6 Desember 2014
Hari itu adalah hari ujian, saya juga ada jadwal mengajar di tempat lain, mengajar siswa-siswi SMA. Saya bertemu dengan pak Syam di lorong, tepatnya di depan gerbang masuk untuk siswa-siswi SD dan SMP,
“Nak ndi? Ngkuq sido yo,” kata pak Syam
“Siap pak, tapi ini ada jadwal ngajar. Saya tak kesana dulu,”
“Oke, kumpul disini jam 4 yo,”
“Beres,”
Cukup jauh melangkah, pak Syam berteriak memanggil
“Woii.. Mas…,
Saya menoleh dan tersenyum saja dengan tingkah pak Syam memeragakan orang yang sedang menyetir mobil. Saya jawab sambil mengangkat jempol “Oke pak,”
*****
Di tempat les, saya sudah merasa ingin pulang saja, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib karena pukul 16.00 wib saya akan berangkat. Setidak ada waktu satu jam untuk tidur, istirahat. Kira-kira begitu. Dua murid saya (cewek), kupikir tidak akan mempersalahkan kalau jam dua selesai, sepertinya mereka juga tidak ada niatan untuk belajar. Ah, sudahlah. Ini adalah waktunya liburan. Hahaha.
Tepat pukul 14.30, ya habis ngobrol sana-sini sebentar aku meluncur pulang secepat kilat. Tepat pukul 15.15 wib, aku sudah menginjakkan kaki di rumah, istirahat beberapa menit kemudian mandi. Aku tidak ingin terlambat berangkat, karena seperti ceritanya, kita ingin ndaki di ijen pukul 02.00 Wib atau 03.00 Wib untuk dapat melihat blue fire.
Oleh karena itu, aku sms ke pak Samsul dimana posisinya, dia menjawab kalau dirinya sedang makan untuk mengisi energy. “Pak Hermanto juga di sekolah,” terangnya lewat balasan melalui What’s App. Ok, kupikir aku tidak terlambat.
aku sms “Saya tunggu di parkiran pak Sam,”
Lama kutunggu tidak ada balasan, mungkin lagi beres-beres, begitu pikirku. Kutunggu sampai lama, hingga tiba-tiba datang pak Farukh,
“Loh, ada apa pak?” aku bertanya. Heran juga.
“Ya, mau ke Ijen, diajak pak Samsul,” jawabnya
Seperti biasa, pak Farukh berbicara dengan nada seperti tokoh politik. Hahaha.
Kami lalu ngobrol sembari berjalan menuju ruang guru, tempat pak Samsul dan pak Herman berada. Ternyata pak Farukh juga ingin ikut, dia tanya ke pak Samsul apa sudah berangkat, ternyata belum karena menungguku. Jadilah, dia ikut, pesertanya bertambah satu. Ini akan ramai. Asyik.
*****
Akhirnya kami berangkat berenam, saya, pak Samsul, pak Hermanto, pak Farukh, mas Agus dan mas Bing. Pak Samsul mengatakan sebenarnya banyak yang ingin ikut, tapi mereka ada acara mendadak dan ada yang ingin ikut, tapi karena temannya ndak ikut sehingga dia juga memilih tidak ikut pergi. Sangat disayangkan.
Pukul 17.00 Wib perjalan akhirnya dimulai dan saya menyetir duluan. Dari Khadijah lalu lewat tol Gunung Sari lurus langsung menuju porong Sidoarjo, bertemu pertigaan setelah jembatan besar belok kiri. Lurus terus tanpa belok, masuk Pasuruan dan berturut-turut, probolinggo, situbondo dan akhirnya kami makan di Paiton sekitar pukul 11.00 Wib setelah 6 jam perjalan. Lama, karena perjalanan santai sembari menurunkan mas Agus di pertigaan probolinggo kalau ke kiri Lumajang dan lurus ke Banyuwangi (Ijen). Perjalanan kami lanjutkan, menyusuri jalan, ingin aku digantikan untuk menyetir namun disarankan oleh pak Samsul agar bergantian saja di tempat istirahat makan di sebelahnya Paiton.
Paiton kalian pasti tahu, sebuah pembangkit Listrik yang besar dan luas sekali, sekalipun malam dirinya tidak padam. Saya malam itu, sedikit takjub gemerlap lampu yang masih bersinar sekalipun malam, saya pun mencuri-curi pandangan untuk melihat keindahan Paiton. Sumpah, bagus banget. Akhirnya sampailah kami ditempat peristirahatan, makan dan selonjor untuk istirahat. Kami memesan makanan sesuai selera masing-masing. Lumayan hampir 45 menit kami istirahat ditemani oleh acara televise channel TvOne.
Perjalanan kami lanjutkan dan yang dibelakang setir mobil sekarang adalah sang ahli penguasa jalanan, Mr. Samsul. Ahli dibidang otomotif ini sangat nyaman, hampir sama jika sedang menaiki bus Lorena wushh… wushh.. tiga-empat mobil terlewati. Sempat juga kami melihat mobil travel yang tergesa-gesa “Ooo.. travel gendeng… nyetir e ngawur,”
“Hahaha…” aku sempat terbangun dari tidur
“Iku… gendeng travel e… ngawur meh ketabrak bus,”
Hari itu adalah hari ujian, saya juga ada jadwal mengajar di tempat lain, mengajar siswa-siswi SMA. Saya bertemu dengan pak Syam di lorong, tepatnya di depan gerbang masuk untuk siswa-siswi SD dan SMP,
“Nak ndi? Ngkuq sido yo,” kata pak Syam
“Siap pak, tapi ini ada jadwal ngajar. Saya tak kesana dulu,”
“Oke, kumpul disini jam 4 yo,”
“Beres,”
Cukup jauh melangkah, pak Syam berteriak memanggil
“Woii.. Mas…,
Saya menoleh dan tersenyum saja dengan tingkah pak Syam memeragakan orang yang sedang menyetir mobil. Saya jawab sambil mengangkat jempol “Oke pak,”
*****
Di tempat les, saya sudah merasa ingin pulang saja, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib karena pukul 16.00 wib saya akan berangkat. Setidak ada waktu satu jam untuk tidur, istirahat. Kira-kira begitu. Dua murid saya (cewek), kupikir tidak akan mempersalahkan kalau jam dua selesai, sepertinya mereka juga tidak ada niatan untuk belajar. Ah, sudahlah. Ini adalah waktunya liburan. Hahaha.
Tepat pukul 14.30, ya habis ngobrol sana-sini sebentar aku meluncur pulang secepat kilat. Tepat pukul 15.15 wib, aku sudah menginjakkan kaki di rumah, istirahat beberapa menit kemudian mandi. Aku tidak ingin terlambat berangkat, karena seperti ceritanya, kita ingin ndaki di ijen pukul 02.00 Wib atau 03.00 Wib untuk dapat melihat blue fire.
Oleh karena itu, aku sms ke pak Samsul dimana posisinya, dia menjawab kalau dirinya sedang makan untuk mengisi energy. “Pak Hermanto juga di sekolah,” terangnya lewat balasan melalui What’s App. Ok, kupikir aku tidak terlambat.
aku sms “Saya tunggu di parkiran pak Sam,”
Lama kutunggu tidak ada balasan, mungkin lagi beres-beres, begitu pikirku. Kutunggu sampai lama, hingga tiba-tiba datang pak Farukh,
“Loh, ada apa pak?” aku bertanya. Heran juga.
“Ya, mau ke Ijen, diajak pak Samsul,” jawabnya
Seperti biasa, pak Farukh berbicara dengan nada seperti tokoh politik. Hahaha.
Kami lalu ngobrol sembari berjalan menuju ruang guru, tempat pak Samsul dan pak Herman berada. Ternyata pak Farukh juga ingin ikut, dia tanya ke pak Samsul apa sudah berangkat, ternyata belum karena menungguku. Jadilah, dia ikut, pesertanya bertambah satu. Ini akan ramai. Asyik.
*****
Akhirnya kami berangkat berenam, saya, pak Samsul, pak Hermanto, pak Farukh, mas Agus dan mas Bing. Pak Samsul mengatakan sebenarnya banyak yang ingin ikut, tapi mereka ada acara mendadak dan ada yang ingin ikut, tapi karena temannya ndak ikut sehingga dia juga memilih tidak ikut pergi. Sangat disayangkan.
Pukul 17.00 Wib perjalan akhirnya dimulai dan saya menyetir duluan. Dari Khadijah lalu lewat tol Gunung Sari lurus langsung menuju porong Sidoarjo, bertemu pertigaan setelah jembatan besar belok kiri. Lurus terus tanpa belok, masuk Pasuruan dan berturut-turut, probolinggo, situbondo dan akhirnya kami makan di Paiton sekitar pukul 11.00 Wib setelah 6 jam perjalan. Lama, karena perjalanan santai sembari menurunkan mas Agus di pertigaan probolinggo kalau ke kiri Lumajang dan lurus ke Banyuwangi (Ijen). Perjalanan kami lanjutkan, menyusuri jalan, ingin aku digantikan untuk menyetir namun disarankan oleh pak Samsul agar bergantian saja di tempat istirahat makan di sebelahnya Paiton.
Paiton kalian pasti tahu, sebuah pembangkit Listrik yang besar dan luas sekali, sekalipun malam dirinya tidak padam. Saya malam itu, sedikit takjub gemerlap lampu yang masih bersinar sekalipun malam, saya pun mencuri-curi pandangan untuk melihat keindahan Paiton. Sumpah, bagus banget. Akhirnya sampailah kami ditempat peristirahatan, makan dan selonjor untuk istirahat. Kami memesan makanan sesuai selera masing-masing. Lumayan hampir 45 menit kami istirahat ditemani oleh acara televise channel TvOne.
Perjalanan kami lanjutkan dan yang dibelakang setir mobil sekarang adalah sang ahli penguasa jalanan, Mr. Samsul. Ahli dibidang otomotif ini sangat nyaman, hampir sama jika sedang menaiki bus Lorena wushh… wushh.. tiga-empat mobil terlewati. Sempat juga kami melihat mobil travel yang tergesa-gesa “Ooo.. travel gendeng… nyetir e ngawur,”
“Hahaha…” aku sempat terbangun dari tidur
“Iku… gendeng travel e… ngawur meh ketabrak bus,”
“Paling
y wes jadwal e kudu sampai ke Ketapang pak,”
“Iyo
bener, makane ugal-ugalan sampe meh disantap bus,”
Kembali aku tertidur, sambil tidur juga mendengar percakapan pak Samsul yang sedang bertanya dimana letak kawah Ijen. Mungkin dirinya lupa. Saya juga mendengar bahwa orang yang ditanyai itu dengan baik hati menuntun kemana arah menuju kawah Ijen. Akhirnya, orang tersebut pamit karena hanya bisa menuntun di jalan yang entah dimana, kami akhirnya melanjutkan sendiri.
Kami akhirnya sampai di jalan yang bergelombang alias rusak alias banyak jeglongan dan gelap gulita. Jalanan hanya disinari oleh lampu utama mobil kami. Oke, kami selama dalam perjalanan ditemani oleh lagu dari habib Syech dan Maher Zain,
Kembali aku tertidur, sambil tidur juga mendengar percakapan pak Samsul yang sedang bertanya dimana letak kawah Ijen. Mungkin dirinya lupa. Saya juga mendengar bahwa orang yang ditanyai itu dengan baik hati menuntun kemana arah menuju kawah Ijen. Akhirnya, orang tersebut pamit karena hanya bisa menuntun di jalan yang entah dimana, kami akhirnya melanjutkan sendiri.
Kami akhirnya sampai di jalan yang bergelombang alias rusak alias banyak jeglongan dan gelap gulita. Jalanan hanya disinari oleh lampu utama mobil kami. Oke, kami selama dalam perjalanan ditemani oleh lagu dari habib Syech dan Maher Zain,
“Piye disetel lagune Habib Syech, padang bulan,” kataku
“Ojo,
padang bulane ga ketok,” ujar pak Samsul
“Hahahaha,,,
padang bengi wes,” tukasku
Kami ngobrol kesana-kemari hingga saya tertidur kembali hingga tibanya mobil sampai diparkiran tempat wisata Kawah Ijen.
Kami ngobrol kesana-kemari hingga saya tertidur kembali hingga tibanya mobil sampai diparkiran tempat wisata Kawah Ijen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Opinion :