Jawapos, Kolom Gagasan 21/7/2014
Saat sekolah baik dari TK hingga Universitas siapa yang
tidak pernah tidak menghafal? Sebagai siswa maupun mahasiswa pernah dan bahkan
selalu melakukannya. Apalagi guru memerintahkan muridnya untuk menghafal sebuah
rumus tertentu dan lain sebagainya, maka murid langsung melakukannya. Padahal
itu adalah tindakan belajar yang salah, karena tidak ada dalam kitab suci untuk
melakukannya dan yang ada hanya Iqra’
(membaca). Hafalan hanya membebani pikiran, hafal bukanlah ingat karena ingat
adalah menyimpan data didalam otak yang ditemukan kembali. Berbeda dengan hafal
yang mengharuskan para murid untuk tahu hanya dengan membaca sekilas tanpa
melihat buku.
Dalam pembelajaran sekolah sebaiknya guru memberikan
perhatian yang lebih dalam hal membaca bila dalam bidang sastra atau yang
berhubungan dengan analisis. Apabila hitung-hitungan rumus lebih baik sering
dilakukan latihan karena menghafal rumus adalah hal yang mustahil, karena
dengan cepat hafalan itu akan hilang bila hanya satu dua kali membaca buku.
Murid akan memiliki efek yang berbeda ketika dia selalu membaca buku, mereka
akan tahu secara naluri dirinya sendiri. Inilah yang perlu ditekankan dalam hal
mengajar sekolah, penulis sendiri juga mengalami bahwa menghafal itu tidak
mudah karena merasa tertekan dengan waktu sempit.
Jika belajar dalam bidang sastra bacalah novel, cerpen
dan bila belajar IPS seperti geografi, sejarah dan sosiologi bacalah buku-buku
yang membahas itu. Itu lebih baik daripada buku pelajaran sekolah, karena
membaca tidak hanya cukup satu buku saja untuk mengetahui dunia ini. Mereka
hanya perlu fokus dan membaca, hilangkan budaya menghafal munculkan budaya
membaca itu lebih masuk akal karena daya ingat sama kemampuan mengingat
berbeda.oleh
Akhmad Faishal