Kamis, 11 Desember 2014

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) part 3

19 Oktober
            
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30  ketika kami tiba di Musholla di sekitar pantai Papuma. Saya sudah capek sekali, ingin istirahat tidur sebentar sebelum besok melihat matahari terbit (Sunrise). Walau, kelewatan melewati jalan menuju papuma, jalan yang berbatu (asli…!! sangat tidak enak dilalui oleh kendaraan) dan tanya sana sini pada orang yang masih ada pada tengah malam untuk menunjukkan dimana papuma. Saya pun langsung merebahkan diri. Tidur.

Saya bangun karena banyak suara, musholla tiba-tiba ramai, oh sudah waktunya sholat subuh. Saya sendiri heran padahal badan saya capek sekali, tapi ketika bangun langsung segar bugar ya walaupun agak mengantuk tapi tidak terasa lemas. Segera saya ambil wudhu dan sholat berjamaah Hanya saja, ahhhh Imamnya kebanyakan gaya. Inginnya doanya panjang tapi ndak hafal. Kesuwen.

Kami, setelah sholat subuh, langsung pergi menuju pantai. Agni sempat ingin memakirkan sepeda di dekat Musholla, tapi saya tidak mau. Khawatir hilang dan tidak aman, apalagi dari musholla ke pantai lumayan jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Takut kehilangan momen Sunrise, hehehe. Kami berdua menggunakan sepeda motor dan beranjak dari situ, mengendarai untuk mencari spot yang enak untuk parker dan sayangnya kami kebablabasan.

“Heh, ni, koe ngerti iki arah ndi?” tanyaku

“Ora lek,” jawabnya dia ngeluyur saja menyusuri jalanan aspal di pinggir pantai. 

Hahaha, kupikir dia tahu dan aku mengikutinya, tapi siapa sangka bertemu pertigaan, satu menuju cottage (penginapan) satu menuju arah pulang. “Edan, koe ni, kaetan teka langsung njaluk mole. Hahaha,” tukasku “Ayo mbalik,”. Kami akhirnya kembali dan memakirkan sepeda motor di sekitar bibir pantai. Kami lalu berjalan menyusuri pinggiran pantai dan tak sabar melihat Sunrise. Kami menuju pojok pantai, pantai papuma itu tidak lurus, melainkan ujungnya berbelok, sehingga ombak laut saling bertemu seperti menubrukkan diri. Banyak hal yang kami lakukan, tapi sebagian besar hanya foto-foto.

Kami lalu berpindah tempat, kali ini kami berada di spot bebatuan, bertemu dengan salah seorang pemancing yang katanya sudah sehari semalam memancing atau kalau tidak salah 3 hari 3 malam. Entahlah. “Halo pak, piye sampun entuk iwak?” tanyaku “Dereng mas,” jawabnya

“Ndamel nopo umpane,” tanyaku lagi

“Niku, ndamel kepiting,” jawabnya

“Kulo tingali nggeh, ngapunten lho,” kataku menyelidik ada apa dalam tas tentara yang dibawanya

“Oh, monggo,” ujarnya

Tasnya mirip tas tentara yang sering kulihat saat prajurit kodam, depan bunderan waru, kala latihan lari sambil membawa senapan mesin. Di dalamnya terdapat bau kepiting dan ikan, tapi dia tidak memilih ikan hanya menggunakan udang.

****

Beberapa orang lalu lalang, dua orang cowok cewek memakai baju merah yang kuduga mempunyai hubungan khusus sedang foto-foto. Sebuah keluarga berjalan melewati kami dan beberapa diantara mereka menghampiri kami, saya dan paman yang memancing. Agni sedang mengumpulkan pasir dan kerang yang dimasukkan ke dalam botol. Sebuah oleh-oleh kreatif dari Papuma. Sekitar pukul 07.30 Kami pamit lalu beranjak pulang. Tapi kulihat wajah Agni tidak nampak puas. Hmmm.. kurasa karena terburu-buru pulang, Hahaha, saya merasa agak egois. Hmm..

****

Menuju Piket Nol, Lumajang

Aku tadi telah menceritakan mengenai pom bensin kan? Begitulah, ingin segera mencapai tempat itu untuk mandi dan mengistirahatkan bokong dan punggung. Pegal, bro, Badan saya capek, pegal dan mengantuk saat mengendarai sepeda motor. Dan bokong saya seperti bentul-bentul, tidak enak dibuat duduk, risih. Kami tiba, lalu mandi dan tidur siang hingga tibanya sholat dhuhur. Sebelum ke tempat itu kami makan dan berdiskusi mengenai kepuasaan masing-masing mengenai trip kali ini. “Lex, ayo Piket nol?” tanya Agni “Budal tok,” jawabku lagipula memang hari masih pagi saat kami beranjak pergi dari papuma.

Oleh sebab itu, begitu kami selesai dhuhuran, badan Alhamdulillah segar, kami langsung berangkat menuju Piket nol. Kami tidak tahu sama sekali mengenai piket nol, aku tidak peduli dan pokok e jalan, tetapi Agni sangat antusias sekali dia bertanya pada pom bensin, orang yang berhenti di lampu merah dan lainnya untuk mengetahui dimana letak piket nol. Saya hanya mengikuti, kupikir biasa saja tempat itu. Saya menduga itu gunung, karena waktu berlajan menuju ke sana, kami menuju jalan yang didepan itu jelas terlihat gunung. “Apik lex, nag piket nol iku ono jembatane dan pemandangan disana bagus,” ujarnya “kita dapat santai, istirahat disitu,”

Benar apa yang dikatakannya, aku merasa bahwa dugaanku keliru, keren tempat itu. Jembatan yang dibawahnya adalah jalur lahar Gunung Semeru. Bisa dikatakan itu adalah tempat penambangan pasir, dari atas pinggiran gunung melihat jauh ke bawah, Crane berwarna kuning dan truk-truk pengankut pasir seperti mainan kecil. Agni memang jeli mencari tempat-tempat wisata yang non-maenstream. Kami dua jam lebih berada disitu, kopi panas mendadak menjadi hangat. Saking dinginnya, padahal itu masih siang menuju sore.

Kami lalu pulang, perjalanan pulang juga tak terbayangkan, selain jauh (karena harus ke Malang dulu baru ke Sidoarjo), perjalanan juga berkelok-kelok menuruni gunung. Saya sampai tidak sabar, ingin mengetahui dimana jalan keluarnya. Hahahaha… kami beranjak dari piket nol sekitar setengah 4 dan keluar sampai malang sekitar pukul 9 malam. 

Wow, benar-benar jauh, Agni memperkirakan bahwa perjalanan kami dari Sidoarjo-Jember-Lumajang-Malang-Surabaya seperti Madiun ke Garut, Jawa Barat. Tidak terbayangkan oleh kami, jauh sekali. Mampir ke Indomaret dulu, istirahat. Kami langsung bablas pulang, kami berpisah di bunderan Waru, Agni tanpa istirahat lagi bablas menuju kosnya, begitu juga saya ke rumah dan langsung merebahkan diri. Karena, besok saya kerja!

This is not called One Day One Place but One Day One Trip oleh sebab itu saya merevisinya karena itu berlebihan. Hahahah.. thank’s Agni and Okky for your Inspiration, khususnya Agni menemani saya untuk test vacation One Day-nya. Kita lakukan lagi di One Day One Place berikutnya. 

Salam ODOP… J

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) Part 2

18 Oktober

Hari kami berdua berangkat, jarum jam menunjukkan pukul 4. Sebenarnya, aku baru saja pulang sekitar jam setengah 3 karena diajak makan-makan oleh teman kantor di salah satu Mall Surabaya. Aku juga merasa tidak enak karena harus mengundurkan jadwal. Karena sudah kesepakatan. “Ngkuq ta kabari maneh yo. Soale sek dijak mangan e …Hehehe” aku sms ke Agni “Owalah yo gpp ntar kabari saja dan selamat berkencan,” begitu balasnya. Sialan… ‘kencan opo wong mangane bareng wong akeh’.. tapi pada akhirnya kami berdua berangkat tepat setengah 5 setelah mengisi bensin di Janti, kecamatan Waru. Kami dibekali oleh ibu dua botol Mizone, jaga-jaga dalam perjalanan.

Perjalanan pertama adalah keluar dari kabupaten Sidoarjo, didaerah Gedangan kemacetan terjadi cukup parah. Saya dan Agni akhirnya lewat by pass menuju arah malang, Agni lalu berhenti mengisi bensin. “Edo juga ada di Jember lek, mungkin kita bisa numpang tidur dirumahnya,”Ujarnya “Bagus, Sip Bro,”kataku. Beberapa jam sebelum berangkat, Agni mengatakan bahwa Okky ternyata sudah balik ke Surabaya, ada perasaan was-was ‘nanti kita istirahat dimana?’. “Yo, wes ni, pokok e budal,”ujarku lalu menggunakan jaket Unair Mengajar serupa dengannya dengan 3 jargon dibagian punggung. “Memberi Harapan, Menebar Inspirasi, Membangun Mimpi”.

Alhamdulillah, begitu magrib perjalanan kami sudah masuk ke arah Bangil menuju Pasuruan, memang belum masuk sih tapi hampir mendekati kabupaten Pasuruan. Dua jam perjalanan, pukul 20.00 Wib kami sudah melewati Pasuruan dan masuk ke arah Lumajang menuju Jember, kami tiba di bibir lumajang. Makan malam. Kami makan sate, walau satenya yah biasa banget, enak y ndak enak tapi ga enak ya bukannya ga enak. Kami habiskan 15 rb untuk seporsi 10 tusuk sate berikut 2 lontong.
            
Perjalanan pun kami lanjutkan dengan beberapa pemberhentian untuk Sholat. Cukup lama kami menelusuri jalan, malam-malam, kaki rasanya pegel dan ingin dipijat. Terkena hebusan dewi angin yang menerpa kami malam-malam, kurasa dia menyukai malam karena dewa matahari selalu mengganggu dengan sengat panasnya. Kadang kami terpisah dalam perjalanan, “Slow ae ni. Alon-alon. Bengi soale,” ujarku “Ok,” jawabnya singkat. Tapi tidak terasa kadang kita terpacu untuk cepat, sehingga terkadang Agni di depan dan Saya dibelakang, begitu juga tanpa sadar Agni kok tidak lewat-lewat ternyata dia sudah mendahului. Saya kok tidak melihatnya, tiba-tiba dia sudah ada didepan. “Aku nag pertigaan deket e kantor polisi,” begitu jawabnya ketika ku telepon saat tanpa sadar kami terpisah di alas Lumajang.

Masih di Lumajang pembaca, saya kira Lumajang ke Jember itu dekat namun ternyata jauh sekali. Waktu keluar dari Bangil dan Pasuruan itu kok cepat banget, tapi Lumajang ternyata jauh sekali untuk keluar dari wilayahnya. Saya duga, perjalanan ke luar dari kabupaten Lumajang ini melewati pinggirannya dan itu lumayan jauh. Sepertinya. Dan memang saya tak merasa bahwa kami benar-benar telah melewati Lumajang. Kami terus saja berpacu dan berpacu, menerobos tembok dewi angina di kala malam. Suatu ketika saya melihat layang-layang memancarkan sinar, hampir mirip lampion tapi layang-layang itu benar-benar dihiasi lampu kecil dipinggirnya. Entah ada baterai juga di layang-layang yang terbang di kala malam. Saya tidak tahu tapi bagus sekali. Pertama kalinya.

Akhirnya belokan terakhir, sebelum melewati rel kereta api kami disapa oleh sambutan tulisan selamat datang di kabupaten Jember. ALHAMDULILLAH…!!! Selamat tinggal Kabupaten Lumajang. Kami lalu maju beberapa meter dan menemukan Pom Bensin yang dapat saya katakan nikmat sekali, kami berhenti disana karena bensin sudah mulai menipis. Pukul 10.30 kami berhenti sejenak, membenarkan bokong-bokong yang sudah linu, meraup dengan air bagi wajah yang kering dan berminyak, pokoknya disegarkan dan dirileks-kan badan yang sudah tegang.
            
Pom Bensin ini kau tahu, mempunyai  air yang alirannya dari sungai (pegunungan) dan mengalir terus-menerus, dingin dan pancarannya deras. Asyik sekali, kelak besok saya mandi di pom Bensin ini, tidak begitu ramai cukup nyaman bagi tempat peristirahatan apabila menuju ke Jember. Menurut saya, ini adalah tempat peristirahatan terbaik. Beberapa orang yang melakukan perjalanan jauh juga berhenti dan Agni mengeluarkan Laptopnya… Suangarr...!!! pukul 00.00 kami berangkat kembali. Agni merencanakan untuk tiba di Papuma sebelum matahari terbit. Saya sih ngikut aja.

Akhirnya kami tiba di perempatan menuju pantai Papuma, perempatan belok kanan lampu merah kedua setelah pom Bensin terakhir kami mengisi bensin. Entah dimana, yang pasti kami sudah berada di Jember. Kami lurus saja, tanpa belok, lurus menerjang angina malam, melewati beberapa masjid yang besar-besar, teman kami waktu itu hanya angina dan pepohonan yang diam menyapa dengan wajah yang datar. Oh ya, kami sempat kelewatan menuju Papuma, hanya saja harum pantai sudah terasa semenjak pohon kelapa kami lewati.

Minggu, 09 November 2014

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) Part 1

          11 Oktober 2014

Itulah tanggal kali pertama aku memposting status mengenai program yang kupikir menyenangkan. Awalnya bukan #OneDayOneTrip atau Place tetapi ‘One Day One Travel’, beberapa kawan berkomentar dengan segala kicauannya. Aku ingin bertemu dengan seorang kawan untuk mewujudkan sebuah kegiatan pariwisata buatan sendiri, yaitu Agni Santiaji Pradana. Aku mendapat inspirasi darinya, jadi pada waktu itu dia bersama seorang kawan, Okky Hardiansyah ke Jogjakarta, berdua, menggunakan sepeda motor dalam hanya sehari semalam, maksudnya berangkat jam 7 Malam, lalu pulang saat Magrib keesokannya!!!

Hal itu benar-benar gila dan luar biasa, berdua menempuh jarak ratusan kilometer hanya datang mampir terus pulang. Resikonya ya kalian tahu sendiri, capek dan pegal luar biasa tapi hal itu sangatlah ‘Wah’ Excited!! Aku terinspirasi darinya, oleh sebab itu aku ingin membicarakan keinginanku untuk pergi ke suatu tempat hanya dalam waktu sehari saja. Hal ini disebabkan karena pekerjaanku mulai senin hingga sabtu siang, Libur? Hanya hari Minggu saja. (Tidak mempunyai waktu banyak bukan?)

          16 Oktober 2014

Aku sms ke Agni untuk berdiskusi dengannya mengenai program buatanku itu, bagaimana menurutnya? Kemudian aku bilang untuk bersilaturahmi ke kosnya. Sesampainya disana, aku langsung mendiskusikan walau harus menunggu beberapa saat kedatangannya. Dia menjelaskan beberapa tempat mulai dari Bromo hingga Papuma sebagai test-have fun #OneDayOneTrip .
          
          “Piye la Papuma ae?” Tanya Agni
          
          “Budal tok,” Jawabku
          
          “Oke, Sabtu sore jam 4 awak dewe budal. 
            Moleh mene jam 1 awan,”

          “Siap, beres,”

Dia teringat dengan Okky yang berdomisili di Jember lalu menelponnya, katanya sih ingin balik ke Jember. Biar ada tempat tinggal gratis. Agni mengatakan bahwa Okky ‘Ya’ dan memperbolehkan kami berkunjung dirumahnya. Saat itu aku yakin bahwa hal itu adalah pertanda yang bagus. Selesai. Aku mohon pamit pulang menunggu hari Sabtu tanggal 18 Oktober 2014.
            
          17 Oktober 2014
            
Aku ingin menjelaskan bahwa #OneDayOneTrip atau #OneDayOnePlace adalah sebuah program refresing singkat. Dalam kurun satu bulan dapat melakukan perjalan hingga 2 kali seminggu atau sekali sebulan, pokoknya weekend harus ada perjalanan. Apa kalian tidak bosan weekend hanya dihabiskan di dalam kota saja? Seminggu di dalam kota, baik beraktivitas dan lain sebagainya hanya di dalam kota. Maka aku terinspirasi oleh teman yang berkunjung ke tempat hanya dalam waktu sehari semalam.

Perjalanan singkat ini memang menyesuaikan mereka yang beraktivitas padat. Tidak memiliki hari libur yang cukup banyak. Jadi tetap bisa refresing meski hanya dalam waktu sehari-semalam, walau resikonya memang membuat bokong dan badan cenat-cenut. Hal itu memang menjadi masalah kecil, tapi coba rasakan sensasinya untuk melakukan perjalanan entah kemana hanya dalam waktu sehari saja. Agar pikiran kita tetap dapat fresh dan tidak terkungkung hanya di dalam kota saja. Baik untuk kalangan 17+ saja….

Jumat, 15 Agustus 2014

Menghilangkan Budaya Menghafal

Jawapos, Kolom Gagasan 21/7/2014

Saat sekolah baik dari TK hingga Universitas siapa yang tidak pernah tidak menghafal? Sebagai siswa maupun mahasiswa pernah dan bahkan selalu melakukannya. Apalagi guru memerintahkan muridnya untuk menghafal sebuah rumus tertentu dan lain sebagainya, maka murid langsung melakukannya. Padahal itu adalah tindakan belajar yang salah, karena tidak ada dalam kitab suci untuk melakukannya dan yang ada hanya Iqra’ (membaca). Hafalan hanya membebani pikiran, hafal bukanlah ingat karena ingat adalah menyimpan data didalam otak yang ditemukan kembali. Berbeda dengan hafal yang mengharuskan para murid untuk tahu hanya dengan membaca sekilas tanpa melihat buku.
            Dalam pembelajaran sekolah sebaiknya guru memberikan perhatian yang lebih dalam hal membaca bila dalam bidang sastra atau yang berhubungan dengan analisis. Apabila hitung-hitungan rumus lebih baik sering dilakukan latihan karena menghafal rumus adalah hal yang mustahil, karena dengan cepat hafalan itu akan hilang bila hanya satu dua kali membaca buku. Murid akan memiliki efek yang berbeda ketika dia selalu membaca buku, mereka akan tahu secara naluri dirinya sendiri. Inilah yang perlu ditekankan dalam hal mengajar sekolah, penulis sendiri juga mengalami bahwa menghafal itu tidak mudah karena merasa tertekan dengan waktu sempit.
            Jika belajar dalam bidang sastra bacalah novel, cerpen dan bila belajar IPS seperti geografi, sejarah dan sosiologi bacalah buku-buku yang membahas itu. Itu lebih baik daripada buku pelajaran sekolah, karena membaca tidak hanya cukup satu buku saja untuk mengetahui dunia ini. Mereka hanya perlu fokus dan membaca, hilangkan budaya menghafal munculkan budaya membaca itu lebih masuk akal karena daya ingat sama kemampuan mengingat berbeda.

oleh
Akhmad Faishal

Jumat, 30 Mei 2014

Upaya Mendigitalisasikan Budaya


Kumpulan Essai, Kekuatan Media Sosial, Natural Unila. 07 Mei 2013

Semangat masyarakat umum sekarang adalah semangat untuk beramai – ramai berkicau di media sosial. Dengan adanya media sosial mereka saling menujukkan jati diri, berkomunikasi seakan ada di depannya, bahkan perang adu mulut pun sering dilakukan di media sosial. Tidak hanya itu, beragam postingan mengenai segala sesuatu dapat di – upload, apapun bentuknya.

Dapat dikatakan bahwa masyarakat sekarang tengah menggandrungi media sosial sebagai cara untuk berkomunikasi, padahal mereka berkomunikasi secara sederhana sebagaimana yang dinyatakan Harold Lasswell siapa, berbicara tentang apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya (Littlejhon, 1996).

Hal ini sangat mengacu kepada kebutuhan informasi para pengguna media sosial. Mereka terkadang malas untuk mendapatkan informasi di tempat – tempat sumber informasi dan dengan bantuan media sosial mereka dapat memangkas jarak dan waktu. Begitu juga mereka sangat mungkin menjadi seorang yang apatis terhadap lingkungan sekitar, hal ini didasar karena adanya kecanduan yang berlebihan karena kemudahan yang diberikan. Banyak sekali kejadian karena dengan berkomunikasi secara sederhana tersebut seorang istri dapat kawin lari dengan orang yang diajak chatting dan seorang siswi dapat diculik karena alasan yang sama.

Berbicara mengenai media sosial tidak dapat terlepas dari peran teknologi itu sendiri, suatu saat ini akan menjadi sebuah budaya di tengah – tengah budaya asli Indonesia. Bahkan terlebih dapat menjadi sebuah budaya yang dapat menggeser nilai – nilai moral, misalnya saja kemudahan yang diberikan media sosial membuat kita dapat berbicara maaf – memaafkan kepada mereka yang bersalah, budaya salam – menyalami akan hilang, mendigitilasikan budaya saling menyalami menjadi digitalisasi. Padahal dibalik kemudahan tersebut tersimpan kekuatan media sosial untuk membuat masyarakat berubah.

Mereka tidak memikirkan itu, jika terdapat niat bahwa media sosial dibuat untuk pendamping saja, maka jelas naif sekali. Niat tersebut dapat bergeser atau dapat ditutupi oleh rasa kepuasan karena kemudahan yang diberikan oleh media sosial.

Philip Palmgreen mengatakan kepuasan yang dicari dari media ditentukan oleh sikap terhadap media tersebut—kepercayaan tentang apa yang diberikan dan evaluasi tentang bahan tersebut. Rasa penasaran juga mempengaruhi apalagi ditambah dengan lingkungan termasuk orang – orang sekitar. Mereka akan semangat ketika menemukan suatu media sosial yang pas untuk digunakan dari sekian ribu media sosial yang tersebar di internasional networking.

Kepuasan melahirkan hal – hal lain dan manusia tidak akan berhenti ketika kepuasan telah didapatkan. Namun hal ini juga bergantung pada setiap individu yang menggunakannya, mereka yang telah mendapatkan kepuasan akan terus – menerus menggunakannya dan karena seringnya lagi – lagi akan membuat budaya baru. Misalnya saja, ketika dia sukses mendapatkan seorang pendamping sesuai idaman, anggap saja pacar, lewat media sosial. Jelas mereka akan terus mencari lagi dan lagi, proses berkelanjutan hingga membuat digitalisasi budaya seperti pernyataan diatas.

Zaman dahulu ketika anak laki – laki berdekatan dengan seorang wanita, mereka menggunakan sebuah surat. Dan ketika lambat laun berubah menjadi secara langsung, berkomunikasi dan selanjutnya berubah lagi melalui media sosial.

Sangat hebat sekali satu berubah dan yang lain akan berubah juga, dengan cara menonjolkan identitas diri melalui media sosial. Mereka terkadang terlalu narsis hingga meng – upload semua hal tentang dirinya dan agar semua orang melihatnya. Kadang kala hal ini yang menyebabkan kepuasan kita seseorang tersebut mendapatkan apa yang telah disediakan melalui media sosial.

Kemudahan dan kepuasan karena hal sepele dapat merubah banyak hal, dapat memberikan ketergantungan bagi setiap masyarakat yang menggunakan secara berlebihan. Seperti yang telah dijelaskan diatas tentang istri dan remaja putri, mereka telah mendapat kemudahan dan kepuasan yang diberikan oleh orang lain melalui media sosial. Sandra Ball – Rokeach dan Melvin Defleur, mengutarakan bahwa khalayak tergantung kepada indormasi yang berasal dari media dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa, dalam hal ini yang dibahas adalah media sosial.

Informasi yang ada di media sosial tergantung dua individu yang saling mempengaruhi satu sama lain. Budaya kenalan menjadi sebuah budaya kenalan abal – abal karena melalui media sosial, tertutupi rasa penasaran kewaspadaan menjadi berkurang, hal – hal tersebut dapat membuat peristiwa yang tidak diinginkan.

Tidak hanya itu budaya saling – berinteraksi pun digitalisasikan, anak – anak dikampung sekarang telah memiliki teknologi yang dapat membuatnya berpartisipasi di media sosial. Jarang ada permainan tradisional yang diterapkan di era teknologi sekarang, bahkan bocah SD pun telah memiliki akun di jejaring sosial, tidakkah ini mengherankan?

Padahal sewaktu kecil, remaja sangat gemar bermain gundu (kelereng), bermain petak umpet dan lain sebagainya. Ketergantungan ini juga meracuni bocah – bocah sebagai korban paling sering yang kena efek ‘ketergantungan’, di media sosial juga diberi fasilitas permainan yang dapat membuat orang – orang, bahkan anak kecil untuk duduk selama dua jam lebih.

Upaya budaya menabung pun sekarang susah, karena mereka lebih berupaya untuk menghabiskan agar kepuasan dapat terpenuhi. Kemungkinan mereka juga terpengaruh oleh isu – isu yang sering dilontarkan di media sosial, mereka menjadi pribadi yang berbeda setelah berkelana di dunia maya termasuk di media sosial itu sendiri.

Kepuasan mereka dapat dipahami jika ditelisik lebih jauh, bahwa media sosial juga mampu memberikan pengaruh yang kuat untuk membelokkan ideologi maupun budaya. Mereka yang dapat kita sebut sebagai oknum, mengeluarkan pendapat maupun isu untuk mempengaruhi masyarakat, akan sangat dengan cepat beredar melalui jaringan internet. Isu – isu tersebut akan mempengaruhi perilaku mereka sehari – hari, semisal saja mengembalikan budaya berjilbab dengan isu maupun berita yang dilontarkan semacam artikel agar masyarakat menggunakan jilbabnya karena akan terlihat anggun.

Hal – hal seperti itu membuat politik masuk untuk saling mencerca musuh dan untuk mencari dukungan. Media sosial dianggap ampuh untuk memberikan dukungan baik riil maupun moril, kadang seperti yang dikenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972), bahwa media memberi tekanan pada suatu peristiwa maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.

Ketika ada hal – hal penting seperti saling mencerca, jika di dunia nyata harus ada estetikanya, di media sosial mereka dapat saling perang mulut dengan bebas. Dimana mereka tidak saling berhadapan langsung, melainkan hanya mengetik dan menyuarakan apa yang ada didalam benakny lalu diposting dan itu membuat perubahan besar di masyarakat, ‘Perang Dingin Networking’.

Dimana perang tersebut dilontarkan secara langsung namun melalui media yang mendukungnya. Mereka ternyata puas dengan media sosial yang digunakan sehingga dengan mudah untuk langsung mengarah ke tujuan dan itu nanti juga akan didukung oleh orang – orang yang pro, mengkroyok melalui media sosial. Mereka akan malu, karena seperti yang dinyatakan tadi bahwa media sosial adalah perwujudan jati diri. Mereka akan melupakan budaya malu ketika kalah karena mereka dapat membalasnya melalui media sosial.

Mereka yang mengkroyok tentu mengatakan bahwa pendapat salah satu benar, begitu juga sebaliknya apabila kontra. Media sosial dapat menarik apapun, baik materi, dukungan, jasa dan yang lainnya. Upaya – upaya seperti ini juga kadang dilakukan para pelaku marketing, pedagang online yang mejual produknya melalui media sosial. Mereka tidak perlu berjalan – jalan karena order akan datang setelah melihat promosi yang disebar melalui media sosial. Media sosial bak angin, yang dulu dikatakan bahwa angin menyampaikan pesan, sekarang tanpa kesulitan masyarakat dapat mengirim segala sesuatu apapun bentuk dengan kemudahan.

Mengirim segala sesuatu juga dapat berupa sebuah pendapat tentang hal – hal yang beredar. Media sosial juga memfasilitasi itu dengan adanya sebuah forum maupun grup agar mereka dapat berdiskusi, ini menjelaskan teori yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle – Neuman (1976) bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang – orang lain dalam masyarakat.

Masyarakat dapat memancing sebuah pendapat tentang apapun itu dan nantinya akan dapat respon terhadap orang – orang yang ada di dalam media sosial yang diikutinya. Kadangkala mereka mempengaruhi satu sama lain, melibatkan sisi emosi dan persepsi individu, sehingga mereka dapat dengan mudah setelah meninggalkan media sosial mereka dapat mengatakan tidak setuju untuk apa yang telah dibicarakan melalui media sosial.
Kadang juga pendapat mereka mencibir atau menyindir mereka yang terlalu percaya diri. Utamanya adalah para artis yang suka membuat hal – hal kontroversial, mereka akan mendapat perlawan secara langsung (lagi – lagi) melalui media sosial. Masyarakat menggalang dukungan melalui media sosial, mereka tidak perlu merasa turun tangan karena seperti yang telah dijelaskan bahwa media sosial dapat memangkas jarak dan waktu, mereka seolah – olah berada di depan orang yang ingin dikritik (bentuk dukungan).

Seperti inilah semangat mereka di era media sosial telah menjamur, karena media sosial memberikan fasilitas tersebut. Masyarakat tidak perlu turun ke jalan, mengkritik secara langsung melainkan cukup lewat media sosial dan aspirasi pun dapat dilihat dan dipahami. Inilah yang dilakukan oleh salah satu politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda Hamidah, dia membuat kedekatan terhadap para pendukungnya atau pemilihnya untuk mendengarkan aspirasinya. Inilah yang dia katakan, seperti dikutip SidomiNews, “Respon masyarakat sangat luar biasa. Mereka mengerti benar bagaimana menggunakan media sosial sebagai media penyaluran aspirasi, maupun keluhan, serta aduan. Di tiap bulannya kami mampu menampung 30 aduan. Laporan ini tidak termasuk yang datang secara langsung”.

Alhasil Digitalisasi Budaya berhasil menjadi kehidupan di sela – sela kehidupan masyarakat umum saat ini. Mereka tidak lagi perlu panjang lebar berbicara, cukup lewat media sosial yang disukai, berkomunikasi maupun dilakukan hal lain yang dapat memberikan kepuasan dengan sistem komunikasi yang sangat sederhana melalui media sosial. Kehebatan dan kemudahan seperti ini harus diingatkan jangan sampai terlalu berlebihan, karena segala yang berlebihan akan berujung pada kehancuran. 

Oleh
Akhmad Faishal

Upaya Penyelamatan Koleksi - Koleksi Langka


Beberapa bulan yang lalu penulis berkunjung ke Perpustakaan Unair kampus B untuk mengerjakan tugas kuliah. Bersama beberapa teman, kami menelusuri dari lorong ke lorong untuk menemukan buku diantara ratusan ribu koleksi yang dapat kami jadikan sumber referensi tugas kami. Lorong lurus diapit antara rak – rak yang berjejer dan dipisah sejauh beberapa sentimeter agar pengguna dapat berjalan dan melihat kanan kiri yang berisi koleksi – koleksi Perpustakaan. Di dalam rak – rak tersebut bercampur buku lama dan buku baru, hal itu dapat anda lihat dari covernya saja. Jika cover tersebut lumayan bagus maka itu termasuk buku baru, jika sedikit terkelupas anda dapat mengetahui bahwa itu buku lama.

Setelah kami menemukan apa yang kami cari, selanjutnya kami berbicara dengan petugas yang menjaga ruang tersebut. Untuk meminta izin mengcopy beberapa lembar dari buku yang kami inginkan itu, kami tidak ingin meminjamnya karena lebih ingin mengcopy. Lebih enak nantinya dalam menggali informasi di dalamnya. Begitu juga copyan tersebut dapat dibawa pulang dan lain sebagainya, lebih dari itu seperti sobek maupun lungset (lecet) tidak perlu dimarahi oleh petugas perpustakaan.

Kebetulan waktu itu salah satu dari teman kami yang pergi untuk memfotocopy buku tersebut dan penulis tetap berada di tempat, menunggunnya. Selama menunggu teman penulis kembali, tiba – tiba ada beberapa mahasiswa entah dari jurusan mana datang membawa buku yang tebal dan sudah rusak. Penulis sempat melihat siapa yang membuat karya berbentuk buku yang dibawa oleh beberapa mahasiswa tersebut yakni karya dari William Shaksphere. Penulis menduga bahwa yang meminjam buku tersebut adalah mahasiswa jurusan sastra dari Fakultas Ilmu Budaya.

Penulis dapat mengatakan bahwa buku tersebut sudah tidak layak pakai dan sudah dimasukkan kedalam ruang preservasi untuk direhabilitasi. Sejatinya mereka ingin meminjam buku tersebut, paling tidak untuk mengcopynya. Namun petugas jaga tersebut melarang mereka dengan alasan buku tersebut tidak dapat keluar dari ruangan tersebut. Jadi dapat diartikan bahwa buku tersebut termasuk golongan koleksi langka yang dimiliki Perpustakaan.

Mereka tidak dapat sekenanya untuk membawa keluar guna meminjam apalagi memfotocopynya. Penulis yakin mereka agak kecewa karena tidak dapat dengan leluasa untuk menggali informasi yang ada didalam buku karya Shaksphere. Beberapa saat setelah mahasiswa itu pergi entah mengembalikan untuk mengganti dengan buku yang lain yang dapat difotocopy atau menggali informasi langsung di tempat, teman penulis kembali dengan fotocopyan kami.

Setibanya di rumah, penulis berpikir apa yang dapat penulis lakukan setelah melihat kondisi koleksi – koleksi yang parah macam buku tadi. Sedikit kepikiran, namun hanya terlintas saja, pikiran – pikiran macam itu selalu muncul secara tiba – tiba. Hingga tiba saatnya membahas permasalahan semacam itu pada waktu perkuliahan mengenai kajian masalah seputar Informasi dan Perpustakaan.

Penulis memang cenderung lebih tertarik terhadap ilmu informasi dan perpustakaan mengenai preservasi. Akhirnya, penulis mendapatkan ide mengenai upaya penyelamatan koleksi – koleksi langka, yang bertujuan agar buku seperti karya William Shaksphere tidak pernah terjadi lagi. Karena bila rusak maka tidak lama lagi akan hancur dan informasi di dalamnya dapat hilang. Sebagai seorang akademisi yang mempelajari tentang ilmu informasi dan perpustakaan, kehilangan buku atau informasi langka sama saja kehilangan emas dan perak.

Persamaan nilai tersebut karena koleksi – koleksi langka tersebut sudah tidak lagi diterbitkan. Oleh karena itu, perlu penanganan lebih jika ingin menyelamatkan mereka. Sekedar memberikan pengetahuan kepada para pembaca, jika kita membicarakan koleksi langka maka kita harus tahu bagaimana sebetulnya koleksi langka itu. Koleksi langka menurut penulis adalah sebuah informasi yang ditulis di media yang diterbitkan dalam jumlah tertentu. Jadi tidak semua lembaga informasi termasuk perpustakaan memiliki koleksi itu.

Agar anda lebih jelas mengenai koleksi langka, penulis telah mencari berbagai sumber mengenai itu di media pencari internet. Penulis merasa cocok dengan apa yang dikatakan oleh bapak Safak Muhammad (2004) seorang penulis buku The Spirit of Keberkahan Finansial beliau membaginya dalam tiga hal.

Pertama, buku baru yang dicetak dalam jumlah terbatas seperti serial komik terkenal di dunia, Tintin dan Travel City. Kedua, nilai histori yang dimiliki oleh koleksi itu ditambah tokoh penulis yang terkenal pada zamannya, seperti Negarakertagama, The History of Java, kumpulan surat RA Kartini yang dibukukan dengan Judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Semuanya itu merupakan koleksi – koleksi yang tergolong langka yang ditulis oleh seorang kenamaan. Sebut saja pengarang The History of Java yakni Sir Thomas Stamford Raffles, pengarang Negarakertagama yakni Mpu Prapanca.

Membicarakan hal tersebut penulis kembali teringat sesuatu saat membaca novel karya Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code dan Angel n Demons. Dan seperti yang anda ketahui bahwa kedua novel tersebut sudah difilmkan bahkan bajakannya sudah banyak beredar. Namun disini penulis tidak akan membahas salah satu bentuk plagiat yakni bajakan. Penulis akan membahas bagaimana kondisi koleksi yang disimpan dalam dua tempat yang berbeda.

Dalam Da Vinci Code, tokoh yang bernama Sir Leigh Teabing merupakan sejarawan terkemuka Inggris. Beliau memiliki koleksi – koleksi khusus yang memuat informasi tentang The Grail, sayangnya cara penyimpanan koleksi yang dimiliki olehnya tidak karuan alias serampangan. Berbeda dari koleksi – koleksi yang ditunjukkan pada film Angel n Demons, koleksi – koleksi tersebut tertata rapi dan sesuai dengan tahun terbit, pengarang dan judul bukunya. Sebagai seorang akademisi informasi dan perpustakaan, penulis melihat koleksi langka yang ada dalam film Da Vinci Code terlihat mengenaskan, tapi jika melihat koleksi yang tersimpan dengan baik seperti dalam film Angel n Demons penulis merasa damai karena koleksi yang berumur ratusan tahun masih ada dan masih dapat diambil informasi yang terkandung didalamnya.

Kedua hal ini menjelaskan bahwa memang diperlukan upaya untuk menyelamatkan koleksi – koleksi langka karena kontribusinya terhadap perkembangan zaman. Dan juga untuk menghormati serta mengenang jasa mereka (para pembuat karya atau penulis saat itu) karena telah memberikan informasi mengenai sesuatu yang terjadi pada saat tersebut. Dengan kata lain bidang sejarah dan sastra merupakan dua bidang yang paling banyak memberikan sumbangan koleksi – koleksi yang berstatus langka dalam upaya penyelamatan koleksi – koleksi langka serta upaya melestarikan koleksi tersebut agar informasi yang terkandung didalamnya dapat abadi.

Seperti tulisan Galileo Galilei yang berjudul Discorso, Dialogo dan Diagrama. Ketiganya merupakan karya langka yang hanya dimiliki oleh Perpustakaan Vatikan, Penulis dapat mengatakan langka karena alasan sebagai berikut. Bahwa informasi yang terkandung di dalamnya menjelaskan bagaiamana kondisi ilmu pengetahuan pada saat zaman kegelapan dimana Ilmu pengetahuan modern masih sangat tabu. Dan terlebih ketiga karya tersebut telah membentuk wajah kota Roma, Italia, seperti sekarang ini.

Sepanjang mengetahui bahwa ketiga karya Galileo itu merupakan koleksi langka, pengurus Perpustakaan Vatikan membangun ruang khusus untuk menyimpannya. Ruangan ini dapat menyelamatkan koleksi – koleksi tersebut, karena mereka sadar akan pentingnya informasi yang dikandung dalam buku – buku tersebut. Dan juga penulis menduga, mereka beranggapan bahwa yang tersisa dari masa lalu bukanlah bentuk fisik melainkan informasi yang dituangkan dalam bentuk dokumen maupun arsip. Hal ini akan menjadi penting karena bagaimana perbedaan perkembangan ilmu pengetahuan masa lalu dan masa kini serta apa yang dapat diwariskan oleh leluhur pada masa kini.

Ketiga, dari apa yang diutarakan oleh pak Safak Muhammad, beliau mengatakan koleksi yang menjadi favorit di masa penerbitannya dan sudah tidak diterbitkan lagi. Seperti serial pertama novel Harry Potter karangan J.K Rowling, Da Vinci Code karangan Dan Brown. Tidak hanya koleksi atau buku – buku dari luar negeri saja, tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga koleksi atau buku – buku dalam negeri yang menjadi favorit, seperti Lentera Merah, Soekarno : Penjambung Lidah Rakyat dan lain sebagainya.

Oleh karena itu diperlukan kesadaran akan pentingnya upaya dalam penyelamatan koleksi – koleksi langka ini. Beberapa waktu lalu saat berdiskusi dengan teman mengenai masalah preservasi ini di perpustakaan kampus B, penulis menyimpulkan bahwa perpustakaan sekelas perpusnas RI juga mempunyai kesadaran yang rendah. Hal itu dapat dibuktikan bagaimana bentuk rupa ruang preservasi di dalam foto yang diambilnya. Sangat terlihat buruk dan tidak terawat. Dengan begini, dapat penulis katakan bahwa pustakawan dalam negeri kurang memperhatikan masalah – masalah seperti ini. Dan yang paling saya khawatirkan, kejadian rusaknya buku seperti karya Shaksphere tadi akan terulang lagi.

*Musuh Koleksi Langka*

Anda tidak perlu meracau untuk mempertanyakan apakah isi sebenarnya kandungan ketiga karya Galileo sehingga masuk golongan koleksi langka. Bagaimana kebenarannya dan lain sebagainya, sangat tidak dianjurkan karena dapat menguras tenaga. Penulis menyarankan anda masih mempunyai banyak waktu untuk mencari kebenaran itu sendiri atau membuktikan hal – hal yang menarik dalam tulisan ini. Yang pasti di sini penulis menjelaskan mengenai upaya penyelamatan koleksi – koleksi langka.    

Seperti yang dikatakan Newton ada sebab pasti ada akibat (hukum sebab – akibat). Anda perlu mengetahui dulu apa yang menjadi sebab koleksi langka perlu dilindungi sehingga anda akan tahu akibat yang ditimbulkan kemudian dicari solusi yang tepat untuk menanganinya. Pada dasarnya seperti yang anda ketahui bahwa sebagian besar koleksi ditulis dalam media kertas sejak abad 2 D di Cina. Kertas terproses sedemikian rupa dari serat – serat tumbuhan ditambah dengan proses kimia, dampaknya kertas mempunyai sifat yang sama dengan tumbuhan mati yakni, pelapukan. Apalagi, kertas yang terbuat dari papyrus yang daya tahannya tidak lebih dari satu abad. Maka diperlukan penanganan khusus jika perpustakaan mempunyai koleksi – koleksi langka semacam ini.

Penulis akhirnya mencari beberapa sumber referensi untuk mendukung penulisan kajian masalah ini. Ada beberapa buku yang menjadi incaran penulis sebagai sumber referensi, tepatnya tiga buku. Namun, sialnya hanya satu buku saja yang ditemukan oleh penulis di perpustakaan kampus B Unair sehingga sisanya penulis cari di situs pencarian internet. Dan benar saja ada keterkaitan antara buku yang ditemukan oleh penulis dengan informasi yang diposting di internet oleh Tamara A. Salim-Susetyo,S.S., M.A. (berdasarkan buku Ross Harvey, 1993). Beruntunglah penulis mendapatkan berbagai informasi yang dapat mendukung tulisan ini. Dan nantinya akan ada berbagai macam buku yang mendukung jika anda membaca tulisan ini lebih lanjut.
Pertama, buku yang menjelaskan mengenai preservasi dengan judul Pelestarian Bahan Pustaka. Informasi yang didalamnya sangat lengkap sekali, ada banyak faktor yang dapat membuat buku menjadi rusak, terkelupas maupun hancur. Mulai dari Faktor Fisika, Kimia, Hewan dan Tumbuhan hingga faktor manusia itu sendiri. Jika kita membicarakan fisika maka tidak akan terlepas dari sesuatu tentang alam itu sendiri, maksudnya yang mempengaruhi adalah faktor lingkungan. Sebut saja cahaya, debu dan lain semacamnya.

Anda akan berpikir bagaimana cahaya dapat membuat rusak sebuah buku. Cahaya merupakan sebuah energi yang berbentuk gelombang, pancaran sinarnya mengandung kalor (panas) yang dapat merusak koleksi. Dalam fisika, cahaya dibedakan menurut gelombangnya, semakin kecil gelombang suatu sinar maka akan semakin besar energinya begitu juga sebaliknya. Di sini yang dimaksud adalah cahaya matahari, cahaya ini mengandung sinar Ultraviolet (UV) yang dapat membuat koleksi memudar tulisan dan membuat kertas menjadi rapuh akibat kehilangan kekuatan. Dan jika telaah lebih lanjut lampu neon juga mengandung sinar UV namun dalam jumlah yang sedikit. Tapi tidak baik pada koleksi jika tersinari secara terus – menerus.

Selain itu ada juga yang diakibatkan oleh suhu dan kelembapan. Mereka juga berpotensi merusak koleksi – koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan, khususnya koleksi langka. Apalagi keadaan geografis Indonesia yang diapit oleh dua benua dan dua samudra sehingga tingkat kelembapan dan suhu yang kadang tinggi dan rendah. Oleh karena itu, J.G.O Tepper (1900) mengatakan, Biasanya penghangatan perpustakaan...nampaknya dianggap semata-mata hanya untuk kesenangan dan kenyamanan pengguna perpustakaan dan staf perpustakaan. Suatu kekeliruan yang besar tidak dapat dibuat, karena pada kenyataannya korservasi benda-benda yang berharga disimpan di dalam bangunan dengan suhu yang tinggi yang dihasilkan dari fasilitas pemanas, tetapi fasilitas tersebut harus diterapkan dan diatur dengan benar. Dia mengatakan ini karena perpustakaan yang diamati adalah perpustakaan di Eropa.

Berbeda halnya di Indonesia, untuk itu IFLA mengaturnya dengan menetapkan suatu kondisi penyimpanan yang baik berkisar antara temperatur 16˚C sampai 21˚C dan dengan kelembaban relatif antara 40% dan 60%. Hal ini juga didukung oleh Ritzenhaler menurutnya yaitu sekitar 67˚F (20˚C) ± 2˚F.(6) Dengan perbandingan, 21˚C  diperhitungkan akan menjadi terlalu dingin untuk ruang baca di daerah tropis, di mana temperatur di luar ruangan biasanya lebih tinggi dan para pengguna perpustakaan di ruang baca berada di dalam temperatur kira-kira 21˚C  akan merasa dingin.

Namun kiranya bila ingin menentukan apa yang terbaik dapat melihat beberapa faktor yakni salah satunya adalah dengan melihat iklim lokal. Tingkat kelembaban relatif yang lebih rendah daripada 35% biasanya dianggap terlalu merusak buku. Tingkat kelembaban relatif di atas 70% terlalu beresiko karena akan meningkatkan pertumbuhan jamur pada buku. Koleksi – koleksi langka memang sangat sensitif terhadap yang satu ini, karena suhu dan kelembapan dapat bersentuhan secara langsung dengan koleksi. Jika hal ini berlangsung secara terus – menerus maka kekuatan kertas tidak akan dapat bertahan lama, akibatnya dapat dilihat dari bentuk buku tersebut. Seperti, kertas menjadi lembek, mudah robek dan kulit cover buku terkelupas.

Kemudian ada juga faktor partikel debu dan polutan yang dapat membuat cover koleksi memudar atau juga dapat menimbulkan plak hitam. Partikel debu dapat berasal darimana saja, seperti pasir yang terbawa angin atau juga dapat berasal dari sepatu kita yang terbawa dari luar lalu masuk ke dalam ruangan. Akibatnya debu menempel pada koleksi sehingga membuatnya terlihat mangkak atau mengaburkan warna cover koleksi tersebut.

Mengenai polutan dan partikel debu ada standard sistem penyaringan udara Inggris yaitu BS5454 Inggris; 1989. Kantor Pemeliharaan Nasional di Inggris menyarankan bahwa ketika udara yang masuk harus disaring secara ekonomis (untuk menghilangkan partikel debu dengan diameter 2µm atau lebih sebanyak 95%). Kedua, kerusakan terjadi karena faktor kimia. Seperti yang anda ketahui juga bahwa proses pembuatan kertas juga tidak lepas dari faktor kimia. Campuran senyawa kimia semacam tinta ini lambat laun akan terurai dan akhirnya dapat merusak kertas. Hal ini disebabkan adanya peristiwa oksidasi dan hidrolis.

Penjelasan sederhana mengenai keduanya seperti ini. Oksidasi merupakan peristiwa yang terjadi karena pertemuan oksigen dengan zat – zat lain yang dapat membuat perubahan fisik terhadap kertas, seperti hancur dan sebagainya. Contoh zat ini adalah air yang senyawa kimianya adalah H20, jadi jangan anda kira bahwa oksidasi hanya dapat timbul pada besi saja.

Sedangkan peristiwa hidrolis merupakan reaksi pemecahan senyawa kimia yang terdiri atas unsur air. Kertas memiliki kandungan asam yang dapat membuat efek buruk ketika bertemu dengan senyawa berjenis cair, hal ini dapat mempercepat kerusakan pada kertas dan sangat berbahaya serta harus diwaspadai. Karena itu sangat tidak diperbolehkan memegang koleksi langka dengan menggunakan tangan kosong, karena bertujuan untuk meminimalisir ‘kecelakaan’ pada koleksi tersebut.

Apa yang penulis utarakan tadi diperkuat oleh pendapat tokoh Perpustakaan Mary Lynn Ritzenthaler. Mengutip pendapat beliau bahwa Lingkungan fisik yang ideal untuk material arsip meliputi kelembaban relatif dan temperatur yang terkontrol, udara bersih dengan sirkulasi yang baik, sumber penerangan yang terkontrol dan bebas dari jamur, serangga, serta gangguan binatang pengerat. Pelaksanaan pemeliharaan gedung yang baik ketentuan keamanan dan ukuran untuk melindungi koleksi terhadap api dan air yang benar – benar merusak cakupan masalah lingkungan.

Ah, penulis lupa menjelaskan mengenai permasalahan pengerusakan yang diakibatkan oleh hewan maupun tumbuhan serta permasalahan mengenai bencana seperti air dan api. Bila tidak diingatkan oleh beliau, penulis mungkin akan langsung masuk kedalam pembahasan ruang preservasi. Baik, seperti yang anda ketahui tadi bahwa penulis hanya mendapat satu sumber referensi dari perpustakaan kampus B Unair, bukan tidak mau untuk mencari sumber referensi di tempat lain karena tulisan ini hanya untuk mengkaji masalah dengan pendekatan referensi dan teori semata saja. Walaupun begitu referensi yang penulis temukan cukup lengkap.
Lupakan itu, langsung masuk ke permasalahan, kerusakan pada kertas tidak hanya didominasi oleh faktor fisika dan kimia saja. Seperti yang dikatakan Ritzenthaler bahwa binatang dan tumbuhan juga masuk dalam daftar perusak koleksi perpustakaan. Yakni, fungi, fungi atau jamur merupakan tumbuhan bersel satu yang tidak dapat membuat makanan sendiri karena tidak mengandung klorofil. Oleh karena itu dia hidup menumpang dengan mengambil mineral – mineral yang menjadi inangnya tidak terkecuali koleksi itu.

Karena itu dia dapat hidup pada kelembaban rendah, akibatnya dia dapat membuat rapuh koleksi – koleksi langka. Karena akar – akarnya menjalar di tubuh buku, apalagi jika koleksi tersebut sudah agak berwarna pucat dan retak. Hal itu sudah pasti terindikasi bahwa ada jamur di sana. Bukan hanya jamur saja, hewan – hewan seperti kecoa, rayap dan kutu buku serta hewan pengerat semacam tikus juga sering merepotkan pegawai perpustakaan karena dapat merusak buku dengan cepat.

Penulis ingin menjelaskan sedikit mengenai dampak hewan – hewan tersebut. Kecoa mengeluarkan cairan jika menempel benda seperti koleksi – koleksi tersebut, cairan ini akan menimbulkan noda dan sulit hilang. Sehingga akan menimbulkan perubahan warna yang membuat koleksi langka terlihat kusam. Lalu anda sudah pasti tahu tentang rayap, rayap merupakan musuh utama bagi semua perabot yang berasal dari kayu. Rayap membuat tempat tinggal dengan cara membuat lubang pada kayu – kayu tersebut lalu kemudian hidup didalamnya, tidak hanya pada kayu saja koleksi – koleksi tua pun tidak lepas dari incaran para rayap.

Kemudian hewan lainnya yang dapat mengancam kerusakan koleksi adalah kutu buku. Hewan ini memakan perekat dan lem yang mengandung protein yang ada pada koleksi, memang tidak mudah untuk mendeteksiny karena hewan – hewan ini berukuran kecil. Dan hewan lain yang dapat menyebabkan kerusakan adalah hewat pengerat macam tikus, tikus sendiri merupakan hewan omnivora yang memakan segala, maka dari itu jika tidak disimpan dengan cara yang tepat maka akan menjadi makanan tikus.

Bencana maupun musibah juga merupakan salah satu musuh yang sulit untuk dideteksi, karena datangnya memang tak dapat diduga. Buku Ross Harvey, 1993 yang dijelaskan oleh Tamara A. Salim-Susetyo,S.S., M.A dan Buku Pelestarian pustaka sama – sama memberikan empat macam bencana yang dapat menghancurkan koleksi – koleksi langka, pertama, yakni Api, api sendiri mempunyai sifat untuk membakar apapun yang ada disekitarnya dan dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti konsleting atau api kecil sekalipun. Oleh karena kita itu kita harus berhati – hati jika menyalakan sesuatu yang berkaitan dengan api maupun listrik (karena listrik jika timbul percikan dan mengenai sesuatu yang mudah terbakar dapat menjadikannya api).

Kedua, yakni air, memang didalam perpustakaan dilarang membawa makanan dan minuman. Karena untuk mengantisipasi bila terjadi sesuatu seperti menumpahkan minuman diatas koleksi yang dipinjam, jika koleksi tersebut masih baru mungkin dapat dicari gantinya dan dibetulkan kembali. Namun itu jika koleksi langka yang tidak dapat ditemukan dengan mudah maka akan berakibat kehilangan besar.

Yang ketiga merupakan akibat peperangan yang dapat menghancurkan informasi yang terkandung didalamnya. Peperangan tidak hanya mengacaukan ketentraman, peristiwa yang dapat disebut sebagai Maha Kekacauan, mampu menghilangkan sebuah peradaban. Jika peperangan sampai menghancurkan bangunan – bangunan yang bernilai sejarah atau bangunan yang menyimpan koleksi – koleksi langka layaknya perpustakaan, maka hal ini akan menjadi bahaya bagi peradaban dan kebudayaan itu.

Koleksi – koleksi tersebut bukan hanya telah mengumpulkan data – data sejarah atau informasi – informasi dari masa melainkan juga kebudayaan. Jika itu hilang begitu saja akibat perang, maka tidak ada cara untuk mengembalikan informasi – informasi penting sebagaimana kita tahu bahwa sudah tidak ada rujukan lagi untuk menemukan informasi yang dibutuhkan bila pusatnya sudah hancur. Oleh karena itu, seperti kata pepatah hancurkan budayanya maka bangsa itu akan hancur dengan sendirinya.

Dan yang terakhir adalah pencurian, kiranya betul kata pepatah ‘pencuri lebih pintar daripada yang menangkap’. Ini kenyataan bahwa pencuri dari tahun ke tahun memang lebih maju seiring berkembangnya zaman, tidak hanya mengincar emas dan perak semata kadang – kadang pencuri juga mencuri barang – barang sejarah atau koleksi – koleksi langka yang berharga. Mereka lebih berhati – hati dan penuh strategi untuk mengambil benda incaran, dengan sedikit bantuan dari teknologi masa kini mereka dapat mengambil benda yang mereka inginkan.

Kalau tidak salah ingat, dulu pernah dikabarkan bahwa pernah ada kasus pencurian lukisan monalisa. Ini sangat mengejutkan dunia kala itu, dengan sistem pengamanan yang canggih koleksi langka berupa lukisan top dunia hilang dicuri. Ini menandakan bahwa tidak hanya dapat mengandalkan teknologi untuk mengamankan koleksi langka melainkan juga harus dengan kewaspadaan penjaga dalam upaya menyelamatkan koleksi – koleksi langka yang berharga yang dimiliki oleh perpustakaan.

Hal – hal seperti itulah yang dapat menghancurkan atau merusak koleksi – koleksi perpustakaan. Kiranya anda dapat melihat sendiri bahwa kerusakan koleksi tidak hanya berdasar pada satu faktor saja melainkan ada beberapa faktor yang dapat membuat koleksi tersebut rusak. Satu hal yang menarik untuk dipikirkan adalah bahwa jika buku Pelestarian Bahan Pustaka ada, mengapa perpustakaan seolah tidak perduli ada buku rusak semacam karya William Shaksphere tersebut.

Padahal penulis buku tersebut telah mengerahkan kemampuannya dan mencurahkan segenap tenaga serta memeras keringat menulis buku tersebut agar perpustakaan dapat meminimalisir kerusakan pada koleksi – koleksi yang dimilikinya. Tentu penulisan buku semacam itu memerlukan penelitian yang mendalam agar pembaca tahu apa saja musuh – musuh koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan itu, utamanya koleksi langka.
Oleh sebab itu, penulis tidak serta merta menyalahkan pengelola perpustakaan. Kemungkinan saja buku tersebut terselip diantara banyaknya koleksi – koleksi yang dimilikinya sehingga perpustakaan merasa kecolongan. Dugaan – dugaan seperti itu terlintas di dalam pikiran penulis, semakin penulis merasa ingin membela karena ketidaktahuan perpustakaan ada buku mengenai itu semakin perpustakaan terlihat bersalah karena pengelola perpustakaan kurang update informasi, kurangnya membaca buku dan mengimplementasikan.

Namun terlepas dari itu dengan adanya penulisan kajian masalah ini, anda tahu dan mungkin dapat membantu perpustakaan dalam upaya penyelamatan koleksi langka. Penulis dan anda sama – sama memberikan informasi kepada perpustakaan agar tidak merasa kecolongan lagi, kerusakan – kerusakan semacam cover buku terkelupas tidak terjadi lagi. Karena ditakutkan kerusakan kecil akan menyebabkan kerusakan besar dikemudian hari, pada saat itu informasi didalamnya ditakutkan juga akan hilang dan itu yang paling tidak kita inginkan.

Oleh karena itu perlunya menumbuhkan sikap dan semangat untuk kegiatan sosial menyelamatkan koleksi langka atau kalaupun tidak, anda dapat menyelamatkan barang – barang yang berstatus langka sehingga dapat menyelamatkan informasi yang dikandung didalamnya. Sehingga hasilnya, informasi atau koleksi langka tersebut dapat diwarisi kepada generasi selanjutnya. Di negeri ini sikap seperti itulah yang dibutuhkan oleh negeri ini, mengingat banyak sekali koleksi – koleksi berharga yang tidak terawat dan dikhawatirkan tidak selamat serta hancur. Akibat ketidakpedulian itu, informasi yang terkandung dalam koleksi tersebut hilang begitu saja dan tidak dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

*Ruang Penyimpanan Khusus*

Setelah penulis dan anda atau kita sudah sama – sama tahu apa saja yang menjadi musuh koleksi langka maka kita di sini akan membicarakan mengenai solusinya. Jika kita sudah membicarakan mengenai sebab – akibat, maka selanjutnya adalah solusi, benar kan? Anda akan sepakat dengan penulis, nah ini saatnya bagaimana penulis memberikan solusi mengenai upaya penyelamatan koleksi – koleksi langka berdasar referensi yang didapatkan oleh penulis.

Sebelum masuk ke intinya, penulis ingin anda membayangkan atau dalam gambaran anda mengenai sebuah penjara yang manusiawi. Maksudnya penjara yang benar – benar memanusiawikan seseorang, apalagi penjara yang akan menahan seseorang seumur hidup. Maka diperlukan fasilitas yang mendukung agar seseorang yang dipenjara tetap diperlakukan secara manusiawi. Mulai dari tempat tidur, wc dan kebersihan ruangan harus dijaga rapi agar seseorang tersebut tetap damai walaupun hidup didalam penjara.

Seperti itulah gambaran untuk menjaga koleksi – koleksi langka. Jika seseorang tersebut tidak diperlakukan secara manusiawi padahal dia tetap terus hidup dalam sebuah ruangan yang tidak mendukung dia hidup maka dia akan tersiksa, lalu hancur kemudian mati. Jika pada koleksi tanda – tandanya adalah cover yang terkelupas, warna pudar dan lain sebagainya.

Dalam upaya untuk menyelamatkan koleksi – koleksi langka yang dimiliki oleh perpustakaan, kiranya diperlukan fasilitas yang mendukung upaya tersebut. Yakni, pembuatan ruangan yang dapat melindungi, mengamankan dan menyelamatkan koleksi – koleksi langka ini, di Indonesia masih belum ada ruangan yang mempunyai fungsi yang seperti itu. Mereka masih menganggap ruangan penyimpanan preservasi adalah sebuah gudang, padahal gudang memang hanya bersifat gudang sebagai tempat menyimpan yang kondisinya kumuh dan pengap.

Terpikir setelah membaca novel Dan Brown yang berjudul Angel n Demons, penulis ingin ada ruangan preservasi seperti itu. Ruangan yang berada dibawah namun fasilitasnya nomer satu. Seperti untuk menghindarkan cahaya dengan kandungan sinar UV jendela harus dapat menyaring sinar UV, yakni memasang filter pada kaca jendela dengan lembaran plastik plexy type 12 f – 3. Namun plexy glass yang tipis bisa digunakan sebagai filter untuk menyaring UV dari cahaya lampu listrik.

Walaupun dalam filmnya tidak dijelaskan mengenai seluk beluk mengenai jendela tersebut namun buku Pelestarian Bahan Pustaka menjelaskannya. Menjelaskan bagaimana jendela tersebut mampu untuk menyaring sinar UV yang merusak koleksi. Kemudian untuk menghindarkan suhu dan kelembaban ruangan tersebut harus dilengkapi dengan alat demudifier.

Alat tersebut dapat menyerap uap air yang dipasang diluar karena mengeluarkan panas yang berbahaya bagi kertas. Ruangan tersebut juga ber – AC dan memiliki kedap suara, sehingga hampir tidak ada oksigen didalamnya. Hal ini mencegah timbulnya atau hidupnya makhluk yang dapat merusak koleksi. Kebersihan pun harus menjadi yang utamanya (tentu hal ini yang paling sering dilakukan) dengan vacuum cleaner secara berkala dan teratur.

Yang menarik adalah apa yang diberikan standart British mengenai kelembaban dan suhu. Yakni, Rekomendasi untuk penyimpanan dan pameran dari dokumen arsip mencatat bahwa material lain selain kertas secara umum harus disimpan pada suhu 13-16˚C dan kelembaban relatif dari 50-60%, jika tingkat perbedaan tidak diberikan dalam bagian yang berhubungan dengan material yang khusus. Hal ini memungkinkan koleksi tetap seperti awalnya, tidak mengalami percepatan pelapukan yang dapat merusak media kertas itu. Oleh karena itu demi keawetan koleksi sangat disarankan agar pengelola perpustakaan menerapkan aturan khusus ini.

Mengenai permasalahan kebakaran dan lain sebagainya pasti sudah dilakukan oleh pengelola perpustakaan. Betul sekali yang paling sering disorot disini adalah mengenai suhu dan kelembaban, dua hal tersebut memang sedikit tidak banyak berpengaruh namun setelah melihat kondisi ruang peminjaman buku hal itu berkata lain. Sebagaian yang sudah sering disebutkan oleh penulis yakni cover yang terkelupas banyak dijumpai, untuk itu masalah ini harus menjadi prioritas kedua setelah bencana kebakaran (api).

Oh, yang tidak kala penting adalah kaca tebal tembus peluru untuk menghindarkan dari pelaku pencurian. Keamanan tingkat tinggi yang patut kita tiru tidak hanya sampai disitu, Keamanan di perpustakaan ini pun dipantau dalam kamera CCTV serta penjaga yang menjaga ruangan ini. Ini merupakan kesungguhan mereka untuk menyelamatkan koleksi – koleksi yang diwariskan masa lalu untuk generasi masa depan, tentu saja ada tata cara mengenai membuka koleksi langka dengan cara benar sehingga tidak melukai atau merusak koleksi langka tersebut.

Diutamakan untuk selalu menggunakan sarung tangan dan penjepit khusus yang disebut finger cymblas – penjepit besar dengan cakram kecil pada ujung kedua penjepitnya. Sarung tangan berfungsi untuk menghindarkan keringat yang ada di tangan saat bersentuhan dengan kertas, hal ini merupakan prosedur yang digunakan jika koleksi tersebut sudah kuno dan langka. Kemudian penjepit tersebut berfungsi untuk membolak – balikkan kertas, kedua hal ini digunakan pada buku yang sudah berudzur terlebih kepada koleksi – koleksi yang terbuat dari daun papyrus.

Itu dari segi teknis yang dapat kita contoh, dari sisi perizinan pun mungkin juga dapat kita tiru. Bahwa perizinan dapat diberikan oleh kurator, kepala perpustakaan atau lebih tinggi yakni paus. Hal ini menjelaskan bahwa informasi yang ada didalam koleksi langka tersebut dapat dilakukan dengan cara – cara yang khusus, dapat dikatakan hanya dilakukan oleh orang – orang terpilih. Ini mungkin cara agar koleksi langka tersebut tidak cepat rusak dan hancur.

Namun ada cara lain agar koleksi tetap awet dengan melakukan pengasapan (Fumigasi) yang bertujuan mencegah, mengobati dan mensterilkan koleksi tersebut. Mencegah yang berarti dilakukan supaya kerusakan lebih lanjut dapat dihindari, mengobati yakni mematikan dan membunuh hewan yang merusak koleksi dan terakhir yang menetralisir keadaan seperti menghilangkan bau busuk yang timbul juga menyegarkan udara yang dapat menimbulkan gangguan atau penyakit.

Dari sekian banyak penjelasan mengenai upaya penyelamatan koleksi langka. Apakah anda tidak sedikit bingung perbedaan dengan koleksi lama? Walaupun anda mengatakan tidak, penulis akan tetap jelaskan. Pendapat penulis mengenai itu (setelah penulis konsultasi mengenai koleksi lama dan langka) dapat penulis simpulkan bahwa koleksi lama adalah koleksi yang disimpan dalam kurun waktu lima tahun setelah koleksi tersebut dimiliki oleh perpustakaan, namun setelah kurun waktu tersebut koleksi tersebut hanya sebagai koleksi biasa yang tidak istimewa.

Berbeda dengan koleksi langka yang sering diburu untuk dikoleksi atau dicari informasi yang masih dapat digunakan sampai sekarang walaupun sudah berumur ratusan tahun. Contohnya adalah koleksi – koleksi dari bidang sastra dan sejarah, kedua bidang itu seringkali masuk menjadi golongan koleksi langka karena memuat informasi yang dapat menjadi jujukan peneliti atau mereka yang ingin mengetahui hal – hal apa saja yang masih tersisa pada masa lalu. Pendapat penulis tersebut hanya menambahkan poin apa yang disampaikan oleh bapak Safak Muhammad. Mungkin anda dapat menafsirkan lain dan itu hak anda.

Dengan menjelaskan ini penulis sudah berandai – andai perpustakaan besar Indonesia akan memiliki ruangan penyimpanan khusus ini. Guna menyimpanan koleksi – koleksi langka berupa dokumen yang berisi kebudayaan, sastra maupun sepenggal cerita sejarah masa lalu. Kemudian, bagaimana melindungi koleksi langka yang sering diakses masyarakat yang membutuhkan? Duplikat itu merupakan jawaban yang tepat. Jika memang koleksi – koleksi langka tersebut masih saja dicari pengguna maka harus dilakukan penduplikatan sebagai cara untuk mengamankan salinan asli namun pengguna masih tetap dapat mengaksesnya.

Oleh karena itu, segera setelah mengetahui arti penting peninggalan masa lalu berupa koleksi – koleksi langka. Apakah upaya penyelamatan koleksi langka ini akan berjalan maju dan dapat direalisasikan atau nantinya hanya tetap berjalan ditempat dan kita hanya dapat berandai – andai kemudian koleksi – koleksi tersebut hilang tak berbekas? Jika memang terbentur pada masalah biaya pembuatan ruang ini, tidak apa – apa. Namun demi kepentingan penyelamatan koleksi – koleksi langka, mengapa tidak? Diusahakan atau tidak, Pilihan selalu ada.




Daftar Pustaka

http://safakmuhammad.com. diakses pada tanggal 6 maret 2012, pukul 17.00
http://artson.blogspot.com. diakses pada tanggal 7 maret 2012, pukul 10.00
http://ufiarkeolog.multiply.com/journal diakses pada tanggal 6 maret 2012, pukul 18.30
Brown, Dan. 2009. Angel n Demons. Jakarta : Serambi
Brown, Dan. 2004. Da Vinci Code. Jakarta : Serambi
Martoatmodjo, Karmidi. 1994. Pelestarian Bahan Pustaka., Jakarta : Universitas Terbuka.
Razak, Muhammadin, Retno Anggraini dan Supriyanto. 1992. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta : PDII – LIPI.

Oleh
Akhmad Faishal