Rabu, 25 Juli 2012

Catatan Akhir Tahun Organisasi Himaforsta 2010 – 2011 : No Pain No Gain



Keceriaan natal telah berakhir, sekarang saatnya kebahagiaan menyambut datangnya tahun baru yang tinggal menunggu hitungan jam. Berbagai doa akan dipanjatkan untuk kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan di tahun sebelumnya dan kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan di tahun mendatang. Hal ini sudah merupakan tradisi bagi mereka yang mempercayai keberuntungan akan muncul maupun ada di tahun mendatang, begitu juga kami sebagai pengurus organisasi himaforsta akan merindunkan dan mengenang tentang apa yang telah kami jalani selama setahun ini. Banyak poin plus dan minus yang kami dapatkan sepanjang kegiatan yang telah dilakukan setahun ini, mulai dari seminar, kongres, lomba dan lain – lain membuat kami lupa betapa singkatnya kegiatan tersebut. Namun waktu terus berjalan, hanya kenangan dan cerita – cerita menarik yang mampu membuat kami rindu akan kegiatan seperti itu.

Jika boleh dikatakan lupakan tentang resiko akan sebuah kegiatan, nikmati saja keceriaan yang sedang dijalani maka hal itu akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Kebersamaan kami selama setahun ini, membuat kami mengerti betapa susahnya menjalani sebuah kegiatan yang dapat mendatangkan orang banyak. Ketika diadakannya kegiatan alighment untuk memotivasi kami menjadi sebuah organisasi yang dapat berjalan dengan baik, kerja sama itulah yang terpenting dari kegiatan ini dan kami semakin tahu bahwa organisasi yang berjalan dengan baik adalah organisasi yang pemain didalamnya saling pengertian. 

Kegiatan tersebut awalnya sebuah kegiatan yang monoton dan kaku, namun kakak alumni yang telah lulus tersebut dapat membuat suasana menjadi cair. Hal inilah yang mendorong kami agar terbuka untuk menyampaikan sebuah aspirasi apa yang dapat membuat organisasi ini lebih maju. Sejalan dengan itu setelah selesainya kegiatan ini kami dihadapkan oleh kegiatan baru berupa LKTI, yang berisi bahwa kegiatan harus benar – benar berjalan sesuai jadwal tidak boleh lebih dari jadwal yang ditetapkan walau satu detik pun. Di sini kami benar – benar mengetahui ciri asli orang Indonesia yang suka bermain – main dengan alasan dan waktu, kemajuan bangsa ini tidak akan mencapai titik yang diharapkan apabila waktu yang digunakan dipermainkan.

Hal ini dapat kita lihat dalam contoh kecil dalam kehidupan kampus sehari – hari. Sudahkah kita datang tepat waktu? Hal ini yang ditekankan dalam seminar LKTI tersebut, jika kita selalu datang tepat waktu maka ilmu akan dengan sempurna dapat kita serap. Kegiatan tersebut berintikan bahwa kita benar – benar harus menghargai waktu, karena waktu meleset sedikit saja akan membuat segala hal yang kita rencanakan akan amburadul.

Kemudian kegiatan selanjutnya yakni membantu penataan koleksi di Perpustakaan SMPN 2 Krian. Kemampuan kami selama ini yang mempelajari perpustakaan dicoba untuk diterapkan pada penataan koleksi disana, kami melihat bahwa penataan koleksi mereka masih sangat amburadul. Baik penataan koleksi maupun pentaan tempat, didalamnya perlu untuk ditata oleh karena itu kami berupaya dengan waktu yang lumayan singkat kami harus perbaiki setidaknya sampai koleksi tersebut tertata dengan rapi.

Beberapa kegiatan sebelumnya membuat kami mengetahui hal – hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menjalani aktivitas organisasi kami banyak belajar dari situ. Khususnya ketika diadakannya kongres luar biasa yang anggotanya adalah orang – orang baru dan gress, para peserta yang datang dari ribuan kilometer dari sini membuat kami memaksimalkan kinerja untuk melayani mereka sebaik – baiknya. Berbagai dukungan dari teman – teman seorganisasi serta rasa antusias mereka membuat kegiatan ini berjalan dengan baik, dimulai dari penjemputan delegasi hingga mengantar mereka pulang ke tempatnya masing – masing memerlukan kerja keras yang ekstra.

Di sini kami dituntut untuk aktif, namun sayangnya keaktifan tersebut terlalu menggebu hingga banyak dari mereka yang jatuh sakit. Hal ini wajar karena merupakan pengalaman pertama kami menjamu teman – teman sejurusan dari luar kota maupun pulau, sehingga masih ada beberapa yang perlu dibenahi seperti menyebarkan informasi mengenai perekrutan anggota dan sosialisasi bantuan berupa dana serta kemepetan waktu dalam pencarian dana untuk kegiatan. 

Namun apa yang kami dapatkan waktu itu adalah sesuatu yang sungguh sangat luar biasa, teman, pengalaman dan kerja sama menjadi semakin kuat. Evaluasi yang kami lakukan untuk menambal apa yang kurang menjadikan kami semakin tahu dimana kekurangan kami, kerja keras kami yang dinilai mungkin banyak teman – teman lain yang mengatakan minus namun pencapaian ini merupakan yang terbaik yang pernah kami raih dan semoga di masa mendatang akan menjadi lebih baik.

Lalu kegiatan selanjutnya yakni dalam bidang olahraga dan dikemas dalam divisi minat dan bakat. Sebenarnya divisi ini ingin menampilkan sesuatu yang beda dengan acara pada tahun sebelumnya yakni futsal, namun dengan adanya berbagai perbaikan dan informasi dari teman apa yang mereka inginkan namun apa minat yang sama yakni futsal. Oleh sebab itu, diadakan futsal namun dengan sedikit inovasi yakni cewek yang tahun sebelumnya tidak diikutkan acara tahun ini cewek turut berpartisipasi, turut sertanya cewek ikut mempengaruhi acara tersebut. Tawa dan ceria bergabung menjadi satu, namun juga sangat disayangkan ada beberapa dari mereka tidak dapat ikut dengan alasan tertentu, begitu juga pegawai perpustakaan padahal mereka juga sangat menyukai kegiatan ini namun karena alasan umur dan kesiapan mereka menyatakan tidak dapat turut berpartisipasi.

Namun yang menjadi catatan penting disini adalah kerja keras untuk mencapai hasil yang diinginkan. Meminjam dari pepatah inggris ‘no pain no gain’ (tidak ada pencapaian tanpa rasa sakit) kita tahu bahwa kegiatan – kegiatan tersebut sangat menguras emosi, bila meledak sedikit saja maka kacau semuanya. Namun berbeda jika melakukannya dengan rasa senang dan tawa maka hal – hal seperti itu tidak akan mudah terjadi, sekali lagi berbagai kegiatan jika dapat digalang dengan bersama maka akan mudah dilaksanakan. Rasa sakit itu akan terbayar dengan rasa kepuasan setelah kegiatan – kegiatan tersebut berakhir, satu langkah pertama untuk langkah kemajuan berikutnya pertama dan memang terasa sakit namun demi kebaikan dan kemajuan selanjutnya.

Diharapkan bahwa pengurus Hima tahun depan akan lebih inovatif dan atraktif untuk membuat kejutan – kejutan yang menarik yang dapat membawa nama IIP tidak hanya mekar dikalangan internal saja melainkan di luar internal tersebut. Dan dibawah ini adalah berbagai bukti bahwa keceriaan di kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan oleh pengurus Hima berserta teman – teman Himaforsta.

Oleh
Akhmad Faishal

Jumat, 06 Juli 2012

Pengadaan Perpustakaan Berkebutuhan Khusus

Jawa Pos, Kolom Gagasan, 25 Mei 2012

Masyarakat yang berkebutuhan khusus sejatinya juga menginginkan mendapatkan informasi. Namun tidak adanya dukungan media yang dapat membantu mereka dalam pencarian informasi. Selama ini mereka hanya bisa mendapatkan informasi dengan membutuhkan bantuan orang lain, sekalipun dalam kondisi yang mustahil. Perpustakaan yang didirikan selama ini hanya mendukung pencarian informasi bagi mereka yang tidak ada kekurangan. Sangat naif sekali jika menginginkan bangsa ini maju tapi pemerataan tempat sumber informasi saja masih kurang.

Oleh karena itu perlu adanya pengadaan perpustakaan bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Selama ini kita menganggap mereka hanya sebagai beban dalam sebuah kehidupan, kesalahan pemikiran ini ditepis oleh mereka dengan prestasi – prestasinya. Perpustakaan ini juga sebagai tempat untuk mendukung berbagai informasi yang dapat menunjang kemampuan mereka dalam hal meraih prestasi.

Misalnya saja koleksi yang terdiri atas buku – buku yang bertuliskan huruf braile. Dengan adanya koleksi seperti ini, mereka yang tidak dapat melihat (buta) mampu melakukan hal sama dengan mereka yang normal. Hal ini juga memberi mereka kesetaraan dalam pencarian informasi, mereka juga dapat tenggelam dalam lautan informasi, kemudian juga dapat mendapatkan inspirasi dari membaca. Sekalipun buku tersebut bertuliskan huruf braile.

Pemerintah sebaiknya juga mendukung adanya pemerataan media baca bagi masyarakat khusus ini. Tidak dapat dipungkiri, akan keluar hasil dari inspirasi mereka yang dapat membangun Republik ini menjadi lebih maju lagi. Bukankah saling membantu akan dapat membangun negeri ini menjadi lebih baik lagi, lebih maju lagi. Oleh karena itu sediakan Perpustakaan Khusus bagi mereka, mereka juga tempat untuk membaca dan berinspirasi.

Senin, 02 Juli 2012

Pembuatan Film Wayang 3D

Jawa Pos, Kolom Gagasan, 20 April 2012

Budaya wayang sekarang semakin tergerus ditelan zaman, hanya sedikit generasi muda yang terjun ke dunia perwayangan. Oleh karena itu, demi kelangsungan budaya yang sudah ada sejak zaman walisongo lebih baik dunia perfilman indonesia mengangkat tema wayang untuk difilmkan. Namun tidak dalam bentuk 2D melainkan 3D guna menarik minat penonton yang semakin menginginkan sesuatu hal yang lain selain film yang bergenre horor dan sex. Secara belum ada satupun dari semua film yang ditayangkan dalam film layar lebar mengangkat tema budaya, hal ini ironis sekali karena para pembuat film tidak menayangkan film bertema budaya, khususnya wayang.

Padahal wayang sudah dikenal dunia, namun kita belum ada satupun yang membuat film bertema wayang. Di indonesia pun tidak kekurangan orang – orang yang ahli dalam bidang design grafis, yang mampu membuat benda dalam bentuk 2D menjadi 3D. Oleh karena itu, ini merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan dunia perwayangan dan seharusnya ada dorongan dari menteri pendidikan dan kebudayaan untuk benar – benar menyelamatkannya. Anda perlu tahu bahwa selama ini museum khusus wayang sangat jarang di kunjungi oleh masyarakat, karena mereka belum tahu bagaimana bentuk wayang tersebut. Ini dilakukan guna membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap warisan dunia yang Cuma ada di Indonesia dan kita harus melestarikannya. Sebagaimana yang sering dikatakan ‘Untuk melestarikannya, kalau bukan kita siapa lagi?’ atau ‘Kalau bukan sekarang kapan lagi?’.

oleh
Akhmad Faishal

Minggu, 01 Juli 2012

Hari Naik Angkutan Umum

Jawa Pos, Kolom Gagasan, 23 Juli 2011

Kian hari malah kian padat kendaraan yang menggunakan jalan umum, setiap orang menggunakan satu kendaraan pribadi. Dapat dibayangkan bagaimana kemacetan yang akan terjadi, akn menjadi kemacetan yang superpadat umumnya di hari senin yang merupakan hari dimana semua masyarakat turun ke jalan untuk bekerja dan melakukan aktivitasnya. Nah ada solusi untuk dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang sudah terlalu over tersebut yang dapat dilakukan oleh pemerintah, yakni dengan membuat Hari Naik Angkot, hari dimana semua masyarakat tanpa terkecuali yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi untuk aktivitasnya maupun kendaraan dari kantor untuk beralih menggunakan transportasi umum atau biasa disebut angkot.

Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi kemacetan serta melanggengkan jalan yang superpadat akan kendaraan. Juga yang terpenting untuk menghemat pengeluaran BBM, sepertinya kita tidak sadar bahwa persediaan BBM kita berkurang secara drastis, karena sebagian besar BBM digunakan untuk kendaraan. Untuk itu hari naik angkutan umum juga membuat BBM tidak hanya dipakai untuk 10 liter 10 orang melainkan 10 liter untuk 20 orang dalam waktu yang bersamaan, juga akan membuat angkutan umum tersebut ramai penumpang. Hari naik angkutan umum juga akan menghilangkan sifat egois dan gengsi masyarakat yang semuanya dapat dilakukan oleh diri sendiri, melainkan juga akan menumbuhkan rasa social terhadap sesame penduduk RI.

Hari naik angkutan umum dapat dilakukan 2 kali seminggu, bergantung kebijakan pemerintah apabila idea tau gagasan ini diterima, sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya pengehematan terhadap SDA yang tidak dapat diperbarui ini (BBM). Sudah sepatutnya kita mempunyai sikap hemat di negeri yang sudah memborok dan tidak karuruan ini.

oleh
Akhmad Faishal

Gelar Bapak Pencitraan

Jawa Pos, Kolom Gagasan, 15 Agustus 2010

SBY tidak sepantasnya memperoleh gelar Bapak Kesejahteraan karena masih banyak rakyat yang belum tercapai kesejahteraan. Untuk itu SBY sepantasnya mendapatkan gelar Bapak Pencitraan karena beliaulah yang pertama kali melakukan politik pencitraan terhadap rakyat. Sampai – sampai kapolri Jendral BHD melakukan hal serupa, agar kepolisian tidak menuai cercaan kritik negatif ke lembaga tersebut. Banyak kalangan yang mengkritik SBY sekarang tidak mampu membuat rakyat puas, banyak sekali yang dirugikan. Megawati, orang yang paling depan mengkritik SBY, karena dinilai tidak tegas dan melakukan aksi politik balas budi. Akibatnya, banyak menteri yang tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni dibidangnya melakukan tindakan sembrono yang menyebabkan rapornya merah, setelah itu jalan terakhir di reshuffle.

oleh
Akhmad Faishal