Minggu, 22 Maret 2015

#OneDayOnePlace (Kawah Ijen) Part 2

6 Desember 2014
Hari itu adalah hari ujian, saya juga ada jadwal mengajar di tempat lain, mengajar siswa-siswi SMA. Saya bertemu dengan pak Syam di lorong, tepatnya di depan gerbang masuk untuk siswa-siswi SD dan SMP, 
            “Nak ndi? Ngkuq sido yo,” kata pak Syam
            “Siap pak, tapi ini ada jadwal ngajar. Saya tak kesana dulu,”
            “Oke, kumpul disini jam 4 yo,”
            “Beres,”
Cukup jauh melangkah, pak Syam berteriak memanggil
           “Woii.. Mas…,
Saya menoleh dan tersenyum saja dengan tingkah pak Syam memeragakan orang yang sedang menyetir mobil. Saya jawab sambil mengangkat jempol “Oke pak,”

            *****

Di tempat les, saya sudah merasa ingin pulang saja, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib karena pukul 16.00 wib saya akan berangkat. Setidak ada waktu satu jam untuk tidur, istirahat. Kira-kira begitu. Dua murid saya (cewek), kupikir tidak akan mempersalahkan kalau jam dua selesai, sepertinya mereka juga tidak ada niatan untuk belajar. Ah, sudahlah. Ini adalah waktunya liburan. Hahaha.

Tepat pukul 14.30, ya habis ngobrol sana-sini sebentar aku meluncur pulang secepat kilat. Tepat pukul 15.15 wib, aku sudah menginjakkan kaki di rumah, istirahat beberapa menit kemudian mandi. Aku tidak ingin terlambat berangkat, karena seperti ceritanya, kita ingin ndaki di ijen pukul 02.00 Wib atau 03.00 Wib untuk dapat melihat blue fire.

Oleh karena itu, aku sms ke pak Samsul dimana posisinya, dia menjawab kalau dirinya sedang makan untuk mengisi energy. “Pak Hermanto juga di sekolah,” terangnya lewat balasan melalui What’s App. Ok, kupikir aku tidak terlambat.

           aku sms “Saya tunggu di parkiran pak Sam,” 

Lama kutunggu tidak ada balasan, mungkin lagi beres-beres, begitu pikirku. Kutunggu sampai lama, hingga tiba-tiba datang pak Farukh,

           “Loh, ada apa pak?” aku bertanya. Heran juga.
           “Ya, mau ke Ijen, diajak pak Samsul,” jawabnya 
Seperti biasa, pak Farukh berbicara dengan nada seperti tokoh politik. Hahaha.

Kami lalu ngobrol sembari berjalan menuju ruang guru, tempat pak Samsul dan pak Herman berada. Ternyata pak Farukh juga ingin ikut, dia tanya ke pak Samsul apa sudah berangkat, ternyata belum karena menungguku. Jadilah, dia ikut, pesertanya bertambah satu. Ini akan ramai. Asyik.

            *****

Akhirnya kami berangkat berenam, saya, pak Samsul, pak Hermanto, pak Farukh, mas Agus dan mas Bing. Pak Samsul mengatakan sebenarnya banyak yang ingin ikut, tapi mereka ada acara mendadak dan ada yang ingin ikut, tapi karena temannya ndak ikut sehingga dia juga memilih tidak ikut pergi. Sangat disayangkan.

Pukul 17.00 Wib perjalan akhirnya dimulai dan saya menyetir duluan. Dari Khadijah lalu lewat tol Gunung Sari lurus langsung menuju porong Sidoarjo, bertemu pertigaan setelah jembatan besar belok kiri. Lurus terus tanpa belok, masuk Pasuruan dan berturut-turut, probolinggo, situbondo dan akhirnya kami makan di Paiton sekitar pukul 11.00 Wib setelah 6 jam perjalan. Lama, karena perjalanan santai sembari menurunkan mas Agus di pertigaan probolinggo kalau ke kiri Lumajang dan lurus ke Banyuwangi (Ijen). Perjalanan kami lanjutkan, menyusuri jalan, ingin aku digantikan untuk menyetir namun disarankan oleh pak Samsul agar bergantian saja di tempat istirahat makan di sebelahnya Paiton.

Paiton kalian pasti tahu, sebuah pembangkit Listrik yang besar dan luas sekali, sekalipun malam dirinya tidak padam. Saya malam itu, sedikit takjub gemerlap lampu yang masih bersinar sekalipun malam, saya pun mencuri-curi pandangan untuk melihat keindahan Paiton. Sumpah, bagus banget. Akhirnya sampailah kami ditempat peristirahatan, makan dan selonjor untuk istirahat. Kami memesan makanan sesuai selera masing-masing. Lumayan hampir 45 menit kami istirahat ditemani oleh acara televise channel TvOne.

Perjalanan kami lanjutkan dan yang dibelakang setir mobil sekarang adalah sang ahli penguasa jalanan, Mr. Samsul. Ahli dibidang otomotif ini sangat nyaman, hampir sama jika sedang menaiki bus Lorena wushh… wushh.. tiga-empat mobil terlewati. Sempat juga kami melihat mobil travel yang tergesa-gesa “Ooo.. travel gendeng… nyetir e ngawur,”

            “Hahaha…” aku sempat terbangun dari tidur
            “Iku… gendeng travel e… ngawur meh ketabrak bus,”
            “Paling y wes jadwal e kudu sampai ke Ketapang pak,”
            “Iyo bener, makane ugal-ugalan sampe meh disantap bus,”

Kembali aku tertidur, sambil tidur juga mendengar percakapan pak Samsul yang sedang bertanya dimana letak kawah Ijen. Mungkin dirinya lupa. Saya juga mendengar bahwa orang yang ditanyai itu dengan baik hati menuntun kemana arah menuju kawah Ijen. Akhirnya, orang tersebut pamit karena hanya bisa menuntun di jalan yang entah dimana, kami akhirnya melanjutkan sendiri.

Kami akhirnya sampai di jalan yang bergelombang alias rusak alias banyak jeglongan dan gelap gulita. Jalanan hanya disinari oleh lampu utama mobil kami. Oke, kami selama dalam perjalanan ditemani oleh lagu dari habib Syech dan Maher Zain,

            “Piye disetel lagune Habib Syech, padang bulan,” kataku
            “Ojo, padang bulane ga ketok,” ujar pak Samsul
            “Hahahaha,,, padang bengi wes,” tukasku

Kami ngobrol kesana-kemari hingga saya tertidur kembali hingga tibanya mobil sampai diparkiran tempat wisata Kawah Ijen.

Minggu, 04 Januari 2015

#OneDayOnePlace (Kawah Ijen) Part 1

15 November 2014

Waktu itu saya bertemu (tepatnya sih berpapasan) di lorong kelas dengan pak Samsul Ma’arif, guru Bahasa Indonesia di SMP Khadijah. Nah, sewaktu berpapasan kami ngobrol sebentar, dalam obrolan itu beliau mengajak saya untuk turut serta mlaku-mlaku ke Kawah Ijen,

“Woi, ayo melu nag Ijen, tanggal 6 awak dewe berangkat,” kata pak Syam “Banyak yang ikut”.

Saya lalu menjawabnya dengan pertanyaan dengan guyon

“Loh, apa memang masih ada kuotanya pak? Hahahaha,”

“Loh jangan khawatir, tenang ae,” jawabnya. 

Tentu saja, ini adalah waktunya untuk #OneDayOnePlace kembali berjalan. Kawah ijen, saya pernah mendengarnya tapi tak kunjung pergi ke sana, saya pikir inilah waktunya. Jozz.
Hari-hari berikutnya kami sering ketemu untuk menegaskan kembali, saya pikir beberapa orang akan ikut.

“Wogh, oke-oke, rame. Siip pak,” kata saya

“Akeh seng melu, mas. Bu Rima, bu Amel, pak Hafidz, pak Hermanto dan lainnya,” urainya

Akan sangat menyenangkan. Berangkat ramai-ramai lebih baik, lebih banyak cerita dan tertawa. Pastinya, suasana jadi tidak sepi dan senang dengan banyaknya yang ikut apalagi juga bukan dalam rangka tugas. This is a Holiday, kapan lagi bisa berangkat liburan ramai-ramai.
       
29 November 2014

Dalam ruangan kantor guru, masih terdapat saya, pak Hermanto, pak Syamsul dan pak Bing. Saya sendiri juga heran mengapa masih belum pulang, padahal hari sudah sore. Mungkin boleh jadi kerasan dan aras-arasen pulang, Hahaha. “Nag kawah ijen ngkuq awak dewe budal sore, teka kono bengi. Dadi, sek isok ndelok blue fire,” ujar pak Syamsul “Bener, pak. Ojo koyok wingi, budale bengi teka kono wes awan,” kata pak Hermanto

“Loh memang. Dulu berangkat jam berapa pak?” tanyaku “Berarti sudah pernah yo”.            

“Iyo, mas Faishal. Jaman-jaman sek aku tuku Ipod anyar. Hahaha,” kata pak Hermanto “Itu saya beli siangnya, malamnya langsung berangkat ke Ijen”
            
“Wkowkwowk, suangar la’an,” kata saya terkejut mendengar penuturannya
            
“Ya, waktu itu, setelah beli siangnya. Malam berangkat, pak Syam bilang ‘Ayo, budal nag Ijen’. Wes, maringunu saya lalu pak Bahri, pak Hafidz, dan mas Faiz budal"

Pak Hermanto melanjutkan ceritanya dan saya pikir seru juga bepergian dengan guru-guru yang menyukai perjalanan. “Nah bingung, mau tanya sana-sini juga orang-orang pada sepi. Rumah-rumah tutup, tapi Alhamdulillah dengan bantuan GPS sampai, tepat, setelah tiba baterai lowbatt dan GPS sudah tidak ada sinyal,” jelasnya.

Saya mendengarkan dengan seksama, ada emosi dalam setiap penuturan ceritanya. Dalam hati, saya mengatakan sangar, cuma berbekal Ipod untuk pergi ke Ijen, Banyuwangi. Wiihh.. Cerita tersebut membuat saya bertanya-tanya kapan berangkat ke Ijen. Saya selalu menunggu karena tanggal 6 desember masih jauh. Lama.  Kebetulan, dulu perah sempat muncul wacana liburan ke Ijen, cukup ramai juga guru-guru yang ikut, tapi suatu peristiwa mendadak ada kabar bahwa pak Samsul kecelakaan. 


Walhasil, rencana liburan ditunda dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. Beberapa hari kemarin, dua minggu lalu terbesit rencana untuk liburan kesana, tentu beberapa guru ada yang tidak dapat ikut. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan.

Kamis, 11 Desember 2014

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) part 3

19 Oktober
            
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30  ketika kami tiba di Musholla di sekitar pantai Papuma. Saya sudah capek sekali, ingin istirahat tidur sebentar sebelum besok melihat matahari terbit (Sunrise). Walau, kelewatan melewati jalan menuju papuma, jalan yang berbatu (asli…!! sangat tidak enak dilalui oleh kendaraan) dan tanya sana sini pada orang yang masih ada pada tengah malam untuk menunjukkan dimana papuma. Saya pun langsung merebahkan diri. Tidur.

Saya bangun karena banyak suara, musholla tiba-tiba ramai, oh sudah waktunya sholat subuh. Saya sendiri heran padahal badan saya capek sekali, tapi ketika bangun langsung segar bugar ya walaupun agak mengantuk tapi tidak terasa lemas. Segera saya ambil wudhu dan sholat berjamaah Hanya saja, ahhhh Imamnya kebanyakan gaya. Inginnya doanya panjang tapi ndak hafal. Kesuwen.

Kami, setelah sholat subuh, langsung pergi menuju pantai. Agni sempat ingin memakirkan sepeda di dekat Musholla, tapi saya tidak mau. Khawatir hilang dan tidak aman, apalagi dari musholla ke pantai lumayan jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Takut kehilangan momen Sunrise, hehehe. Kami berdua menggunakan sepeda motor dan beranjak dari situ, mengendarai untuk mencari spot yang enak untuk parker dan sayangnya kami kebablabasan.

“Heh, ni, koe ngerti iki arah ndi?” tanyaku

“Ora lek,” jawabnya dia ngeluyur saja menyusuri jalanan aspal di pinggir pantai. 

Hahaha, kupikir dia tahu dan aku mengikutinya, tapi siapa sangka bertemu pertigaan, satu menuju cottage (penginapan) satu menuju arah pulang. “Edan, koe ni, kaetan teka langsung njaluk mole. Hahaha,” tukasku “Ayo mbalik,”. Kami akhirnya kembali dan memakirkan sepeda motor di sekitar bibir pantai. Kami lalu berjalan menyusuri pinggiran pantai dan tak sabar melihat Sunrise. Kami menuju pojok pantai, pantai papuma itu tidak lurus, melainkan ujungnya berbelok, sehingga ombak laut saling bertemu seperti menubrukkan diri. Banyak hal yang kami lakukan, tapi sebagian besar hanya foto-foto.

Kami lalu berpindah tempat, kali ini kami berada di spot bebatuan, bertemu dengan salah seorang pemancing yang katanya sudah sehari semalam memancing atau kalau tidak salah 3 hari 3 malam. Entahlah. “Halo pak, piye sampun entuk iwak?” tanyaku “Dereng mas,” jawabnya

“Ndamel nopo umpane,” tanyaku lagi

“Niku, ndamel kepiting,” jawabnya

“Kulo tingali nggeh, ngapunten lho,” kataku menyelidik ada apa dalam tas tentara yang dibawanya

“Oh, monggo,” ujarnya

Tasnya mirip tas tentara yang sering kulihat saat prajurit kodam, depan bunderan waru, kala latihan lari sambil membawa senapan mesin. Di dalamnya terdapat bau kepiting dan ikan, tapi dia tidak memilih ikan hanya menggunakan udang.

****

Beberapa orang lalu lalang, dua orang cowok cewek memakai baju merah yang kuduga mempunyai hubungan khusus sedang foto-foto. Sebuah keluarga berjalan melewati kami dan beberapa diantara mereka menghampiri kami, saya dan paman yang memancing. Agni sedang mengumpulkan pasir dan kerang yang dimasukkan ke dalam botol. Sebuah oleh-oleh kreatif dari Papuma. Sekitar pukul 07.30 Kami pamit lalu beranjak pulang. Tapi kulihat wajah Agni tidak nampak puas. Hmmm.. kurasa karena terburu-buru pulang, Hahaha, saya merasa agak egois. Hmm..

****

Menuju Piket Nol, Lumajang

Aku tadi telah menceritakan mengenai pom bensin kan? Begitulah, ingin segera mencapai tempat itu untuk mandi dan mengistirahatkan bokong dan punggung. Pegal, bro, Badan saya capek, pegal dan mengantuk saat mengendarai sepeda motor. Dan bokong saya seperti bentul-bentul, tidak enak dibuat duduk, risih. Kami tiba, lalu mandi dan tidur siang hingga tibanya sholat dhuhur. Sebelum ke tempat itu kami makan dan berdiskusi mengenai kepuasaan masing-masing mengenai trip kali ini. “Lex, ayo Piket nol?” tanya Agni “Budal tok,” jawabku lagipula memang hari masih pagi saat kami beranjak pergi dari papuma.

Oleh sebab itu, begitu kami selesai dhuhuran, badan Alhamdulillah segar, kami langsung berangkat menuju Piket nol. Kami tidak tahu sama sekali mengenai piket nol, aku tidak peduli dan pokok e jalan, tetapi Agni sangat antusias sekali dia bertanya pada pom bensin, orang yang berhenti di lampu merah dan lainnya untuk mengetahui dimana letak piket nol. Saya hanya mengikuti, kupikir biasa saja tempat itu. Saya menduga itu gunung, karena waktu berlajan menuju ke sana, kami menuju jalan yang didepan itu jelas terlihat gunung. “Apik lex, nag piket nol iku ono jembatane dan pemandangan disana bagus,” ujarnya “kita dapat santai, istirahat disitu,”

Benar apa yang dikatakannya, aku merasa bahwa dugaanku keliru, keren tempat itu. Jembatan yang dibawahnya adalah jalur lahar Gunung Semeru. Bisa dikatakan itu adalah tempat penambangan pasir, dari atas pinggiran gunung melihat jauh ke bawah, Crane berwarna kuning dan truk-truk pengankut pasir seperti mainan kecil. Agni memang jeli mencari tempat-tempat wisata yang non-maenstream. Kami dua jam lebih berada disitu, kopi panas mendadak menjadi hangat. Saking dinginnya, padahal itu masih siang menuju sore.

Kami lalu pulang, perjalanan pulang juga tak terbayangkan, selain jauh (karena harus ke Malang dulu baru ke Sidoarjo), perjalanan juga berkelok-kelok menuruni gunung. Saya sampai tidak sabar, ingin mengetahui dimana jalan keluarnya. Hahahaha… kami beranjak dari piket nol sekitar setengah 4 dan keluar sampai malang sekitar pukul 9 malam. 

Wow, benar-benar jauh, Agni memperkirakan bahwa perjalanan kami dari Sidoarjo-Jember-Lumajang-Malang-Surabaya seperti Madiun ke Garut, Jawa Barat. Tidak terbayangkan oleh kami, jauh sekali. Mampir ke Indomaret dulu, istirahat. Kami langsung bablas pulang, kami berpisah di bunderan Waru, Agni tanpa istirahat lagi bablas menuju kosnya, begitu juga saya ke rumah dan langsung merebahkan diri. Karena, besok saya kerja!

This is not called One Day One Place but One Day One Trip oleh sebab itu saya merevisinya karena itu berlebihan. Hahahah.. thank’s Agni and Okky for your Inspiration, khususnya Agni menemani saya untuk test vacation One Day-nya. Kita lakukan lagi di One Day One Place berikutnya. 

Salam ODOP… J

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) Part 2

18 Oktober

Hari kami berdua berangkat, jarum jam menunjukkan pukul 4. Sebenarnya, aku baru saja pulang sekitar jam setengah 3 karena diajak makan-makan oleh teman kantor di salah satu Mall Surabaya. Aku juga merasa tidak enak karena harus mengundurkan jadwal. Karena sudah kesepakatan. “Ngkuq ta kabari maneh yo. Soale sek dijak mangan e …Hehehe” aku sms ke Agni “Owalah yo gpp ntar kabari saja dan selamat berkencan,” begitu balasnya. Sialan… ‘kencan opo wong mangane bareng wong akeh’.. tapi pada akhirnya kami berdua berangkat tepat setengah 5 setelah mengisi bensin di Janti, kecamatan Waru. Kami dibekali oleh ibu dua botol Mizone, jaga-jaga dalam perjalanan.

Perjalanan pertama adalah keluar dari kabupaten Sidoarjo, didaerah Gedangan kemacetan terjadi cukup parah. Saya dan Agni akhirnya lewat by pass menuju arah malang, Agni lalu berhenti mengisi bensin. “Edo juga ada di Jember lek, mungkin kita bisa numpang tidur dirumahnya,”Ujarnya “Bagus, Sip Bro,”kataku. Beberapa jam sebelum berangkat, Agni mengatakan bahwa Okky ternyata sudah balik ke Surabaya, ada perasaan was-was ‘nanti kita istirahat dimana?’. “Yo, wes ni, pokok e budal,”ujarku lalu menggunakan jaket Unair Mengajar serupa dengannya dengan 3 jargon dibagian punggung. “Memberi Harapan, Menebar Inspirasi, Membangun Mimpi”.

Alhamdulillah, begitu magrib perjalanan kami sudah masuk ke arah Bangil menuju Pasuruan, memang belum masuk sih tapi hampir mendekati kabupaten Pasuruan. Dua jam perjalanan, pukul 20.00 Wib kami sudah melewati Pasuruan dan masuk ke arah Lumajang menuju Jember, kami tiba di bibir lumajang. Makan malam. Kami makan sate, walau satenya yah biasa banget, enak y ndak enak tapi ga enak ya bukannya ga enak. Kami habiskan 15 rb untuk seporsi 10 tusuk sate berikut 2 lontong.
            
Perjalanan pun kami lanjutkan dengan beberapa pemberhentian untuk Sholat. Cukup lama kami menelusuri jalan, malam-malam, kaki rasanya pegel dan ingin dipijat. Terkena hebusan dewi angin yang menerpa kami malam-malam, kurasa dia menyukai malam karena dewa matahari selalu mengganggu dengan sengat panasnya. Kadang kami terpisah dalam perjalanan, “Slow ae ni. Alon-alon. Bengi soale,” ujarku “Ok,” jawabnya singkat. Tapi tidak terasa kadang kita terpacu untuk cepat, sehingga terkadang Agni di depan dan Saya dibelakang, begitu juga tanpa sadar Agni kok tidak lewat-lewat ternyata dia sudah mendahului. Saya kok tidak melihatnya, tiba-tiba dia sudah ada didepan. “Aku nag pertigaan deket e kantor polisi,” begitu jawabnya ketika ku telepon saat tanpa sadar kami terpisah di alas Lumajang.

Masih di Lumajang pembaca, saya kira Lumajang ke Jember itu dekat namun ternyata jauh sekali. Waktu keluar dari Bangil dan Pasuruan itu kok cepat banget, tapi Lumajang ternyata jauh sekali untuk keluar dari wilayahnya. Saya duga, perjalanan ke luar dari kabupaten Lumajang ini melewati pinggirannya dan itu lumayan jauh. Sepertinya. Dan memang saya tak merasa bahwa kami benar-benar telah melewati Lumajang. Kami terus saja berpacu dan berpacu, menerobos tembok dewi angina di kala malam. Suatu ketika saya melihat layang-layang memancarkan sinar, hampir mirip lampion tapi layang-layang itu benar-benar dihiasi lampu kecil dipinggirnya. Entah ada baterai juga di layang-layang yang terbang di kala malam. Saya tidak tahu tapi bagus sekali. Pertama kalinya.

Akhirnya belokan terakhir, sebelum melewati rel kereta api kami disapa oleh sambutan tulisan selamat datang di kabupaten Jember. ALHAMDULILLAH…!!! Selamat tinggal Kabupaten Lumajang. Kami lalu maju beberapa meter dan menemukan Pom Bensin yang dapat saya katakan nikmat sekali, kami berhenti disana karena bensin sudah mulai menipis. Pukul 10.30 kami berhenti sejenak, membenarkan bokong-bokong yang sudah linu, meraup dengan air bagi wajah yang kering dan berminyak, pokoknya disegarkan dan dirileks-kan badan yang sudah tegang.
            
Pom Bensin ini kau tahu, mempunyai  air yang alirannya dari sungai (pegunungan) dan mengalir terus-menerus, dingin dan pancarannya deras. Asyik sekali, kelak besok saya mandi di pom Bensin ini, tidak begitu ramai cukup nyaman bagi tempat peristirahatan apabila menuju ke Jember. Menurut saya, ini adalah tempat peristirahatan terbaik. Beberapa orang yang melakukan perjalanan jauh juga berhenti dan Agni mengeluarkan Laptopnya… Suangarr...!!! pukul 00.00 kami berangkat kembali. Agni merencanakan untuk tiba di Papuma sebelum matahari terbit. Saya sih ngikut aja.

Akhirnya kami tiba di perempatan menuju pantai Papuma, perempatan belok kanan lampu merah kedua setelah pom Bensin terakhir kami mengisi bensin. Entah dimana, yang pasti kami sudah berada di Jember. Kami lurus saja, tanpa belok, lurus menerjang angina malam, melewati beberapa masjid yang besar-besar, teman kami waktu itu hanya angina dan pepohonan yang diam menyapa dengan wajah yang datar. Oh ya, kami sempat kelewatan menuju Papuma, hanya saja harum pantai sudah terasa semenjak pohon kelapa kami lewati.

Minggu, 09 November 2014

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) Part 1

          11 Oktober 2014

Itulah tanggal kali pertama aku memposting status mengenai program yang kupikir menyenangkan. Awalnya bukan #OneDayOneTrip atau Place tetapi ‘One Day One Travel’, beberapa kawan berkomentar dengan segala kicauannya. Aku ingin bertemu dengan seorang kawan untuk mewujudkan sebuah kegiatan pariwisata buatan sendiri, yaitu Agni Santiaji Pradana. Aku mendapat inspirasi darinya, jadi pada waktu itu dia bersama seorang kawan, Okky Hardiansyah ke Jogjakarta, berdua, menggunakan sepeda motor dalam hanya sehari semalam, maksudnya berangkat jam 7 Malam, lalu pulang saat Magrib keesokannya!!!

Hal itu benar-benar gila dan luar biasa, berdua menempuh jarak ratusan kilometer hanya datang mampir terus pulang. Resikonya ya kalian tahu sendiri, capek dan pegal luar biasa tapi hal itu sangatlah ‘Wah’ Excited!! Aku terinspirasi darinya, oleh sebab itu aku ingin membicarakan keinginanku untuk pergi ke suatu tempat hanya dalam waktu sehari saja. Hal ini disebabkan karena pekerjaanku mulai senin hingga sabtu siang, Libur? Hanya hari Minggu saja. (Tidak mempunyai waktu banyak bukan?)

          16 Oktober 2014

Aku sms ke Agni untuk berdiskusi dengannya mengenai program buatanku itu, bagaimana menurutnya? Kemudian aku bilang untuk bersilaturahmi ke kosnya. Sesampainya disana, aku langsung mendiskusikan walau harus menunggu beberapa saat kedatangannya. Dia menjelaskan beberapa tempat mulai dari Bromo hingga Papuma sebagai test-have fun #OneDayOneTrip .
          
          “Piye la Papuma ae?” Tanya Agni
          
          “Budal tok,” Jawabku
          
          “Oke, Sabtu sore jam 4 awak dewe budal. 
            Moleh mene jam 1 awan,”

          “Siap, beres,”

Dia teringat dengan Okky yang berdomisili di Jember lalu menelponnya, katanya sih ingin balik ke Jember. Biar ada tempat tinggal gratis. Agni mengatakan bahwa Okky ‘Ya’ dan memperbolehkan kami berkunjung dirumahnya. Saat itu aku yakin bahwa hal itu adalah pertanda yang bagus. Selesai. Aku mohon pamit pulang menunggu hari Sabtu tanggal 18 Oktober 2014.
            
          17 Oktober 2014
            
Aku ingin menjelaskan bahwa #OneDayOneTrip atau #OneDayOnePlace adalah sebuah program refresing singkat. Dalam kurun satu bulan dapat melakukan perjalan hingga 2 kali seminggu atau sekali sebulan, pokoknya weekend harus ada perjalanan. Apa kalian tidak bosan weekend hanya dihabiskan di dalam kota saja? Seminggu di dalam kota, baik beraktivitas dan lain sebagainya hanya di dalam kota. Maka aku terinspirasi oleh teman yang berkunjung ke tempat hanya dalam waktu sehari semalam.

Perjalanan singkat ini memang menyesuaikan mereka yang beraktivitas padat. Tidak memiliki hari libur yang cukup banyak. Jadi tetap bisa refresing meski hanya dalam waktu sehari-semalam, walau resikonya memang membuat bokong dan badan cenat-cenut. Hal itu memang menjadi masalah kecil, tapi coba rasakan sensasinya untuk melakukan perjalanan entah kemana hanya dalam waktu sehari saja. Agar pikiran kita tetap dapat fresh dan tidak terkungkung hanya di dalam kota saja. Baik untuk kalangan 17+ saja….