Jumat, 15 Agustus 2014

Menghilangkan Budaya Menghafal

Jawapos, Kolom Gagasan 21/7/2014

Saat sekolah baik dari TK hingga Universitas siapa yang tidak pernah tidak menghafal? Sebagai siswa maupun mahasiswa pernah dan bahkan selalu melakukannya. Apalagi guru memerintahkan muridnya untuk menghafal sebuah rumus tertentu dan lain sebagainya, maka murid langsung melakukannya. Padahal itu adalah tindakan belajar yang salah, karena tidak ada dalam kitab suci untuk melakukannya dan yang ada hanya Iqra’ (membaca). Hafalan hanya membebani pikiran, hafal bukanlah ingat karena ingat adalah menyimpan data didalam otak yang ditemukan kembali. Berbeda dengan hafal yang mengharuskan para murid untuk tahu hanya dengan membaca sekilas tanpa melihat buku.
            Dalam pembelajaran sekolah sebaiknya guru memberikan perhatian yang lebih dalam hal membaca bila dalam bidang sastra atau yang berhubungan dengan analisis. Apabila hitung-hitungan rumus lebih baik sering dilakukan latihan karena menghafal rumus adalah hal yang mustahil, karena dengan cepat hafalan itu akan hilang bila hanya satu dua kali membaca buku. Murid akan memiliki efek yang berbeda ketika dia selalu membaca buku, mereka akan tahu secara naluri dirinya sendiri. Inilah yang perlu ditekankan dalam hal mengajar sekolah, penulis sendiri juga mengalami bahwa menghafal itu tidak mudah karena merasa tertekan dengan waktu sempit.
            Jika belajar dalam bidang sastra bacalah novel, cerpen dan bila belajar IPS seperti geografi, sejarah dan sosiologi bacalah buku-buku yang membahas itu. Itu lebih baik daripada buku pelajaran sekolah, karena membaca tidak hanya cukup satu buku saja untuk mengetahui dunia ini. Mereka hanya perlu fokus dan membaca, hilangkan budaya menghafal munculkan budaya membaca itu lebih masuk akal karena daya ingat sama kemampuan mengingat berbeda.

oleh
Akhmad Faishal