‘Biarlah kumencoba untuk tinggalkan semua, dirimu dihatiku sudah terlalu lama…’ sebuah lagu yang menemaniku termenung sambil melihat foto – fotoku dengannya saat SMA dulu. Saat – saat aku bersama dengannya, namun sekarang telah menjadi sebuah kenangan.
****
Mataku tertuju pada seorang cewek yang sedang menari di lapangan tengah sekolahku, mereka adalah cheerleader andalan sekolah kami. Salah satu diantara mereka ada yang menarik perhatianku, wajahnya sih biasa saja namun dimataku dia merupakan cewek yang cantik dan manis dan perilaku baik adalah poin plus buatnya. Aku mengharap agar aku dapat memilikinya, wah indah nian hidup ini. Hahaha, aku tertawa kecil ketika melihatnya menari “hayo, kamu suka sama Intan ya Gung?” kata Rudi yang mengagetkanku “hah?!” aku kaget “sudah jangan pura – pura, aku tahu kok dari caramu memandangnya, hahaha,”kata rudi sok “sok tahu kamu, aku Cuma ngefans aja sama dia,”kataku mengelak “sial, dia tahu ae, tapi bener sih, aku memang… memang ada rasa sama dia,”kataku dalam hati.
Intan Aliana Hasna, cewek yang seminggu ini menarik perhatianku, memandangnya tak pernah membuatku bosan. Apa boleh buat aku harus meminta seseorang untuk mengenalkanku padanya, ya teman sekelasku Rudi Widodo cukup kupercaya untuk menjadi jembatan cintaku padanya “Rud, aku minta tolong dong, mintain nomornya si Intan,”kataku memohon “cie.. ciee beneran ne? aku betulkan, kamu suka sama dia, hahahagz,”katanya membuatku salah tingkah “zzz, bisa ga ?”kataku sedikit keras “okok, tenang aja sob, gue Bantu kok, ga usah sentiment gitu,”katanya lagi – lagi menggodaku “sip, hehehe,”kataku dengan tersenyum lega.
Sambil menunggu rudi aku duduk sendirian di kantin, berangan – angan jika aku dapat berjalan berdua dengannya. Gila, aku bermimpi yang bukan – bukan, dia merupakan cewek idaman setiap cowok di sekolah, ya team cheerleader memang menjadi salah satu kegiatan cewek yang paling diminati oleh banyak cewek di sekolahku, untuk masuk menjadi teamnya harus menjalani test yang ketat, wajah dan skill pun menjadi syarat utama. Tak heran, di team cheerleader tersebut banyak sekali cewek layaknya bidadari turun dari langit, sehingga banyak dari mereka menjadi idola bagi para cowok di sekolah tak terkecuali aku.
Tapi seperti biasa, mereka yang selalu menjadi sorotan murid – murid sekolah menjadi sedikit sombong, makan dan bergaul saja mereka selalu pilih – pilih. Namun diantara mereka, Intan tidak seperti itu, perilaku baiknya menjadikannya mudah disukai siapa saja sehingga banyak sekali yang mau berteman dengannya. Banyak teman, berarti banyak kenalan, banyak yang minta nomornya dan banyak yang mau menjadi pacarnya. Huh, aku menghela nafas, sainganku banyak, satu – satunya caraku yang minta tolong sama Rudi, teman sekaligus sahabatku selama 4 tahun, mulai dari kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMA selalu aku bersama bermain dan belajar. Memang sahabat sejatiku.
“Woi, di sini rupanya kamu, ini permintaanmu, nomornya si Intan, sulit banget minta aja, dihalang – halangi temannya, ckckck,”katanya sedikit kesal namun perlahan wajahnya kembali semringah “wah, terimah kasih banget rud,”kataku “yoi sob, o iya, tadi waktu aku mau minta nomor karena kamu, wajahnya sedikit merah malu menunduk, yah kupikir dia mungkin juga ada rasa sama kamu,”katanya sedikit serius “langsung kejar dan dapatkan,”tambahnya sedikit semangat “wah, bisa saja kamu, o iya kamu sendiri ga minta nomor salah satu dari mereka juga?”kataku selidik “yah, itu urusanku, nanti kamu juga tahu sendiri, hahahagz,”katanya merahasiakan “sial,”kataku kesal karena ada hal yang membuatku penasaran siapa yang disukainya
“hi, cewek cheers boleh kenalan ga?,”kataku lewat sms ke nomor Intan “ya boleh aja. Sapa ne?”katanya membalas semenit kemudian. “Wah, dia ternyata belum tidur padahal ini sudah jam 9 malam,”kataku kepada diri sendiri waktu tahu dia ternyata belum tidur, akhirnya aku lanjutkan bersms dengannya mulai perkenalan, hobi dan lain – lain sampai membahas apa aktivitas yang kita lakukan nanti. Aku tak menyangka dapat mengobrol dengannya secepatnya ini, kukira dia adalah orang yang acuh terhadap siapa saja yang sms dengannya yang tidak dikenalnya, namun ternya pemikiranku meleset jauh, dia orang yang asik buat ngobrol. Tepat pukul 11 malam, kita menghentikan sms karena besok kita ada upacara hari pendidikan, jadi besok jangan sampai kita telat.
Keesokannya, aku dan dia Cuma saling pandang saja, malu karena apabila tahu akan menjadi pembicaraan teman – teman di sekolah. Biasa anak sekolah memang suka heboh apabila ada murid yang berpacaran secara tak terduga, aku menyembunyikannya pertemananku dengannya waktu di sekolah, namun kita sepakat untuk bertemu waktu malam minggu nanti. Menunggu hari H tersebut aku dan dia berkomunikasi lewat telepon dan sms saja, dan waktu – waktu tertentu saat tahu dia les, aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat les tersebut tanpa ada yang tahu mengenai hubungan pertemanan kami, kecuali sahabatku sendiri Rudi. Sungguh menyenangkan.
Sabtu malam minggu yang kami tunggu tiba, aku dan dia pun janjian untuk bertemu di Gramedia. Dia sungguh anggun saat aku bertatap muka untuk pertama kalinya kami jalan bareng, berbalut kaos putih dengan kalung bawahan jeans ketan dan sepatu balet, tak mengira Intan yang sehari – harinya terlihat biasa di sekolah dapat berubah menakjubkan saat keluar bareng. Serasa dapat durian runtuh.
“yuk, kita jalan – jalan cari buku dulu,”kataku mengajaknya “yuk,”jawabnya sambil tersenyum. Wah, senyumnya mengacaukan hatiku, hahaha. Kami berjalan mulai dari gramed sampai nonton film di salah satu mall terbaik di kota kami. Aku pun merasakan harus secepatnya, mengatakan bahwa aku suka padanya, melihatnya dia manja dan cara berbicaranya dia memang ada rasa padaku. Naluri lelaki mengatakan itu. Pendekatan selama seminggu, lalu sehari mengajaknya jalan, tak ada salah mencobanya, “ya, coba saja,”pikirku
Jam 10 malam aku mengantarkannya pulang, namun sebelum pulang aku memegang tangannya, mengucapkan kata – kata sakti, tapi tiba – tiba terjadi sesuatu. Satpam penjaga perumahan melihat kami, dia berteriak bahwa aku akan melakukan sesuatu hal yang buruk kepada Intan, aku kaget, beberapa orang yang mendengarkan teriakanku buru – buru menghampirinya, tak terkecuali orang tuanya.
Dengan sikap sok kepahlawanan dan layaknya tokoh – tokoh besar yang ahli bernegosiasi, aku mengatakan pada mereka bahwa aku akan melakukan hal yang menjadikan masa depanku cerah. Tak mudah mendapatkan dukungan para orang tuanya juga masyarakat yang melihat dan mendengarku menjelaskan, maklum mereka masih mengkhwatirkan keadaan anaknya dan masih menganggap kami adalah remaja yang jiwanya masih labil, mereka takut dengan perilaku kami yang biasanya melewati batas.
Namun aku menjelaskan bahwa aku dan dia bersekolah di sekolah yang terpandang, juga masih memiliki orang tua yang masih mengasihi dan menyayangi kami. Dan “tolonglah, bapak – bapak aku ingin mengatakan sesuatu pada cewek yang aku sukai ini, mengenai boleh tidaknya itu terserah bapak, yang penting aku mendapat jawabannya sekarang dan tidak membuatku penasaran, apakah bapak – bapak dan ibu – ibu sekalian tidak pernah merasakan waktu muda dulu?”kataku tegas namun sedikit gemetar “wakwawak, walah anak – anak zaman sekarang, bisa saja membolak - balikkan omongan, ya sudah cepat katakana, aku pengen tidur ini,”kata seorang bapak yang merupakan tetangga dekat ayah Intan “baiklah nak, aku juga ingin dengar jawaban anakku ini,”kata ayahnya aku berpikir bahwa ayahnya adalah seorang yang demokratis hebat sekali biasanya ayah – ayah zaman sekarang memproteksi anaknya secara berlebihan. “Gimana, Intan di depan semua orang ini yang menjadi saksi, aku mengatakan bahwa aku suka sama kamu dan maukah kamu jadi pacarku?”kataku serius sambil memegang tangannya dan menunduk sambil memandangnya Intan yang dari terdiam terlihat merah warna wajahnya aku mengatakan kalimat tersebut, dia yang dari terdiam juga diam saat mengatakan jawabannya.
Dia menjawab dengan tersenyum sambil mengangguk, aku tersenyum lega. Orang – orang menepuk pundakku mengucapkan selamat dan ada sebuah celetukan “wah, akhirnya laku juga ya, Hahaha,”kata seorang bapak yang ada disitu “HAHAHA,” disambut tawa orang – orang yang ada disitu “sial,”kataku dalam hati. Aku tersenyum, melihatnya berjalan memasuki rumah, sebelum masuk di pintu dia melemparkan senyuman padaku. Aku diajak masuk oleh ayahnya untuk duduk diteras rumahnya “Siapa namamu nak?”kata ayahnya “Nama saya Agung Setiabudi, teman satu kelas Intan,”kataku mantab “kamu tahukan, kalau keyakinannya beda denganmu, tadi aku . hanya ingin melihatnya tersenyum saja, sudah lama dia tidak tersenyum pulas seperti itu, dia juga ingin mendapatkan pacar, tapi tidak ada yang sreg dengan hatinya, baru kali ini dia seperti itu, tapi ternyata dia mendapatkan cowok yang berbeda keyakinannya, tolong jangan kamu racuni anak saya dengan membelokkan keyakinannya, kamu boleh menganganggapnya pacar atau teman dekat tapi selebihnya tidak,”kata ayahnya menjelaskan panjang lebar. Hatiku sedih tidak menyangka ayahnya mengatakan seperti itu, tapi yang dikatakannya benar sekali. Saat ini aku ga boleh bimbang, aku sedang senang.
Setahun aku jalani seperti biasa orang berpacaran kebanyakan, seperti memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Ceritanya saat itu dia lagi ada kegiatan dan mau memintaku untuk menemaninya, ternyata dia marah dan mengatakan aku tak memperdulikannya, aku menganggapnya angin lalu saja, karena itu memang skenarionya. Waktu dia ada kegiatan yang berupa latian cheers dia terlihat bete, membuat teman – temannya menjauhinya, lalu melihat kondisinya sudah tepat aku datang dengan teman – teman membawa kue ulang tahun dan merayakannya, dia kaget bukan kepalang, sedih senang bercampur jadi satu. Aku tersenyum gembira, rencana berhasil. Hahaha
Waktu kelulusan adalah hal terberat yang aku harus jalani, rasa sayangku dan cintaku untuk tetap bersamanya kandas oleh tembok keyakinan. Orang tuaku dan dia saling mengetahui dan mengatakan tidak setuju, kami diharuskan berpisah karena tidak sejalan, kenangan bersamanya hilang sekajap, hal – hal yang kami harapkan dan cita – citakan bersama sirna. Dia bersama orang tuanya pindah entah kemana, sudah 3 tahun ini aku tidak dapat berkomunikasi dengannya lagi dan aku sendiri telah menjalani hubungan khusus dengan adik kelasku di kampus namanya Aisyah Sulistyowati, namun kenangan bersamanya tidak dapat kuhilangkan untuk selamanya. Aku berusaha untuk menghilangkan kenangan tersebut namun tidak bisa setiap aku melihat foto kenangan kami bersama saat ulang tahunnya.
***
Saat menikmati lagu kedua yang kuputar ulang sambil menikmati foto – foto tersebut, tiba – tiba lagu tersebut terhenti ditengah jalan, sebuah sms dengan nomor yang tak kukenal masuk. Kubuka lalu sms singkat tersebut kubaca, aku tersenyum. Sms singkat tersebut bertuliskan ‘Hi, Gmn kabarnya? Sibuk apa sekarang?’ Dan nama yang tertulis di sana adalah Intan Aliana Hasna. Aku tersenyum sambil terharu ‘kamu ternyata masih ingat sama aku’.
Oleh
Akhmad Faishal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Opinion :