Minggu, 22 Maret 2015

#OneDayOnePlace (Kawah Ijen) Part 2

6 Desember 2014
Hari itu adalah hari ujian, saya juga ada jadwal mengajar di tempat lain, mengajar siswa-siswi SMA. Saya bertemu dengan pak Syam di lorong, tepatnya di depan gerbang masuk untuk siswa-siswi SD dan SMP, 
            “Nak ndi? Ngkuq sido yo,” kata pak Syam
            “Siap pak, tapi ini ada jadwal ngajar. Saya tak kesana dulu,”
            “Oke, kumpul disini jam 4 yo,”
            “Beres,”
Cukup jauh melangkah, pak Syam berteriak memanggil
           “Woii.. Mas…,
Saya menoleh dan tersenyum saja dengan tingkah pak Syam memeragakan orang yang sedang menyetir mobil. Saya jawab sambil mengangkat jempol “Oke pak,”

            *****

Di tempat les, saya sudah merasa ingin pulang saja, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib karena pukul 16.00 wib saya akan berangkat. Setidak ada waktu satu jam untuk tidur, istirahat. Kira-kira begitu. Dua murid saya (cewek), kupikir tidak akan mempersalahkan kalau jam dua selesai, sepertinya mereka juga tidak ada niatan untuk belajar. Ah, sudahlah. Ini adalah waktunya liburan. Hahaha.

Tepat pukul 14.30, ya habis ngobrol sana-sini sebentar aku meluncur pulang secepat kilat. Tepat pukul 15.15 wib, aku sudah menginjakkan kaki di rumah, istirahat beberapa menit kemudian mandi. Aku tidak ingin terlambat berangkat, karena seperti ceritanya, kita ingin ndaki di ijen pukul 02.00 Wib atau 03.00 Wib untuk dapat melihat blue fire.

Oleh karena itu, aku sms ke pak Samsul dimana posisinya, dia menjawab kalau dirinya sedang makan untuk mengisi energy. “Pak Hermanto juga di sekolah,” terangnya lewat balasan melalui What’s App. Ok, kupikir aku tidak terlambat.

           aku sms “Saya tunggu di parkiran pak Sam,” 

Lama kutunggu tidak ada balasan, mungkin lagi beres-beres, begitu pikirku. Kutunggu sampai lama, hingga tiba-tiba datang pak Farukh,

           “Loh, ada apa pak?” aku bertanya. Heran juga.
           “Ya, mau ke Ijen, diajak pak Samsul,” jawabnya 
Seperti biasa, pak Farukh berbicara dengan nada seperti tokoh politik. Hahaha.

Kami lalu ngobrol sembari berjalan menuju ruang guru, tempat pak Samsul dan pak Herman berada. Ternyata pak Farukh juga ingin ikut, dia tanya ke pak Samsul apa sudah berangkat, ternyata belum karena menungguku. Jadilah, dia ikut, pesertanya bertambah satu. Ini akan ramai. Asyik.

            *****

Akhirnya kami berangkat berenam, saya, pak Samsul, pak Hermanto, pak Farukh, mas Agus dan mas Bing. Pak Samsul mengatakan sebenarnya banyak yang ingin ikut, tapi mereka ada acara mendadak dan ada yang ingin ikut, tapi karena temannya ndak ikut sehingga dia juga memilih tidak ikut pergi. Sangat disayangkan.

Pukul 17.00 Wib perjalan akhirnya dimulai dan saya menyetir duluan. Dari Khadijah lalu lewat tol Gunung Sari lurus langsung menuju porong Sidoarjo, bertemu pertigaan setelah jembatan besar belok kiri. Lurus terus tanpa belok, masuk Pasuruan dan berturut-turut, probolinggo, situbondo dan akhirnya kami makan di Paiton sekitar pukul 11.00 Wib setelah 6 jam perjalan. Lama, karena perjalanan santai sembari menurunkan mas Agus di pertigaan probolinggo kalau ke kiri Lumajang dan lurus ke Banyuwangi (Ijen). Perjalanan kami lanjutkan, menyusuri jalan, ingin aku digantikan untuk menyetir namun disarankan oleh pak Samsul agar bergantian saja di tempat istirahat makan di sebelahnya Paiton.

Paiton kalian pasti tahu, sebuah pembangkit Listrik yang besar dan luas sekali, sekalipun malam dirinya tidak padam. Saya malam itu, sedikit takjub gemerlap lampu yang masih bersinar sekalipun malam, saya pun mencuri-curi pandangan untuk melihat keindahan Paiton. Sumpah, bagus banget. Akhirnya sampailah kami ditempat peristirahatan, makan dan selonjor untuk istirahat. Kami memesan makanan sesuai selera masing-masing. Lumayan hampir 45 menit kami istirahat ditemani oleh acara televise channel TvOne.

Perjalanan kami lanjutkan dan yang dibelakang setir mobil sekarang adalah sang ahli penguasa jalanan, Mr. Samsul. Ahli dibidang otomotif ini sangat nyaman, hampir sama jika sedang menaiki bus Lorena wushh… wushh.. tiga-empat mobil terlewati. Sempat juga kami melihat mobil travel yang tergesa-gesa “Ooo.. travel gendeng… nyetir e ngawur,”

            “Hahaha…” aku sempat terbangun dari tidur
            “Iku… gendeng travel e… ngawur meh ketabrak bus,”
            “Paling y wes jadwal e kudu sampai ke Ketapang pak,”
            “Iyo bener, makane ugal-ugalan sampe meh disantap bus,”

Kembali aku tertidur, sambil tidur juga mendengar percakapan pak Samsul yang sedang bertanya dimana letak kawah Ijen. Mungkin dirinya lupa. Saya juga mendengar bahwa orang yang ditanyai itu dengan baik hati menuntun kemana arah menuju kawah Ijen. Akhirnya, orang tersebut pamit karena hanya bisa menuntun di jalan yang entah dimana, kami akhirnya melanjutkan sendiri.

Kami akhirnya sampai di jalan yang bergelombang alias rusak alias banyak jeglongan dan gelap gulita. Jalanan hanya disinari oleh lampu utama mobil kami. Oke, kami selama dalam perjalanan ditemani oleh lagu dari habib Syech dan Maher Zain,

            “Piye disetel lagune Habib Syech, padang bulan,” kataku
            “Ojo, padang bulane ga ketok,” ujar pak Samsul
            “Hahahaha,,, padang bengi wes,” tukasku

Kami ngobrol kesana-kemari hingga saya tertidur kembali hingga tibanya mobil sampai diparkiran tempat wisata Kawah Ijen.

Minggu, 04 Januari 2015

#OneDayOnePlace (Kawah Ijen) Part 1

15 November 2014

Waktu itu saya bertemu (tepatnya sih berpapasan) di lorong kelas dengan pak Samsul Ma’arif, guru Bahasa Indonesia di SMP Khadijah. Nah, sewaktu berpapasan kami ngobrol sebentar, dalam obrolan itu beliau mengajak saya untuk turut serta mlaku-mlaku ke Kawah Ijen,

“Woi, ayo melu nag Ijen, tanggal 6 awak dewe berangkat,” kata pak Syam “Banyak yang ikut”.

Saya lalu menjawabnya dengan pertanyaan dengan guyon

“Loh, apa memang masih ada kuotanya pak? Hahahaha,”

“Loh jangan khawatir, tenang ae,” jawabnya. 

Tentu saja, ini adalah waktunya untuk #OneDayOnePlace kembali berjalan. Kawah ijen, saya pernah mendengarnya tapi tak kunjung pergi ke sana, saya pikir inilah waktunya. Jozz.
Hari-hari berikutnya kami sering ketemu untuk menegaskan kembali, saya pikir beberapa orang akan ikut.

“Wogh, oke-oke, rame. Siip pak,” kata saya

“Akeh seng melu, mas. Bu Rima, bu Amel, pak Hafidz, pak Hermanto dan lainnya,” urainya

Akan sangat menyenangkan. Berangkat ramai-ramai lebih baik, lebih banyak cerita dan tertawa. Pastinya, suasana jadi tidak sepi dan senang dengan banyaknya yang ikut apalagi juga bukan dalam rangka tugas. This is a Holiday, kapan lagi bisa berangkat liburan ramai-ramai.
       
29 November 2014

Dalam ruangan kantor guru, masih terdapat saya, pak Hermanto, pak Syamsul dan pak Bing. Saya sendiri juga heran mengapa masih belum pulang, padahal hari sudah sore. Mungkin boleh jadi kerasan dan aras-arasen pulang, Hahaha. “Nag kawah ijen ngkuq awak dewe budal sore, teka kono bengi. Dadi, sek isok ndelok blue fire,” ujar pak Syamsul “Bener, pak. Ojo koyok wingi, budale bengi teka kono wes awan,” kata pak Hermanto

“Loh memang. Dulu berangkat jam berapa pak?” tanyaku “Berarti sudah pernah yo”.            

“Iyo, mas Faishal. Jaman-jaman sek aku tuku Ipod anyar. Hahaha,” kata pak Hermanto “Itu saya beli siangnya, malamnya langsung berangkat ke Ijen”
            
“Wkowkwowk, suangar la’an,” kata saya terkejut mendengar penuturannya
            
“Ya, waktu itu, setelah beli siangnya. Malam berangkat, pak Syam bilang ‘Ayo, budal nag Ijen’. Wes, maringunu saya lalu pak Bahri, pak Hafidz, dan mas Faiz budal"

Pak Hermanto melanjutkan ceritanya dan saya pikir seru juga bepergian dengan guru-guru yang menyukai perjalanan. “Nah bingung, mau tanya sana-sini juga orang-orang pada sepi. Rumah-rumah tutup, tapi Alhamdulillah dengan bantuan GPS sampai, tepat, setelah tiba baterai lowbatt dan GPS sudah tidak ada sinyal,” jelasnya.

Saya mendengarkan dengan seksama, ada emosi dalam setiap penuturan ceritanya. Dalam hati, saya mengatakan sangar, cuma berbekal Ipod untuk pergi ke Ijen, Banyuwangi. Wiihh.. Cerita tersebut membuat saya bertanya-tanya kapan berangkat ke Ijen. Saya selalu menunggu karena tanggal 6 desember masih jauh. Lama.  Kebetulan, dulu perah sempat muncul wacana liburan ke Ijen, cukup ramai juga guru-guru yang ikut, tapi suatu peristiwa mendadak ada kabar bahwa pak Samsul kecelakaan. 


Walhasil, rencana liburan ditunda dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. Beberapa hari kemarin, dua minggu lalu terbesit rencana untuk liburan kesana, tentu beberapa guru ada yang tidak dapat ikut. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan.