Kamis, 11 Desember 2014

#OneDayOnePlace (Papuma dan Piket 0) Part 2

18 Oktober

Hari kami berdua berangkat, jarum jam menunjukkan pukul 4. Sebenarnya, aku baru saja pulang sekitar jam setengah 3 karena diajak makan-makan oleh teman kantor di salah satu Mall Surabaya. Aku juga merasa tidak enak karena harus mengundurkan jadwal. Karena sudah kesepakatan. “Ngkuq ta kabari maneh yo. Soale sek dijak mangan e …Hehehe” aku sms ke Agni “Owalah yo gpp ntar kabari saja dan selamat berkencan,” begitu balasnya. Sialan… ‘kencan opo wong mangane bareng wong akeh’.. tapi pada akhirnya kami berdua berangkat tepat setengah 5 setelah mengisi bensin di Janti, kecamatan Waru. Kami dibekali oleh ibu dua botol Mizone, jaga-jaga dalam perjalanan.

Perjalanan pertama adalah keluar dari kabupaten Sidoarjo, didaerah Gedangan kemacetan terjadi cukup parah. Saya dan Agni akhirnya lewat by pass menuju arah malang, Agni lalu berhenti mengisi bensin. “Edo juga ada di Jember lek, mungkin kita bisa numpang tidur dirumahnya,”Ujarnya “Bagus, Sip Bro,”kataku. Beberapa jam sebelum berangkat, Agni mengatakan bahwa Okky ternyata sudah balik ke Surabaya, ada perasaan was-was ‘nanti kita istirahat dimana?’. “Yo, wes ni, pokok e budal,”ujarku lalu menggunakan jaket Unair Mengajar serupa dengannya dengan 3 jargon dibagian punggung. “Memberi Harapan, Menebar Inspirasi, Membangun Mimpi”.

Alhamdulillah, begitu magrib perjalanan kami sudah masuk ke arah Bangil menuju Pasuruan, memang belum masuk sih tapi hampir mendekati kabupaten Pasuruan. Dua jam perjalanan, pukul 20.00 Wib kami sudah melewati Pasuruan dan masuk ke arah Lumajang menuju Jember, kami tiba di bibir lumajang. Makan malam. Kami makan sate, walau satenya yah biasa banget, enak y ndak enak tapi ga enak ya bukannya ga enak. Kami habiskan 15 rb untuk seporsi 10 tusuk sate berikut 2 lontong.
            
Perjalanan pun kami lanjutkan dengan beberapa pemberhentian untuk Sholat. Cukup lama kami menelusuri jalan, malam-malam, kaki rasanya pegel dan ingin dipijat. Terkena hebusan dewi angin yang menerpa kami malam-malam, kurasa dia menyukai malam karena dewa matahari selalu mengganggu dengan sengat panasnya. Kadang kami terpisah dalam perjalanan, “Slow ae ni. Alon-alon. Bengi soale,” ujarku “Ok,” jawabnya singkat. Tapi tidak terasa kadang kita terpacu untuk cepat, sehingga terkadang Agni di depan dan Saya dibelakang, begitu juga tanpa sadar Agni kok tidak lewat-lewat ternyata dia sudah mendahului. Saya kok tidak melihatnya, tiba-tiba dia sudah ada didepan. “Aku nag pertigaan deket e kantor polisi,” begitu jawabnya ketika ku telepon saat tanpa sadar kami terpisah di alas Lumajang.

Masih di Lumajang pembaca, saya kira Lumajang ke Jember itu dekat namun ternyata jauh sekali. Waktu keluar dari Bangil dan Pasuruan itu kok cepat banget, tapi Lumajang ternyata jauh sekali untuk keluar dari wilayahnya. Saya duga, perjalanan ke luar dari kabupaten Lumajang ini melewati pinggirannya dan itu lumayan jauh. Sepertinya. Dan memang saya tak merasa bahwa kami benar-benar telah melewati Lumajang. Kami terus saja berpacu dan berpacu, menerobos tembok dewi angina di kala malam. Suatu ketika saya melihat layang-layang memancarkan sinar, hampir mirip lampion tapi layang-layang itu benar-benar dihiasi lampu kecil dipinggirnya. Entah ada baterai juga di layang-layang yang terbang di kala malam. Saya tidak tahu tapi bagus sekali. Pertama kalinya.

Akhirnya belokan terakhir, sebelum melewati rel kereta api kami disapa oleh sambutan tulisan selamat datang di kabupaten Jember. ALHAMDULILLAH…!!! Selamat tinggal Kabupaten Lumajang. Kami lalu maju beberapa meter dan menemukan Pom Bensin yang dapat saya katakan nikmat sekali, kami berhenti disana karena bensin sudah mulai menipis. Pukul 10.30 kami berhenti sejenak, membenarkan bokong-bokong yang sudah linu, meraup dengan air bagi wajah yang kering dan berminyak, pokoknya disegarkan dan dirileks-kan badan yang sudah tegang.
            
Pom Bensin ini kau tahu, mempunyai  air yang alirannya dari sungai (pegunungan) dan mengalir terus-menerus, dingin dan pancarannya deras. Asyik sekali, kelak besok saya mandi di pom Bensin ini, tidak begitu ramai cukup nyaman bagi tempat peristirahatan apabila menuju ke Jember. Menurut saya, ini adalah tempat peristirahatan terbaik. Beberapa orang yang melakukan perjalanan jauh juga berhenti dan Agni mengeluarkan Laptopnya… Suangarr...!!! pukul 00.00 kami berangkat kembali. Agni merencanakan untuk tiba di Papuma sebelum matahari terbit. Saya sih ngikut aja.

Akhirnya kami tiba di perempatan menuju pantai Papuma, perempatan belok kanan lampu merah kedua setelah pom Bensin terakhir kami mengisi bensin. Entah dimana, yang pasti kami sudah berada di Jember. Kami lurus saja, tanpa belok, lurus menerjang angina malam, melewati beberapa masjid yang besar-besar, teman kami waktu itu hanya angina dan pepohonan yang diam menyapa dengan wajah yang datar. Oh ya, kami sempat kelewatan menuju Papuma, hanya saja harum pantai sudah terasa semenjak pohon kelapa kami lewati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Opinion :