “ok,”jawabku
           
“Kamu ada dimana santi, di toilet ta ?”kataku lewat telepon “loh, aku ada disini, cepatlah sepi ne,”katanya “sepi gimana? Rame gini lo,”kataku dan yang aku herankan tak ada suara apapun dalam teleponnya selain suaranya. “Iya, sepi banget ga ada kendaraan, yang ada cuma orang – orang lewat dan memakai baju putih semua,” “hah! Kamu ini ngelindur ya,”kataku heran “ga kok beneran,”jawabnya lalu si Andik bertanya “gimana?” “katanya di sini sepi dan banyak orang yang memakai baju putih,”kataku “loh, o iya kamu belum kasih tahu yang mana anaknya padaku,”kata Andik kemudian aku browsing membuka facebook yang ada di HPku.
           
Setelah itu raut wajah pucat tersirat di muka si Andik, dia sedikit kaget dengan apa yang telah dilihatnya. “Jon, kamu ga salah ta ngajak ketemuan dengannya? Dia kan sudah…,”katanya dengan wajah pucat seolah ketakutan “kenapa Jon, kamu kenal dengan anak ini?”kataku dengan nada selidik “gila lo Jon dia kan bulan lalu aku datangi, aku melayat kerumahnya,”katanya dengan nada tinggi “APA?!?!,”kekagetanku luar biasa hingga orang – orang disekitarku kaget juga “Jadi.. Jadi… Di.. Dia Sudah meninggal?” bibirku gemetar bulu kudukku merinding
           
“Ya dia meninggal di taman pelangi ini, dia bunuh diri dengan menyebrang jalan di Taman Pelangi ini,”kata Andik menjelaskan. Ternyata, dia adalah teman nongkrong si Andik Cs waktu kuliah, dia kenal dengannya saat iku nimbrung bersama teman – teman kuliahnya, dia bunuh diri akibat tekanan dari orang tuanya yang setiap hari bertengkar padahal keluarganya termasuk orang berada di tempat tinggalnya. Yah, mungkin ga tahan dengan kehidupan yang serba terjamin tapi kondisi keluarga yang tidak harmonis (kata Andik, ibunya dan dia sering dipukul dan diperlakukan kasar oleh suami atau ayahnya itu) sungguh tragis sekali.
           
Aku menitikkan air mata, mencoba telepon si Santi “San..” “ya Jon,”Jawab Santi “sudah lah ga usah dipaksa ketemuan ini, aku tahu kamu ga ada kesulitan mengenai tugas dan aku sudah tahu semuanya mengenaimu walau aku ga bisa ketemu denganmu,”kataku tenang. “Maksudmu?”kata Santi heran “kamu sudah meninggal bulan lalu, kan,” kataku “kamu merupakan arwah penasaran, kamu tidak sadar bahwa kamu sudah meninggal kamu harus merelakan semua yang ada, jika tidak kamu tidak akan pergi dengan tenang menuju ke suatu tempat yang indah nun jauh disana,” kataku menjelaskan mengenai dirinya “hah! Benarkah,” katanya sedih. Aku tahu dia sedih dengan sesenggukan “semua salah ayah dan mama, mereka mementingkan diri sendiri. Jadi, aku… aku… hiks… hiks…,”katanya dia menangis waktu di telepon.  “Sudah, sudah aku tahu perasaanmu, aku tahu kamu sedih tapi itu tidak akan menenangkanmu untuk menuju ke tempat indah itu, hentikanlah tangisanmu aku sudah cukup senang untuk ngobrol denganmu dan ini akan menjadi pengalaman yang indah dan menarik bagiku. Hehehe,” kataku sambil tersenyum kecil untuk menghibur dirinya.
           
“Baiklah Jon, maafkan aku yang selama ini membohongimu, mengulur – ngulur waktu selama ini yang sudah kamu inginkan dan ternyata..,”katanya sambil sesenggukan. “Sudah ga apa – apa kok,” kataku “selamat berpulang Sinta, terimah kasih sudah mau jadi temanku,”tambahku “iya, sampai Jumpa Joni semoga aku bisa ketemu dengan mu nanti,”katanya “bye – bye,”katanya lagi “bye,”kataku. Andik menghiburku ketika melihatku sedih dan hampir menangis dan aku sendiri juga heran kok bisa aku menangisi orang yang tidak aku tahu seperti apa orangnya dan hanya mengetahui suaranya.

Andik duduk di pinggiran kolam beton pelangi “Sudah – sudah, mungkin tuhan akan memberikan yang terbaik bagimu kelak,” kata – kata Andik menghiburku. “Oh, ada sms yang masuk Jon,”katanya melihat dering dan nyala HPku ‘aku akan menunggumu dan akan terus menunggumu sampai kamu datang di tempat yang kamu katakan tadi. Santi Wardhani’ itu sms darinya.
           
Sms itu akan terus kusimpan dan tak akan kuhapus selamanya. Santi salah satu orang dari dunia sana yang telah mengisi hatiku. Memang wanita mempunyai sebuah rahasia dan sangat sulit dimengerti oleh kaum lelaki. Tangisanku berhenti. Tersenyum. “Ayo pulang, Ndik,”kataku “ayo,”jawabnya semangat. Sembari berjalan aku berkata dalam hati ‘semoga kehidupanmu tenang dan nyaman di sana’. Dan suara gadis yang tak kuketahui darimana mengatakan ‘ya’.


oleh
Akhmad Faishal



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Opinion :