19 Oktober
Waktu sudah
menunjukkan pukul 01.30 ketika kami tiba
di Musholla di sekitar pantai Papuma. Saya sudah capek sekali, ingin istirahat
tidur sebentar sebelum besok melihat matahari terbit (Sunrise). Walau,
kelewatan melewati jalan menuju papuma, jalan yang berbatu (asli…!! sangat
tidak enak dilalui oleh kendaraan) dan tanya sana sini pada orang yang masih
ada pada tengah malam untuk menunjukkan dimana papuma. Saya pun langsung
merebahkan diri. Tidur.
Saya bangun
karena banyak suara, musholla tiba-tiba ramai, oh sudah waktunya sholat subuh.
Saya sendiri heran padahal badan saya capek sekali, tapi ketika bangun langsung
segar bugar ya walaupun agak mengantuk tapi tidak terasa lemas. Segera saya
ambil wudhu dan sholat berjamaah Hanya saja, ahhhh Imamnya kebanyakan gaya.
Inginnya doanya panjang tapi ndak hafal. Kesuwen.
Kami,
setelah sholat subuh, langsung pergi menuju pantai. Agni sempat ingin
memakirkan sepeda di dekat Musholla, tapi saya tidak mau. Khawatir hilang dan
tidak aman, apalagi dari musholla ke pantai lumayan jauh kalau ditempuh dengan
jalan kaki. Takut kehilangan momen Sunrise, hehehe. Kami berdua menggunakan
sepeda motor dan beranjak dari situ, mengendarai untuk mencari spot yang enak
untuk parker dan sayangnya kami kebablabasan.
“Heh, ni, koe ngerti iki arah ndi?” tanyaku
“Ora lek,” jawabnya dia ngeluyur saja menyusuri jalanan aspal
di pinggir pantai.
Hahaha, kupikir dia tahu dan aku mengikutinya, tapi siapa
sangka bertemu pertigaan, satu menuju cottage (penginapan) satu menuju arah
pulang. “Edan, koe ni, kaetan teka langsung njaluk mole. Hahaha,” tukasku “Ayo
mbalik,”. Kami akhirnya kembali dan memakirkan sepeda motor di sekitar bibir
pantai. Kami lalu berjalan menyusuri pinggiran pantai dan tak sabar melihat
Sunrise. Kami menuju pojok pantai, pantai papuma itu tidak lurus, melainkan
ujungnya berbelok, sehingga ombak laut saling bertemu seperti menubrukkan diri.
Banyak hal yang kami lakukan, tapi sebagian besar hanya foto-foto.
Kami lalu berpindah tempat, kali ini kami berada di spot
bebatuan, bertemu dengan salah seorang pemancing yang katanya sudah sehari
semalam memancing atau kalau tidak salah 3 hari 3 malam. Entahlah. “Halo pak,
piye sampun entuk iwak?” tanyaku “Dereng mas,” jawabnya
“Ndamel nopo umpane,” tanyaku lagi
“Niku, ndamel kepiting,” jawabnya
“Kulo tingali nggeh, ngapunten lho,” kataku menyelidik ada
apa dalam tas tentara yang dibawanya
“Oh, monggo,” ujarnya
Tasnya mirip tas tentara yang sering kulihat saat prajurit
kodam, depan bunderan waru, kala latihan lari sambil membawa senapan mesin. Di
dalamnya terdapat bau kepiting dan ikan, tapi dia tidak memilih ikan hanya
menggunakan udang.
****
Beberapa orang lalu lalang, dua orang cowok cewek memakai
baju merah yang kuduga mempunyai hubungan khusus sedang foto-foto. Sebuah
keluarga berjalan melewati kami dan beberapa diantara mereka menghampiri kami,
saya dan paman yang memancing. Agni sedang mengumpulkan pasir dan kerang yang
dimasukkan ke dalam botol. Sebuah oleh-oleh kreatif dari Papuma. Sekitar pukul
07.30 Kami pamit lalu beranjak pulang. Tapi kulihat wajah Agni tidak nampak
puas. Hmmm.. kurasa karena terburu-buru pulang, Hahaha, saya merasa agak egois.
Hmm..
****
Menuju Piket Nol,
Lumajang
Aku tadi telah menceritakan mengenai pom bensin kan?
Begitulah, ingin segera mencapai tempat itu untuk mandi dan mengistirahatkan
bokong dan punggung. Pegal, bro, Badan saya capek, pegal dan mengantuk saat
mengendarai sepeda motor. Dan bokong saya seperti bentul-bentul, tidak enak
dibuat duduk, risih. Kami tiba, lalu mandi dan tidur siang hingga tibanya
sholat dhuhur. Sebelum ke tempat itu kami makan dan berdiskusi mengenai
kepuasaan masing-masing mengenai trip kali ini. “Lex, ayo Piket nol?” tanya
Agni “Budal tok,” jawabku lagipula memang hari masih pagi saat kami beranjak pergi
dari papuma.
Oleh sebab itu, begitu kami selesai dhuhuran, badan
Alhamdulillah segar, kami langsung berangkat menuju Piket nol. Kami tidak tahu
sama sekali mengenai piket nol, aku tidak peduli dan pokok e jalan, tetapi Agni
sangat antusias sekali dia bertanya pada pom bensin, orang yang berhenti di
lampu merah dan lainnya untuk mengetahui dimana letak piket nol. Saya hanya
mengikuti, kupikir biasa saja tempat itu. Saya menduga itu gunung, karena waktu
berlajan menuju ke sana, kami menuju jalan yang didepan itu jelas terlihat
gunung. “Apik lex, nag piket nol iku ono jembatane dan pemandangan disana
bagus,” ujarnya “kita dapat santai, istirahat disitu,”
Benar apa yang dikatakannya, aku merasa bahwa dugaanku
keliru, keren tempat itu. Jembatan yang dibawahnya adalah jalur lahar Gunung
Semeru. Bisa dikatakan itu adalah tempat penambangan pasir, dari atas pinggiran
gunung melihat jauh ke bawah, Crane berwarna kuning dan truk-truk pengankut
pasir seperti mainan kecil. Agni memang jeli mencari tempat-tempat wisata yang
non-maenstream. Kami dua jam lebih berada disitu, kopi panas mendadak menjadi
hangat. Saking dinginnya, padahal itu masih siang menuju sore.
Kami lalu pulang, perjalanan pulang juga tak terbayangkan,
selain jauh (karena harus ke Malang dulu baru ke Sidoarjo), perjalanan juga
berkelok-kelok menuruni gunung. Saya sampai tidak sabar, ingin mengetahui
dimana jalan keluarnya. Hahahaha… kami beranjak dari piket nol sekitar setengah
4 dan keluar sampai malang sekitar pukul 9 malam.
Wow, benar-benar jauh, Agni
memperkirakan bahwa perjalanan kami dari
Sidoarjo-Jember-Lumajang-Malang-Surabaya seperti Madiun ke Garut, Jawa Barat.
Tidak terbayangkan oleh kami, jauh sekali. Mampir ke Indomaret dulu, istirahat. Kami langsung bablas
pulang, kami berpisah di bunderan Waru, Agni tanpa istirahat lagi bablas menuju
kosnya, begitu juga saya ke rumah dan langsung merebahkan diri. Karena, besok
saya kerja!
This is not called One Day One Place but One Day One Trip oleh sebab itu saya merevisinya karena itu berlebihan. Hahahah.. thank’s Agni and Okky for your Inspiration, khususnya Agni menemani saya untuk test vacation One Day-nya. Kita lakukan lagi di One Day One Place berikutnya.
Salam ODOP… J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Opinion :