Kamis, 11 Desember 2014

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) part 3

19 Oktober
            
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30  ketika kami tiba di Musholla di sekitar pantai Papuma. Saya sudah capek sekali, ingin istirahat tidur sebentar sebelum besok melihat matahari terbit (Sunrise). Walau, kelewatan melewati jalan menuju papuma, jalan yang berbatu (asli…!! sangat tidak enak dilalui oleh kendaraan) dan tanya sana sini pada orang yang masih ada pada tengah malam untuk menunjukkan dimana papuma. Saya pun langsung merebahkan diri. Tidur.

Saya bangun karena banyak suara, musholla tiba-tiba ramai, oh sudah waktunya sholat subuh. Saya sendiri heran padahal badan saya capek sekali, tapi ketika bangun langsung segar bugar ya walaupun agak mengantuk tapi tidak terasa lemas. Segera saya ambil wudhu dan sholat berjamaah Hanya saja, ahhhh Imamnya kebanyakan gaya. Inginnya doanya panjang tapi ndak hafal. Kesuwen.

Kami, setelah sholat subuh, langsung pergi menuju pantai. Agni sempat ingin memakirkan sepeda di dekat Musholla, tapi saya tidak mau. Khawatir hilang dan tidak aman, apalagi dari musholla ke pantai lumayan jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Takut kehilangan momen Sunrise, hehehe. Kami berdua menggunakan sepeda motor dan beranjak dari situ, mengendarai untuk mencari spot yang enak untuk parker dan sayangnya kami kebablabasan.

“Heh, ni, koe ngerti iki arah ndi?” tanyaku

“Ora lek,” jawabnya dia ngeluyur saja menyusuri jalanan aspal di pinggir pantai. 

Hahaha, kupikir dia tahu dan aku mengikutinya, tapi siapa sangka bertemu pertigaan, satu menuju cottage (penginapan) satu menuju arah pulang. “Edan, koe ni, kaetan teka langsung njaluk mole. Hahaha,” tukasku “Ayo mbalik,”. Kami akhirnya kembali dan memakirkan sepeda motor di sekitar bibir pantai. Kami lalu berjalan menyusuri pinggiran pantai dan tak sabar melihat Sunrise. Kami menuju pojok pantai, pantai papuma itu tidak lurus, melainkan ujungnya berbelok, sehingga ombak laut saling bertemu seperti menubrukkan diri. Banyak hal yang kami lakukan, tapi sebagian besar hanya foto-foto.

Kami lalu berpindah tempat, kali ini kami berada di spot bebatuan, bertemu dengan salah seorang pemancing yang katanya sudah sehari semalam memancing atau kalau tidak salah 3 hari 3 malam. Entahlah. “Halo pak, piye sampun entuk iwak?” tanyaku “Dereng mas,” jawabnya

“Ndamel nopo umpane,” tanyaku lagi

“Niku, ndamel kepiting,” jawabnya

“Kulo tingali nggeh, ngapunten lho,” kataku menyelidik ada apa dalam tas tentara yang dibawanya

“Oh, monggo,” ujarnya

Tasnya mirip tas tentara yang sering kulihat saat prajurit kodam, depan bunderan waru, kala latihan lari sambil membawa senapan mesin. Di dalamnya terdapat bau kepiting dan ikan, tapi dia tidak memilih ikan hanya menggunakan udang.

****

Beberapa orang lalu lalang, dua orang cowok cewek memakai baju merah yang kuduga mempunyai hubungan khusus sedang foto-foto. Sebuah keluarga berjalan melewati kami dan beberapa diantara mereka menghampiri kami, saya dan paman yang memancing. Agni sedang mengumpulkan pasir dan kerang yang dimasukkan ke dalam botol. Sebuah oleh-oleh kreatif dari Papuma. Sekitar pukul 07.30 Kami pamit lalu beranjak pulang. Tapi kulihat wajah Agni tidak nampak puas. Hmmm.. kurasa karena terburu-buru pulang, Hahaha, saya merasa agak egois. Hmm..

****

Menuju Piket Nol, Lumajang

Aku tadi telah menceritakan mengenai pom bensin kan? Begitulah, ingin segera mencapai tempat itu untuk mandi dan mengistirahatkan bokong dan punggung. Pegal, bro, Badan saya capek, pegal dan mengantuk saat mengendarai sepeda motor. Dan bokong saya seperti bentul-bentul, tidak enak dibuat duduk, risih. Kami tiba, lalu mandi dan tidur siang hingga tibanya sholat dhuhur. Sebelum ke tempat itu kami makan dan berdiskusi mengenai kepuasaan masing-masing mengenai trip kali ini. “Lex, ayo Piket nol?” tanya Agni “Budal tok,” jawabku lagipula memang hari masih pagi saat kami beranjak pergi dari papuma.

Oleh sebab itu, begitu kami selesai dhuhuran, badan Alhamdulillah segar, kami langsung berangkat menuju Piket nol. Kami tidak tahu sama sekali mengenai piket nol, aku tidak peduli dan pokok e jalan, tetapi Agni sangat antusias sekali dia bertanya pada pom bensin, orang yang berhenti di lampu merah dan lainnya untuk mengetahui dimana letak piket nol. Saya hanya mengikuti, kupikir biasa saja tempat itu. Saya menduga itu gunung, karena waktu berlajan menuju ke sana, kami menuju jalan yang didepan itu jelas terlihat gunung. “Apik lex, nag piket nol iku ono jembatane dan pemandangan disana bagus,” ujarnya “kita dapat santai, istirahat disitu,”

Benar apa yang dikatakannya, aku merasa bahwa dugaanku keliru, keren tempat itu. Jembatan yang dibawahnya adalah jalur lahar Gunung Semeru. Bisa dikatakan itu adalah tempat penambangan pasir, dari atas pinggiran gunung melihat jauh ke bawah, Crane berwarna kuning dan truk-truk pengankut pasir seperti mainan kecil. Agni memang jeli mencari tempat-tempat wisata yang non-maenstream. Kami dua jam lebih berada disitu, kopi panas mendadak menjadi hangat. Saking dinginnya, padahal itu masih siang menuju sore.

Kami lalu pulang, perjalanan pulang juga tak terbayangkan, selain jauh (karena harus ke Malang dulu baru ke Sidoarjo), perjalanan juga berkelok-kelok menuruni gunung. Saya sampai tidak sabar, ingin mengetahui dimana jalan keluarnya. Hahahaha… kami beranjak dari piket nol sekitar setengah 4 dan keluar sampai malang sekitar pukul 9 malam. 

Wow, benar-benar jauh, Agni memperkirakan bahwa perjalanan kami dari Sidoarjo-Jember-Lumajang-Malang-Surabaya seperti Madiun ke Garut, Jawa Barat. Tidak terbayangkan oleh kami, jauh sekali. Mampir ke Indomaret dulu, istirahat. Kami langsung bablas pulang, kami berpisah di bunderan Waru, Agni tanpa istirahat lagi bablas menuju kosnya, begitu juga saya ke rumah dan langsung merebahkan diri. Karena, besok saya kerja!

This is not called One Day One Place but One Day One Trip oleh sebab itu saya merevisinya karena itu berlebihan. Hahahah.. thank’s Agni and Okky for your Inspiration, khususnya Agni menemani saya untuk test vacation One Day-nya. Kita lakukan lagi di One Day One Place berikutnya. 

Salam ODOP… J

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) Part 2

18 Oktober

Hari kami berdua berangkat, jarum jam menunjukkan pukul 4. Sebenarnya, aku baru saja pulang sekitar jam setengah 3 karena diajak makan-makan oleh teman kantor di salah satu Mall Surabaya. Aku juga merasa tidak enak karena harus mengundurkan jadwal. Karena sudah kesepakatan. “Ngkuq ta kabari maneh yo. Soale sek dijak mangan e …Hehehe” aku sms ke Agni “Owalah yo gpp ntar kabari saja dan selamat berkencan,” begitu balasnya. Sialan… ‘kencan opo wong mangane bareng wong akeh’.. tapi pada akhirnya kami berdua berangkat tepat setengah 5 setelah mengisi bensin di Janti, kecamatan Waru. Kami dibekali oleh ibu dua botol Mizone, jaga-jaga dalam perjalanan.

Perjalanan pertama adalah keluar dari kabupaten Sidoarjo, didaerah Gedangan kemacetan terjadi cukup parah. Saya dan Agni akhirnya lewat by pass menuju arah malang, Agni lalu berhenti mengisi bensin. “Edo juga ada di Jember lek, mungkin kita bisa numpang tidur dirumahnya,”Ujarnya “Bagus, Sip Bro,”kataku. Beberapa jam sebelum berangkat, Agni mengatakan bahwa Okky ternyata sudah balik ke Surabaya, ada perasaan was-was ‘nanti kita istirahat dimana?’. “Yo, wes ni, pokok e budal,”ujarku lalu menggunakan jaket Unair Mengajar serupa dengannya dengan 3 jargon dibagian punggung. “Memberi Harapan, Menebar Inspirasi, Membangun Mimpi”.

Alhamdulillah, begitu magrib perjalanan kami sudah masuk ke arah Bangil menuju Pasuruan, memang belum masuk sih tapi hampir mendekati kabupaten Pasuruan. Dua jam perjalanan, pukul 20.00 Wib kami sudah melewati Pasuruan dan masuk ke arah Lumajang menuju Jember, kami tiba di bibir lumajang. Makan malam. Kami makan sate, walau satenya yah biasa banget, enak y ndak enak tapi ga enak ya bukannya ga enak. Kami habiskan 15 rb untuk seporsi 10 tusuk sate berikut 2 lontong.
            
Perjalanan pun kami lanjutkan dengan beberapa pemberhentian untuk Sholat. Cukup lama kami menelusuri jalan, malam-malam, kaki rasanya pegel dan ingin dipijat. Terkena hebusan dewi angin yang menerpa kami malam-malam, kurasa dia menyukai malam karena dewa matahari selalu mengganggu dengan sengat panasnya. Kadang kami terpisah dalam perjalanan, “Slow ae ni. Alon-alon. Bengi soale,” ujarku “Ok,” jawabnya singkat. Tapi tidak terasa kadang kita terpacu untuk cepat, sehingga terkadang Agni di depan dan Saya dibelakang, begitu juga tanpa sadar Agni kok tidak lewat-lewat ternyata dia sudah mendahului. Saya kok tidak melihatnya, tiba-tiba dia sudah ada didepan. “Aku nag pertigaan deket e kantor polisi,” begitu jawabnya ketika ku telepon saat tanpa sadar kami terpisah di alas Lumajang.

Masih di Lumajang pembaca, saya kira Lumajang ke Jember itu dekat namun ternyata jauh sekali. Waktu keluar dari Bangil dan Pasuruan itu kok cepat banget, tapi Lumajang ternyata jauh sekali untuk keluar dari wilayahnya. Saya duga, perjalanan ke luar dari kabupaten Lumajang ini melewati pinggirannya dan itu lumayan jauh. Sepertinya. Dan memang saya tak merasa bahwa kami benar-benar telah melewati Lumajang. Kami terus saja berpacu dan berpacu, menerobos tembok dewi angina di kala malam. Suatu ketika saya melihat layang-layang memancarkan sinar, hampir mirip lampion tapi layang-layang itu benar-benar dihiasi lampu kecil dipinggirnya. Entah ada baterai juga di layang-layang yang terbang di kala malam. Saya tidak tahu tapi bagus sekali. Pertama kalinya.

Akhirnya belokan terakhir, sebelum melewati rel kereta api kami disapa oleh sambutan tulisan selamat datang di kabupaten Jember. ALHAMDULILLAH…!!! Selamat tinggal Kabupaten Lumajang. Kami lalu maju beberapa meter dan menemukan Pom Bensin yang dapat saya katakan nikmat sekali, kami berhenti disana karena bensin sudah mulai menipis. Pukul 10.30 kami berhenti sejenak, membenarkan bokong-bokong yang sudah linu, meraup dengan air bagi wajah yang kering dan berminyak, pokoknya disegarkan dan dirileks-kan badan yang sudah tegang.
            
Pom Bensin ini kau tahu, mempunyai  air yang alirannya dari sungai (pegunungan) dan mengalir terus-menerus, dingin dan pancarannya deras. Asyik sekali, kelak besok saya mandi di pom Bensin ini, tidak begitu ramai cukup nyaman bagi tempat peristirahatan apabila menuju ke Jember. Menurut saya, ini adalah tempat peristirahatan terbaik. Beberapa orang yang melakukan perjalanan jauh juga berhenti dan Agni mengeluarkan Laptopnya… Suangarr...!!! pukul 00.00 kami berangkat kembali. Agni merencanakan untuk tiba di Papuma sebelum matahari terbit. Saya sih ngikut aja.

Akhirnya kami tiba di perempatan menuju pantai Papuma, perempatan belok kanan lampu merah kedua setelah pom Bensin terakhir kami mengisi bensin. Entah dimana, yang pasti kami sudah berada di Jember. Kami lurus saja, tanpa belok, lurus menerjang angina malam, melewati beberapa masjid yang besar-besar, teman kami waktu itu hanya angina dan pepohonan yang diam menyapa dengan wajah yang datar. Oh ya, kami sempat kelewatan menuju Papuma, hanya saja harum pantai sudah terasa semenjak pohon kelapa kami lewati.