Fenomena perpustakaan pribadi muncul tidak lepas dari menurunnya kualitas dari perpustakaan umum, begitu pula dengan kemunculan perpustakaan komunitas atau khusus lainnya yang lepas dari jerat embel – embel pemerintah. Mereka mengelola sendiri, mulai dari sistem peminjaman, perawatan, pengadaan koleksi dan pengklasifikasian atau penomeran (P4). Tentu saja hal itu juga tidak lepas dari faktor kebiasaan membaca buku yang telah lama dia lakoni, ketika kebiasaan membaca buku terhalang oleh kualitas perpustakaan mulai dari perawatannya yang tidak baik, kenyamanan dan update buku juga sering dilihat oleh mereka yang hobi membaca. Daripada tidak nyaman membaca buku disitu mereka lebih baik membeli buku dari toko buku kemudian dibaca dirumah, hal yang berulang kali dijalani menyebabkan banyak buku.
Dalam hal itu ada yang dinamakan soul information sebuah jiwa yang haus akan informasi dalam artian dia memang selalu terangsang untuk membeli dan membaca buku. Hal ini tercipta dalam jangka waktu yang lama dan diasahnya dengan cara selalu membaca buku. Mereka semua waktu kecil, dewasa dan saat ini tidak lepas dari aktivitas membaca buku, buku menjadi komoditi utama dan itu dapat dilihat dari mereka yang sengaja menyisihkan uang untuk membeli buku. Mereka tertarik untuk membeli buku bukan karena mereka tertarik karena bukulah yang menarik mereka untuk didapatkan, hal inilah yang menyebabkan mengapa mereka mudahnya dan mengorbankan beberapa hal untuk membeli buku. Karena mereka ingin membaca buku yang telah memberikan ketertarikannya itu.
Mereka yang memiliki perpustakaan pribadi kebanyakan para akademisi yang memang suka sekali membaca buku. Mulai mahasiswa, dosen hingga pejabat pendidikan mempunyai banyak sekali buku, perpustakaan pribadi ibarat lampu kecil ditengah kegelapan pelosok negeri. Bahkan beberapa mengklaim mempunyai koleksi yang lebih lengkap, dalam bidangnya, sehingga mereka bangga sekali akan hal itu. Dilihat memang perpustakaan umum daerah atau kota dibawah naungan pemerintah jelas mengurusi banyak hal selain ketersediaan koleksi juga mengurusi hidup pegawainya hal ini membagi konsentrasi menjadi dua antara pegawai dan buku. Karena konsentrasi terpecah dan tidak bisa fokus keduanya, pemerintah jelas lebih mengutamakan kelayakan hidup pegawai daripada update buku, inilah yang kebanyakan penyuka aktivitas membaca buku kurang updatenya perpustakaan terhadap buku – buku baru. Selain itu mereka juga bersaing dengan toko buku sebagai salah satu sumber informasi juga dengan internet.
Perpustakaan pribadi juga dapat disebut sebagai sumber informasi karena banyaknya referensi yang dimiliki oleh pemiliknya. Banyaknya yang mendatanginya dan memperoleh sukses dari memanfaatkan perpustakaan pribadi juga salah satu yang menyebabkan banyak mendatangi daripada mendatangi perpustakaan umum daerah dan kota yang mungkin suasananya terlalu formal dan lain sebagainya. Dalam skripsi yang diusung oleh salah satu mahasiswa ITS, pelayanan dan kurangnya update menjadi fokus utama perpustakaan umum daerah maupun kota. Apalagi jika fenomena kemunculan perpustakaan pribadi menjadi salah satu berkah dan pihak pemerintah dapat saling bersinergi untuk saling melengkapi dalam hal koleksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Opinion :