15 November 2014
Waktu itu saya bertemu (tepatnya
sih berpapasan) di lorong kelas dengan pak Samsul Ma’arif, guru Bahasa
Indonesia di SMP Khadijah. Nah, sewaktu berpapasan kami ngobrol sebentar, dalam
obrolan itu beliau mengajak saya untuk turut serta mlaku-mlaku ke Kawah Ijen,
“Woi, ayo melu nag Ijen, tanggal
6 awak dewe berangkat,” kata pak Syam “Banyak yang ikut”.
Saya lalu menjawabnya dengan
pertanyaan dengan guyon
“Loh, apa memang masih ada
kuotanya pak? Hahahaha,”
“Loh jangan khawatir, tenang ae,”
jawabnya.
Tentu saja, ini adalah waktunya
untuk #OneDayOnePlace kembali berjalan. Kawah ijen, saya pernah mendengarnya
tapi tak kunjung pergi ke sana, saya pikir inilah waktunya. Jozz.
Hari-hari berikutnya kami sering
ketemu untuk menegaskan kembali, saya pikir beberapa orang akan ikut.
“Wogh, oke-oke, rame. Siip pak,”
kata saya
“Akeh seng melu, mas. Bu Rima, bu
Amel, pak Hafidz, pak Hermanto dan lainnya,” urainya
Akan sangat menyenangkan.
Berangkat ramai-ramai lebih baik, lebih banyak cerita dan tertawa. Pastinya,
suasana jadi tidak sepi dan senang dengan banyaknya yang ikut apalagi juga
bukan dalam rangka tugas. This is a Holiday, kapan lagi bisa berangkat liburan
ramai-ramai.
29
November 2014
Dalam ruangan kantor guru, masih
terdapat saya, pak Hermanto, pak Syamsul dan pak Bing. Saya sendiri juga heran
mengapa masih belum pulang, padahal hari sudah sore. Mungkin boleh jadi kerasan
dan aras-arasen pulang, Hahaha. “Nag kawah ijen ngkuq awak dewe budal sore,
teka kono bengi. Dadi, sek isok ndelok blue fire,” ujar pak Syamsul “Bener,
pak. Ojo koyok wingi, budale bengi teka kono wes awan,” kata pak Hermanto
“Loh memang. Dulu berangkat jam
berapa pak?” tanyaku “Berarti sudah pernah
yo”.
“Iyo, mas Faishal. Jaman-jaman
sek aku tuku Ipod anyar. Hahaha,” kata pak Hermanto “Itu saya beli siangnya,
malamnya langsung berangkat ke Ijen”
“Wkowkwowk, suangar la’an,” kata
saya terkejut mendengar penuturannya
“Ya, waktu itu, setelah beli
siangnya. Malam berangkat, pak Syam bilang ‘Ayo, budal nag Ijen’. Wes,
maringunu saya lalu pak Bahri, pak Hafidz, dan mas Faiz budal"
Pak Hermanto
melanjutkan ceritanya dan saya pikir seru juga bepergian dengan guru-guru
yang menyukai perjalanan. “Nah bingung, mau tanya sana-sini juga
orang-orang pada sepi. Rumah-rumah tutup, tapi Alhamdulillah dengan bantuan GPS
sampai, tepat, setelah tiba baterai lowbatt dan GPS sudah tidak ada sinyal,”
jelasnya.
Saya mendengarkan dengan seksama,
ada emosi dalam setiap penuturan ceritanya. Dalam hati, saya mengatakan sangar,
cuma berbekal Ipod untuk pergi ke Ijen, Banyuwangi. Wiihh.. Cerita tersebut membuat saya
bertanya-tanya kapan berangkat ke Ijen. Saya selalu menunggu karena tanggal 6
desember masih jauh. Lama. Kebetulan,
dulu perah sempat muncul wacana liburan ke Ijen, cukup ramai juga guru-guru
yang ikut, tapi suatu peristiwa mendadak ada kabar bahwa pak Samsul
kecelakaan.
Walhasil, rencana liburan ditunda
dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. Beberapa hari kemarin, dua minggu
lalu terbesit rencana untuk liburan kesana, tentu beberapa guru ada yang tidak
dapat ikut. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan.